Garut, 27 Februari 2026 – Menanamkan nilai kepedulian dan keikhlasan berbagi kepada anak-anak bukanlah hal yang bisa dilakukan secara instan. Dibutuhkan pembiasaan yang terus menerus agar nilai tersebut tertanam kuat dalam diri mereka. Hal inilah yang menjadi dasar lahirnya Budaya Cinta Infaq di MIS Ar-Raudhotun Nur, sebuah program pembiasaan yang mengajarkan siswa untuk gemar berbagi sejak usia dini.
Budaya Cinta Infaq merupakan salah satu program unggulan madrasah yang bertujuan memberikan edukasi kepada siswa bahwa setiap rezeki yang disisihkan untuk kepentingan agama dan sesama tidak akan pernah berkurang. Sebaliknya, rezeki yang diinfaqkan justru akan mendapatkan keberkahan dan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Nilai inilah yang terus ditanamkan kepada seluruh siswa melalui pendekatan yang sederhana namun penuh makna.
Program ini dilaksanakan setiap hari sebagai bagian dari kegiatan pembiasaan di lingkungan madrasah. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyisihkan sebagian uang saku mereka secara sukarela tanpa adanya paksaan. Guru hanya berperan mengingatkan dan memberikan motivasi, sehingga siswa dapat berinfaq dengan kesadaran dan keikhlasan dari dalam diri mereka sendiri. Suasana penuh kehangatan terlihat setiap pagi ketika siswa dengan senang hati memasukkan sebagian uang mereka ke dalam kotak infaq yang telah disediakan. Nominal yang diberikan tidak menjadi ukuran utama, karena yang lebih penting adalah kebiasaan dan niat baik yang tumbuh dalam diri siswa.

Pencetus program Budaya Cinta Infaq, Susi Nuraisyah, S.Pd.I, menjelaskan bahwa program ini lahir dari keinginannya untuk menanamkan jiwa sosial yang tinggi kepada anak-anak sejak dini. Menurutnya, pendidikan karakter tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi harus diwujudkan dalam kebiasaan nyata yang dilakukan secara terus-menerus. Susi menegaskan bahwa tujuan utama dari program ini adalah membentuk generasi yang peduli terhadap sesama serta memiliki kepekaan sosial yang baik. “Melalui Budaya Cinta Infaq ini kami ingin menanamkan kepada anak-anak bahwa berbagi adalah bagian dari kehidupan seorang muslim. Kami ingin membangun pemahaman bahwa setiap rezeki yang disisihkan di jalan Allah tidak akan berkurang, justru akan dilipatgandakan keberkahannya,” ungkap Susi Nuraisyah.
Selain itu, Susi juga ingin mengubah stigma yang masih berkembang di masyarakat bahwa berinfaq akan menghabiskan harta. Susi berharap siswa dapat memahami sejak dini bahwa harta yang dibagikan justru akan membawa kebaikan yang lebih besar. Menurutnya, jika kebiasaan berinfaq sudah tertanam sejak kecil, maka ketika dewasa nanti mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang dermawan dan tidak ragu untuk membantu orang lain.
Budaya Cinta Infaq tidak hanya memberikan manfaat bagi penerimanya, tetapi juga menjadi sarana pendidikan karakter bagi para siswa. Melalui kegiatan ini, siswa belajar tentang keikhlasan, kepedulian, serta rasa syukur atas rezeki yang mereka miliki. Para guru di MIS Ar-Raudhotun Nur turut berperan aktif dalam menjaga keberlangsungan program ini. Selain mengingatkan siswa untuk berinfaq, guru juga sering memberikan nasihat tentang pentingnya berbagi serta kisah-kisah teladan yang dapat memotivasi siswa untuk semakin gemar bersedekah.
Melalui Budaya Cinta Infaq, MIS Ar-Raudhotun Nur berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki hati yang lembut dan penuh kepedulian terhadap sesama. Pembiasaan kecil yang dilakukan setiap hari ini diyakini akan memberikan dampak besar bagi pembentukan karakter siswa di masa depan. Budaya Cinta Infaq menjadi bukti nyata bahwa pendidikan karakter dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Dengan pembiasaan yang dilakukan secara konsisten dan penuh kesadaran, MIS Ar-Raudhotun Nur terus berupaya membentuk generasi yang mencintai kebaikan dan menjadikan berbagi sebagai bagian dari kehidupan mereka.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































