Membangun Sekolah Literasi : Apa, Mengapa, Bagaimana ?
“Literacy is at the heart of a student’s ability to learn and succed in school and beyond. It is essential we give every student from Prep to year 12 the best chance to master literacy so they can meet the challenges of 21st century life.” Jadi Literasi adalah inti atau jantungnya kemampuan siswa untuk belajar dan berhasil dalam sekolah dan dalam menghadapi tantangan Abad 21. Menurut Rod Welford, prioritas pendidikan Queensland adalah to enable all student to progress to a higher literacy standard, taking into account their diverse circumstances. Jadi, meskipun latar belakang siswa berbeda-beda pemerintah harus mengupayakan agar mereka semua mendapatkan tingkat literasi yang memadai untuk menghadapi tantangan Abad 21. Tanpa kemampuan literasi yang memadai, siswa tidak akan dapat menghadapi tantangan-tantangan abad 21. Intinya, kemampuan literasi adalah modal utama bagi generasi muda untuk memenangkan tantangan abad ke-21. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaa Queensland telah mengeluarkan sebuah buku “Literacy the key to learning: framework for Action” untuk digunakan sebagai acuan pendidikan mereka pada tahun 2006 – 2008 yang memuat rincian langkah-langkah praktis yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut. Mereka sadar bahwa pembelajaran literasi yang bermutu adalah kunci dari keberhasilan siswa di masa depan. Oleh sebab itu, semua guru, termasuk guru matematika dan sains dianggap sebagai guru literasi (teacher of literacy). Pembelajran literasi adalah pembelajaran yang integral. Untuk itu dibutuhkan pembelajaran literasi yang bermutu pada semua mata pelajaran.
Membaca merupakan kunci untuk mempelajari segala ilmu pengetahuan termasuk informasi dan petunjuk sehari-hari yang berdampak besar bagi kehidupan. Dengan memiliki kemampuan baca, seseorang dapat menjalani hidupnya dengan kualitas yang lebih baik. Terlebih lagi di era yang semakin modern seperti sekarang ini, kompetensi individu sangat diperlukan agar dapat bertahan hidup dengan baik. Persoalan menumbuhkan dan meningkatkan semangat baca serta menjadikan membaca sebagai budaya masyarakat Indonesia, merupakan salah satu persoalan yang sangat menarik untuk di bahas.
Data terbaru januari 2020, UNESCO menyebutkan Indonesia urutan kedua dari bawah soal literasi dunia, artinya minat baca masyarakat sangat rendah. Menurut data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1,000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca. Riset berbeda bertajuk World’s Most Literate Nations Ranked yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca, persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal, dari segi penilaian infrastuktur untuk mendukung membaca, peringkat Indonesia berada di atas negara-negara Eropa.
Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 9 provinsi yang masuk dalam aktivitas literasi sedang, 24 provinsi masuk dalam literasi rendah, dan satu provinsi masuk dalam kategori literasi sangat rendah. Sulsel sendiri duduk di kursi 11 dengan nilai indeks 38,82. Sementara itu untuk indeks dimensi budaya, di mana mencakup soal kebiasaan membaca, maka Sulsel juga berada di zona rendah dengan poin indeks 27,94. Beberapa hasil penelitian menunjukkan adanya korelasi yang positif antara minat baca dengan kebiasaan membaca dan kemampuan membaca. rendahnya minat baca masyarakat di Indonesia tentu menjadikan kebiasaan membaca yang rendah, dan kebiasaan membaca yang rendah akan berdampak pada kemampuan membaca yang pastinya juga rendah.
Apa yang dilakukan oleh Sekolah Literasi
Di Jepang ada program atau gerakan yang bernama 20 Minutes Reading of Mother and Child. Gerakan atau program ini mengharuskan seorang ibu untuk mengajak anaknya membaca buku 20 menit sebelum tidur. Ini merupakan salah satu contoh dari upaya Jepang dalam meningkatkan budaya baca warganya.
Saat ini gerakan-gerakan membaca di sekolah sudah mulai diterapkan dengan program literasi membaca. Gerakan ini akan dimulai dengan menerapkan program membaca yang berkelanjutan (sustainable) baik di sekolah (TK, SD,SMP, SMA/K) maupun di Perguruan Tinggi (PTS dan PTN) maupun di masyarakat umum melakukan kegiatan literasi membaca. Gerakan ini adalah gerakan budaya bagipeningkatan mutu bangsa secara keseluruhan. Gerakan ini akan dilakukan di sekolah, rumah dan lingkungan.
Kegiatan ini dapat dimulai dengan menjadikan membaca sebagai budaya di sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah. Gerakan ini adalah Gerakan WAJIB BACA BUKU SUKARELA di sekolah Setiap hari minimal 15 menit. Gerakan ini dikenal dengan nama SUSTAINED SILENT READING (SSR). Meskipun wajib SSR ini termasuk bersifat Rekreatif dan Free Voluntary Reading.
Apa Program yang dilakukan?
