Di tengah dinamika kehidupan kampus yang kerap terjebak pada rutinitas akademik formal, ruang-ruang diskusi alternatif menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar. Kampus seharusnya tidak hanya menjadi tempat transfer ilmu di dalam kelas, tetapi juga menjadi ruang hidup bagi pertumbuhan nalar kritis mahasiswa. Dalam konteks inilah, langkah yang dilakukan oleh Dewan Pengurus Komisariat DPK GMNI Universitas Buana Perjuangan menjadi relevan untuk kembali dihidupkan.
Melalui agenda lapak buku gratis yang diadakan di depan rektorat kampus, DPK GMNI menghadirkan ruang diskusi yang inklusif, terbuka, dan membumi. Inisiatif ini bukan sekadar aktivitas organisasi, melainkan bentuk konkret dalam membangun budaya literasi dan kesadaran intelektual di kalangan mahasiswa.
Lapak buku gratis ini memiliki makna lebih dari sekadar membagikan buku. Ia menjadi simbol upaya membuka akses pengetahuan seluas-luasnya, terutama bagi mahasiswa yang ingin memperkaya wawasan di luar kurikulum formal, mulai dari isu sosial, politik, hingga pemikiran kritis yang jarang disentuh di ruang kelas.
Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa agenda ini sempat terhenti karena keterbatasan sumber daya. Kondisi tersebut menjadi tantangan nyata yang membuat ruang diskusi ini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Terhentinya agenda ini menjadi sebuah kehilangan, karena ruang alternatif seperti ini justru menjadi napas bagi kehidupan intelektual mahasiswa.
Kini, semangat itu kembali dihidupkan. Lapak buku gratis akan mulai diagendakan kembali sebagai bentuk komitmen DPK GMNI untuk terus menjaga dan mengembangkan tradisi diskusi di lingkungan kampus. Proses ini tentu tidak instan dan membutuhkan persiapan yang matang.
Ketua DPK, Jeje Zaenudin, menyampaikan bahwa saat ini pihaknya tengah fokus mengumpulkan kembali sumber daya yang dibutuhkan. Ia menjelaskan bahwa para kader sedang disiapkan untuk menjadi panitia pelaksana, sekaligus sedang dilakukan pengumpulan berbagai buku yang sebelumnya belum dimiliki oleh DPK guna memperkaya referensi yang akan disediakan dalam lapak buku gratis tersebut.
Kehadiran lapak buku di depan rektorat juga membawa pesan bahwa mahasiswa harus aktif mengambil peran dalam membangun ekosistem intelektualnya sendiri. Dari ruang sederhana ini, percakapan dapat tumbuh, perdebatan dapat terjadi, dan kesadaran kritis dapat dibangun.
Oleh karena itu, agenda ini bukan hanya milik organisasi, tetapi milik seluruh mahasiswa. Partisipasi menjadi kunci agar ruang ini tetap hidup dan berkembang. Dengan keterlibatan bersama, lapak buku gratis dapat menjadi lebih dari sekadar tempat membaca. Ia dapat menjadi ruang gerakan intelektual yang nyata.
Nantikan kehadirannya kembali. Bagi kawan-kawan semua yang haus akan ilmu, yang rindu akan ruang diskusi, dan yang ingin memperluas cara pandang di luar batas ruang kelas, lapak buku gratis ini akan kembali hadir sebagai ruang belajar bersama
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer


























































