SINGKIL – Di tengah ancaman krisis iklim global yang kian nyata, sebuah langkah konkret lahir dari akar rumput Aceh Singkil. Komunitas Konservasi Alam Aceh Singkil (KOAS) sukses menggelar workshop bertajuk “Mengenali Isu Lingkungan dalam Perspektif Krisis Iklim” pada Rabu (21/1/2026).
Acara yang dipandu oleh pemateri ahli, Bapak Kadarudin, ini bukan sekadar diskusi seremonial. Workshop ini menjadi pemantik kesadaran kolektif mengenai posisi strategis Aceh Singkil dalam ekosistem global.
Dalam paparannya, Bapak Kadarudin menekankan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas yang sedang terjadi. Aceh Singkil, dengan kekayaan biodiversitasnya, berada di garis depan. Diskusi ini mengupas tuntas bagaimana pergeseran iklim berdampak langsung pada kelestarian flora dan fauna lokal yang menjadi identitas daerah.
Ketua KOAS 2026, Muhammad Husain, bersama pendiri KOAS, Dio Fahmizan S.T, menegaskan komitmen mereka untuk tidak berhenti di satu pertemuan. Kegiatan bertajuk “Dialog Mingguan” ini direncanakan akan bertransformasi menjadi agenda rutin setiap dua minggu sekali.

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang acara. Salah satu peserta menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, terutama peran pemerintah daerah.
”Kegiatan seperti inilah yang seharusnya menjadi sorotan utama pemerintah. Aceh Singkil memiliki kekayaan flora dan fauna luar biasa yang harus dilindungi. Inisiatif komunitas ini adalah fondasi penting untuk kebijakan konservasi yang lebih kuat,” ujar salah satu peserta workshop.
Secara analisis, langkah yang diambil KOAS menunjukkan pergeseran positif dalam gerakan lingkungan. Dengan mengadakan dialog rutin, KOAS sedang membangun “literasi ekologi” di tingkat tapak. Di daerah yang memiliki kawasan hutan dan lahan basah luas seperti Singkil, edukasi publik adalah kunci utama untuk mencegah eksploitasi alam yang berlebihan.
Kehadiran sosok pemuda dan tenaga ahli dalam struktur KOAS memberikan harapan baru bahwa isu lingkungan di Aceh Singkil tidak akan lagi dipandang sebelah mata, melainkan dikelola dengan pendekatan sains dan semangat gotong royong.
Pertemuan rutin dua mingguan mendatang diharapkan mampu merumuskan rekomendasi kebijakan yang bisa disodorkan kepada pemerintah, agar Aceh Singkil tetap menjadi rumah yang aman bagi harimau, gajah, orangutan, dan ribuan spesies lainnya di tengah gempuran krisis iklim.
Lokasi: T-RAZ, Jl. Bahari, Desa Pulo Sarok, Singkil.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































