Pidie Jaya-, Pada momentum Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80 yang jatuh pada 3 Januari 2026 dengan tema “Umat Rukun dan Sinergi, Indonesia Damai dan Maju”, saya sebagai guru Bimbingan dan Konseling merasa terpanggil untuk merefleksikan peran strategis yang kita emban dalam membentuk karakter generasi masa depan. Selama delapan dekade, Kementerian Agama telah menjadi pilar penting dalam menjaga harmoni keberagaman bangsa ini, dan sebagai pendidik yang berada di garda terdepan dalam pembinaan mental dan spiritual peserta didik, kita memiliki tanggung jawab besar untuk melanjutkan estafet mulia ini. Di ruang konseling yang sederhana, kita tidak hanya mendengarkan keluh kesah siswa, tetapi juga menanamkan benih-benih toleransi, empati, dan cinta damai yang akan tumbuh menjadi pohon besar kerukunan di masa mendatang.
Tema “Umat Rukun dan Sinergi” mengingatkan kita bahwa kerukunan tidak lahir secara otomatis, melainkan harus dirawat dan ditumbuhkan sejak dini melalui pendidikan karakter yang holistik. Sebagai guru BK, kita memiliki kesempatan emas untuk menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai religiusitas dengan realitas kehidupan sosial siswa. Setiap sesi konseling adalah ruang dialog di mana kita dapat mengajarkan bahwa perbedaan bukanlah ancaman, melainkan anugerah yang memperkaya. Ketika seorang siswa datang dengan konflik antar teman, kita tidak hanya menyelesaikan masalahnya secara teknis, tetapi juga mengajarkan bagaimana menghargai perspektif orang lain, bagaimana memaafkan, dan bagaimana membangun komunikasi yang santun—nilai-nilai yang menjadi fondasi kerukunan umat. Di sinilah peran kita menjadi sangat vital: menjadi agen perdamaian yang bekerja di level paling fundamental, yaitu hati dan pikiran generasi muda.
Sinergi yang menjadi kata kunci dalam tema tahun ini mengajak kita untuk keluar dari zona nyaman dan membangun kolaborasi yang lebih kuat dengan seluruh elemen pendidikan. Guru BK tidak bisa bekerja sendirian dalam misi besar ini. Kita perlu bersinergi dengan guru mata pelajaran, wali kelas, orang tua, tokoh agama, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang kondusif bagi tumbuhnya karakter positif. Saya bermimpi suatu hari nanti, setiap sekolah di bawah naungan Kementerian Agama memiliki program bimbingan konseling yang terintegrasi dengan nilai-nilai keagamaan dan kearifan lokal, di mana siswa tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga matang secara emosional dan spiritual. Untuk mewujudkan mimpi ini, kita memerlukan dukungan kebijakan yang lebih baik, fasilitas yang memadai, dan pengakuan terhadap profesi konselor sebagai profesi yang strategis dalam pembangunan karakter bangsa.
Sebagai guru BK yang bertugas di Pidie Jaya, Aceh, saya merasakan langsung bagaimana nilai-nilai Islam dan budaya lokal menjadi modal sosial yang luar biasa dalam membimbing siswa. Aceh dengan Syariat Islamnya memiliki keunikan tersendiri dalam pendekatan pendidikan karakter. Namun, tantangannya adalah bagaimana kita mengajarkan keteguhan dalam beragama sambil tetap menumbuhkan sikap terbuka dan toleran terhadap keberagaman yang ada di Indonesia. Inilah seni sesungguhnya dalam bimbingan konseling: membantu siswa menemukan identitas religiusnya yang kuat tanpa merasa superior terhadap yang lain, mengajarkan kebanggaan terhadap budaya lokal tanpa terjebak dalam eksklusivisme. Ketika siswa kami dapat menjadi Muslim yang taat sekaligus warga negara yang menghargai keberagaman, maka kita telah berhasil mewujudkan esensi dari tema “Umat Rukun dan Sinergi” dalam kehidupan nyata.
Indonesia yang damai dan maju adalah cita-cita yang tidak akan pernah tercapai tanpa generasi yang sehat mental dan spiritualnya. Di era digital ini, siswa menghadapi tantangan yang jauh lebih kompleks dibanding generasi sebelumnya: tekanan akademik, krisis identitas, pengaruh media sosial, dan berbagai masalah psikososial lainnya. Sebagai guru BK, kita adalah garda terdepan yang menangkap sinyal-sinyal awal ketika seorang siswa mulai mengalami masalah. Kita adalah telinga yang mendengar tanpa menghakimi, tangan yang mengulurkan pertolongan tanpa pamrih, dan hati yang memahami tanpa menyalahkan. Setiap siswa yang berhasil kita bantu untuk bangkit dari keterpurukannya, setiap konflik yang berhasil kita mediasi dengan damai, setiap jiwa yang berhasil kita selamatkan dari jalan yang salah—semua itu adalah kontribusi nyata kita terhadap Indonesia yang damai dan maju. Karena negara yang maju bukan hanya dibangun oleh ekonomi yang kuat, tetapi juga oleh warga negara yang memiliki kesehatan mental dan spiritual yang baik.
Harapan saya di Hari Amal Bakti ke-80 ini adalah agar profesi guru Bimbingan dan Konseling mendapat apresiasi dan dukungan yang lebih besar dari Kementerian Agama. Kita memerlukan pelatihan yang berkelanjutan untuk menghadapi tantangan zaman yang terus berubah, rasio konselor dan siswa yang lebih ideal agar layanan dapat lebih optimal, serta ruang konseling yang nyaman dan menjamin privasi siswa. Lebih dari itu, saya berharap ada pengakuan bahwa pekerjaan kita bukan sekadar administratif, tetapi merupakan jihad di bidang pendidikan yang memerlukan dedikasi, empati, dan kesabaran luar biasa. Ketika seorang siswa yang tadinya broken home berhasil meraih prestasi, ketika siswa yang tadinya bermasalah menjadi pribadi yang positif, ketika siswa yang tadinya putus asa menemukan kembali makna hidupnya—semua keberhasilan itu adalah bukti bahwa investasi pada layanan bimbingan konseling adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa.
Akhir kata, sebagai penutup refleksi ini, saya ingin mengajak seluruh guru Bimbingan dan Konseling di seluruh Indonesia, khususnya yang bernaung di bawah Kementerian Agama, untuk terus semangat menjalankan tugas mulia kita. Jangan pernah lelah menjadi pelita bagi siswa-siswa kita yang sedang mencari jalan, jangan pernah berhenti menanamkan nilai-nilai kebaikan di hati mereka, dan jangan pernah meragukan bahwa pekerjaan kita sangat berarti. Mari kita jadikan momentum Hari Amal Bakti ke-80 ini sebagai titik balik untuk meningkatkan kualitas layanan kita, memperkuat sinergi dengan berbagai pihak, dan memperbarui komitmen kita untuk berkontribusi nyata dalam mewujudkan Indonesia yang damai dan maju. Ingatlah selalu bahwa setiap siswa yang kita bimbing hari ini adalah pemimpin masa depan yang akan membawa bangsa ini menuju kejayaan. Umat rukun dan sinergi dimulai dari ruang konseling kita, dari setiap percakapan penuh empati yang kita lakukan, dan dari setiap hati yang berhasil kita sentuh dengan kasih sayang dan kebijaksanaan. Selamat Hari Amal Bakti Kementerian Agama ke-80, semoga dedikasi kita semua menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.
Oleh: Pebrianti Yuliarni, S.Sos.,Gr.
Guru Bimbingan dan Konseling SRT 26 Pidie Jaya, Aceh
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