Program Membaca Rutin di Sekolah
Program Membaca Rutin di Sekolah atau SSR (Sustained Silent Reading) adalah strategi intervensi membaca yang digunakan oleh negara-negara maju dalam membudayakan dan meningkatkan keterampilan siswa dalam membaca. Ini merupakan program yang sangat krusial untuk menjamin terciptanya kebiasaan dan budaya membaca siswa.
Tantangan Membaca
Tantangan membaca adalah sebuah program untuk menantang seseorang membaca sejumlah buku tertentu sejumlah halaman. Di sekolah setiap siswa ditantang utnuk membaca sejumlah buku dalam waktu tertentu. Program ini bertujuan menciptakan anak-anak yang suka membaca dan melakukan kegiatan membaca sebagai kegiatan sehari-hari. Agar mereka menjadi pembaca seumur hidup (Reader for Life).
Seminar dan Workshop tentang Membaca
Kegiatan ini harus dilaksanakan secara rutin di sekolah yang mengikuti program ini. Sekolah gudang literasi harus disosialisasikan ke peserta didik dengan mengundang para pembicara dan para praktisi literasi. Peserta adalah seluruh peserta didik disekolah tersebut untuuk menggali lebih dalam peminatan dalam hal literasi.
One Child One Book (OCOB)
OCOB adalah program yang dirancang untuk meningkatkan jumlah dan jenis buku bacaan di sekolah. Program ini dirancang agar setiap siswa di sekolah memiliki paling sedikitnya satu buku untuk dibaca, baik di rumah maupun di sekolah. Dalam Program ini, sekolah diminta untuk mengimbangi pemberian buku dari donor dengan meminta partisipasi dari orang tua untuk menyumbangkan satu buku untuk setiap anaknya yang bersekolah.
Reading Contest (Speed/ Comprehension Reading)
Reading contest adalah Program untuk meningkatkan motivasi siswa dalam membaca. Kontes atau lomba yang akan dilakukan di setiap sekolah yang terlibat dalam program A Reading School ini, umpamanya : Reading Comprehension Contest dan Speed Reading. Akan ada tim ahli yang akan menyusun materi dan menjadi pelaksana Reading Contest di setiap sekolah. Pemenang dari kontes ini akan mendapatkan award berupa buku-buku bacaan.
Meet the Author (s)
Program ini dirancang untuk meningkatkan minat siswa untuk membaca buku dari penulis atau pengarang tertentu. Sekolah akan mendatangkan satu atau beberapa penulis buku tertentu untuk mengadakan acara “Jumpa Fans” dan diskusi atau bedah buku tentang buku dari penulis tersebut.
Reading Award
Yaitu pemberian penghargaan kepada individu (siswa atau guru) yang dianggap telah memiliki kontribusi dan peranan penting dalam memajukan pembudayaan baca di sekolah. Reading Award diberikan setahun sekali bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional. Pemenang award, selain memperoleh sertifikat juga diberikan hadiah. Harapannya, uang tersebut dapat mengembangkan minat beli buku dan minat baca untuk pengembangan literasi pribadi atau teman sebaya.
Story Telling Competition
Serupa dengan Reading Contest, kegiatan ini berupa lomba bagi siswa untuk menjadi “Story Teller”. Pemenang akan mendapatkan hadiah berupa buku-buku bacaan dan penghargaan dalam bentuk lain.
Share a Story
Share a Story adalah program kegiatan yang mewajibkan setiap siswa untuk menceritakan suatu cerita yang dipilih oleh mereka masing-masing kepada orang-orang di sekitarnya. Kegiatan ini bertujuan mendorong setiap siswa agar menjadi a Story Teller.
Let’s Write Our Own Story
Let’s Write Our Own Story adalah program kegiatan untuk mendidik setiap siswa agar dapat menjadi penulis dengan mengajarkan mereka untuk menuliskan ide-ide mereka dalam bentuk karya prosa.
Penutup
Demikian beberapa ide untuk lebih mengerakkan budaya literasi di sekolah. Semoga upaya ini dapat menjadikan Sekolah Literasi yang menjadikan peserta didik meningkatkan berbudaya membaca dan menulis setara dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Pada akhirnya, gerakan ini diharapkan dapat meningkatkan mutu bangsa secara keseluruhan.
Oleh A Ernest Nugroho, M.Pd.
Guru Penggerak Literasi
DAFTAR PUSTAKA
http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah/13/11/02/mvmvq4-perpunas-minat-baca-masyarakat-indonesia-masih-rendah
https://webcapp.ccsu.edu/?news=1767&data
https://worldpopulationreview.com/country-rankings/literacy-rate-by-country
https://www.laduni.id/rssaswaja/read/52355/apa-itu-literasi.html
Kamah, Idris,dkk. 2002. Pedoman Pembinaan Minat Baca. Jakarta:
Perpustakaan
Laksmi, 2007. Tinjauan Kultural Terhadap Kepustakawanan: inspirasi dari karya Umberto Eco. Jakarta: Sagung Seto, 2007
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































