Mungkin beberapa dari kita tak asing dengan slogan “Indonesia Emas 2045” yang dimana itu merupakan salah satu mimpi besar negara kita, Presiden Joko Widodo dulu pernah menegaskan dalam membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang digelar di Grand Ballroom Minhaajurrosyidiin di Jakarta, bahwa pembangunan kualitas SDM adalah “kunci” untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Dan pada suatu artikel pernyataan dari Hidayat Nur Wahid saat menerima dan berdialog dengan delegasi Sekolah Tinggi Ekonomi Islam (STEI) SEBI Jakarta di kompleks parlemen bahwa kualitas generasi muda dan SDM adalah syarat utama untuk mewujudkan Indonesia Emas
2045 Tapi pertanyaannya apakah generasi kita sekarang bisa menciptakan SDM yang unggul dan berkualitas?
Mari kita belajar dengan melihat generasi muslim terdahulu, mereka memiliki ketangguhan dan kegigihan yang sangat tinggi, mereka rela mengorbankan waktu, harta, bahkan perjalanan yang jauh untuk menuntut ilmu , dengan keseriusan mereka dalam bidang pendidikan terus berkembang terutama pada masa Khalifah, yang membuat generasi terdahulu mempunyai pribadi yang unggul dan mereka menjadi orang orang yang mempunyai arti lebih.
Pada masa itu zakat dikelola dengan sangat baik, yang dimana kelebihan harta zakat itu dialokasikan untuk kebutuhan di sektor pendidikan seperti membangun sekolah, mendukung para ulama, dan bahkan memberikan fasilitas pendidikan u tuk anak yatim untuk menuntut ilmu, sehingga para pemuda dan pemudi bisa menuntut ilmu tanpa terhalangkan oleh faktor ekonomi, maka dari itu zakat menjadi salah satu pilar yang penting dan kokoh dalam sektor pendidikan pada masa itu.
Untuk merealisasikaan pengelolaan Zakat tersebut, ada beberapa masalah utama yang menghalangi terwujudnya Indonesia emas 2045, antara lain karena rendahnya literasi Masyarakat dalam melihat Zakat, kemudian masih rendahnya kepercayaan terhadap
Lembaga-lembaga amil zakat yng terkait dengan laporan penggunaan dana yang belum transparan.
Masalah utama Masyarakat yang enggan terhadap lembaga resmi ialah ketidaktahuan mereka terhadap dana yang akan dialokasikan kepada penerima manfaat. Maka hendaklah para lembaga langsung menampilkan secara langsung transparansi dari dana tersebut, misalkan “zakat sebesar XX telah disalurkan ke lembaga yatim piatu untuk membeli buku dll.” Kemudian memberikan narasi baru kepada investor zakat dari yang menjadikan itu kewajiban agama atau semacamnya, menjadi ajang dalam berkontribusi menuju Indonesia emas yang Dimana dana tersebut digunakan untuk kepentingan rakyat yang pada akhirnya manfaatpun juga dirasakan oleh negara.
Kesimpulannya Zakat memiliki peran yang sangat besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan, terutama bagi kaum marginal. Oleh karena itu, penguatan pengelolaan zakat dan perluasan program pendidikan berbasis beasiswa sangatlah penting untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas. Inilah fondasi utama bagi terwujudnya cita-cita besar Indonesia Emas 2045—sebuah bangsa yang maju melalui SDM yang terdidik, unggul, dan tidak meninggalkan kaum marginal.

Penulis: Rasya Bagas Cascarapati
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































