Medan, 25 Oktober 2025
Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (USU) yang tergabung dalam Kelompok MKWK Intoleransi 9 sukses melaksanakan proyek pembelajaran berbasis komunitas bertema “Mewujudkan Generasi Pelajar Toleran melalui Sosialisasi Anti-Intoleransi” di SMP Sultan Iskandar Muda, Medan. Kegiatan ini melibatkan 20 mahasiswa lintas fakultas dan diikuti oleh 86 siswa kelas VII-1 dan VII-4. Program ini bertujuan memperkuat nilai toleransi di lingkungan sekolah serta mencegah berkembangnya perilaku intoleran di kalangan remaja.
1. Penguatan Karakter Pelajar melalui Edukasi Keberagaman
Pemilihan SMP Sultan Iskandar Muda sebagai lokasi proyek didasari keberagaman latar belakang siswanya yang dinilai ideal untuk penelitian dan edukasi mengenai toleransi dan intoleransi. Sekolah ini dikenal terbuka terhadap penguatan nilai kebhinekaan dan moderasi beragama, sehingga mendukung tujuan utama proyek.
Kegiatan diawali dengan ice breaking, perkenalan, dan penyampaian materi mengenai definisi toleransi, bentuk-bentuk intoleransi, dampak intoleransi, serta peran generasi muda dalam menciptakan lingkungan yang harmonis. Materi dibawakan secara komunikatif melalui diskusi interaktif, permainan edukatif, hingga sesi tanya jawab.
Salah satu pemateri memaparkan bahwa intoleransi bukan hanya berupa penolakan terhadap perbedaan, tetapi juga tindakan mengejek budaya, menutup diri dari lingkungan sosial, hingga mudah terprovokasi oleh berita bohong di media sosial. Temuan ini diperkuat oleh data angket, di mana 94,2% siswa memahami bahwa intoleransi dapat memicu perpecahan dan pertengkaran di masyarakat.
2. Metode Pembelajaran Berbasis Kolaborasi dan Partisipasi Aktif
Kegiatan dilaksanakan dalam dua kelompok kelas secara paralel. Para mahasiswa berperan sebagai moderator, pemateri, pengatur acara, serta dokumentator. Metode yang digunakan mengikuti prinsip pedagogi partisipatif, sebagaimana dianjurkan dalam panduan MKWK terkait inovasi pembelajaran berbasis proyek.
Aktivitas inti meliputi, penyampaian materi bertahap oleh dua pemateri, games edukatif untuk mengevaluasi pemahaman siswa, sesi tanya jawab, pengisian kuesioner sebagai instrumen penelitian, pemberian hadiah bagi siswa aktif, serta dokumentasi serta penyerahan plakat kepada pihak sekolah.
Data kuesioner menunjukkan hasil yang sangat kuat terkait pemahaman dan sikap siswa terhadap toleransi. Seluruh responden (100%) menyatakan bahwa toleransi memiliki hubungan langsung dengan terciptanya perdamaian dan kerukunan di lingkungan sekitar. Sebagian besar siswa juga memahami dampak negatif dari berita bohong dan ujaran kebencian, terlihat dari 95,3% responden yang mengaku menyadari bahayanya. Selain itu, 97,7% siswa setuju bahwa kegiatan bersama teman dari latar belakang berbeda dapat menumbuhkan sikap toleransi. Bahkan, seluruh siswa (100%) mengakui bahwa memberikan ucapan selamat hari raya kepada teman yang berbeda agama merupakan salah satu bentuk nyata dari sikap toleransi.

3. Dukungan Sekolah dan Dampak Program
Guru dan pihak sekolah menyambut kegiatan ini dengan positif. Mereka membantu menertibkan kelas, mendukung jalannya acara, dan mendorong siswa aktif berpartisipasi. Di akhir kegiatan, siswa menyampaikan kesan dan pesan, menunjukkan bahwa sosialisasi membuat mereka lebih sadar akan pentingnya menghargai keberagaman dan menolak sikap intoleran.
Menurut panduan berita MKWK, nilai dampak dan human interest menjadi unsur utama berita yang baik. Dalam konteks ini, kegiatan menunjukkan impact yang besar terhadap siswa, khususnya dalam memahami bahaya intoleransi dan memperkuat nilai Bhinneka Tunggal Ika.
4. Kutipan Narasumber
Ketua Kelompok MKWK Intoleransi 9, Suci Lestari Br Ginting, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak hanya bertujuan memberikan edukasi kepada siswa, tetapi juga membangun empati dan kemampuan komunikasi mahasiswa lintas fakultas.
“Kami ingin menanamkan kepada siswa bahwa perbedaan adalah kekuatan, bukan alasan untuk saling menjauh. Melalui sosialisasi ini, kami melihat siswa semakin memahami pentingnya toleransi dalam kehidupan sehari-hari.”
Sementara itu, salah satu guru SMP Sultan Iskandar Muda menyampaikan apresiasinya:
“Sosialisasi seperti ini sangat dibutuhkan karena siswa sedang berada pada masa pembentukan karakter. Cara penyampaian mahasiswa sangat interaktif sehingga siswa mudah menerima materi.”
5. Rencana Keberlanjutan
Sesuai panduan MKWK mengenai lesson learned dan dampak jangka panjang, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi model untuk proyek serupa pada tahun berikutnya. Mahasiswa menilai bahwa kolaborasi lintas fakultas dan pendekatan partisipatif adalah kunci keberhasilan program.
Program ini juga sejalan dengan visi USU dalam memperkuat peran perguruan tinggi sebagai agen pembangunan sosial dan pendidikan karakter melalui pembelajaran berbasis proyek.
Tulisan ini merupakan publikasi Kelompok Proyek MKWK Intoleransi 9 USU dalam kegiatan sosialisasi yang didampingi oleh Mentor: Safrida Angelita S dan Dosen Fasilitator: Dr. Drs. Hariadi Susilo, M.Si
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































