Di balik setiap tetes minyak jelantah yang dibuang ke selokan, terdapat ancaman degradasi lingkungan mulai dari penyumbatan drainase hingga pencemaran air tanah. Namun, di Desa Warugunung, Pacet, limbah cair ini tidak lagi dipandang sebagai beban ekologis, melainkan bahan baku ekonomi kreatif. Melalui penerapan ekonomi sirkular, masyarakat mentransformasikan residu dapur menjadi produk bernilai guna seperti sabun pel dan lilin aromaterapi. Inovasi teknologi tepat guna ini membuktikan bahwa manajemen limbah yang cerdas mampu menciptakan kemandirian finansial sekaligus menjaga kelestarian sanitasi desa secara berkelanjutan.
Nia Bonnavi melihat bahwa apa yang terjadi di Desa Warugunung bukan sekadar kegiatan daur ulang biasa, melainkan sebuah langkah cerdas untuk mengubah “masalah menjadi berkah”. Saya yakin bahwa ketika ibu-ibu PKK dan pelaku usaha lokal mampu menguasai teknologi sederhana untuk mengolah jelantah, mereka sebenarnya sedang memegang kunci kemandirian ekonomi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa limbah yang dulunya dibuang dan merusak saluran air, kini bisa menghemat pengeluaran rumah tangga melalui produksi sabun mandiri, bahkan berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan melalui lilin aromaterapi. Inilah esensi asli dari ekonomi sirkular yang ingin kami tekankan yaitu sebuah gerakan di mana limbah berhenti menjadi beban ekologis dan mulai bekerja sebagai mesin penggerak ekonomi kreatif di tingkat desa.
Selama ini, banyak dari kita yang acuh dan menganggap membuang minyak ke saluran air adalah hal yang sepele. Padahal, kami mengamati bahwa tumpukan lemak ini adalah “bom waktu” bagi sanitasi desa yang bisa menyumbat drainase dan mencemari air tanah. Dengan mengalihkan minyak jelantah dari lubang wastafel ke dalam reaktor pengolahan, kita tidak hanya membuat produk baru, tetapi sedang melakukan aksi penyelamatan ekosistem air yang dampaknya akan dirasakan oleh anak cucu kita nanti. Kami melihat potensi penghematan yang luar biasa bagi ibu-ibu PKK. Bayangkan, dengan modal limbah dan bahan kimia sederhana, warga bisa memproduksi sabun pel sendiri yang kualitasnya tidak kalah dengan produk bermerek di supermarket. Data di lapangan menunjukkan bahwa produksi mandiri ini mampu menekan pengeluaran belanja sabun hingga 40-60% per bulan. Bagi kami, ini adalah bentuk nyata dari ketahanan ekonomi keluarga yang dimulai dari langkah kecil namun konsisten. Kemudian merambah pada ide kreatif yang muncul setelah sabun pel yaitu inovasi menjadi lilin aromaterapi membuktikan bahwa limbah bisa “naik kelas”. Produk ini bukan lagi sekadar barang daur ulang, melainkan komoditas yang memiliki nilai estetika dan daya jual. Kami sangat mengapresiasi semangat para pelaku ekonomi lokal di Warugunung yang mulai melihat peluang ini. Dengan kemasan yang apik, limbah yang dulunya bau dan kotor kini berubah menjadi barang cantik yang diminati pasar, sekaligus menjadi bukti bahwa ekonomi kreatif bisa tumbuh subur meski dari bahan baku sisa.
Pada akhirnya, kami menyimpulkan bahwa limbah minyak jelantah tidak seharusnya berakhir di selokan dan mencemari lingkungan. Pengalaman dari Desa Warugunung telah membuktikan secara nyata bahwa dengan sedikit sentuhan kreativitas dan penguasaan teknologi sederhana, kita bisa membalikkan keadaan. Apa yang dulu dianggap sebagai kotoran yang menyumbat saluran air, kini di tangan ibu-ibu PKK dan para pelaku usaha lokal telah berubah menjadi “harta karun” yang membantu ekonomi keluarga. Saya meyakini bahwa langkah kecil ini adalah model masa depan bagi kemandirian desa-desa di Indonesia. Ekonomi sirkular bukan lagi hanya istilah yang tertulis di buku teks akademik, melainkan sebuah aksi nyata di dapur-dapur warga. Jika pengolahan minyak bekas ini bisa terus konsisten dilakukan, kita tidak hanya akan melihat desa yang lebih bersih dan sehat sanitasinya, tetapi juga masyarakat yang lebih berdaya secara finansial. Harapan kami, semangat dari Warugunung ini bisa menular ke wilayah lain, karena sudah saatnya kita berhenti mengeluh tentang limbah dan mulai mengubahnya menjadi solusi yang membawa berkah.
Desa Warugunung telah memberikan bukti nyata bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang konsisten. Memanfaatkan minyak jelantah bukan hanya soal urusan teknis mencampur bahan kimia, tetapi soal keberanian kita untuk mengubah kebiasaan lama yang merusak menjadi inovasi yang membawa manfaat. Kami sangat berharap semangat ibu-ibu PKK dan para pelaku usaha di Desa Warugunung ini tidak berhenti di sini, melainkan menjadi pemicu bagi desa-desa lain untuk mulai mandiri. Karena pada akhirnya, menjaga kelestarian alam dan memperkuat ekonomi keluarga tidak harus menjadi dua hal yang saling bertentangan. Kita bisa melakukan keduanya sekaligus, menjaga air tanah tetap bersih sambil tetap menjaga dompet tetap terisi. Mari kita berhenti membuang jelantah ke selokan, dan mulailah mengubah setiap tetes jelantah menjadi berkah bagi lingkungan dan kesejahteraan kita bersama.
Mengubah Masalah Jadi Berkah: Saat Limbah Dapur ‘Naik Kelas’ di Tangan Warga Warugunung
Oleh : Nia Bonnavi 1, Novi Andari, SS.,M.Pd.2 Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya
Sosialisasi Produk Inovasi sabun pel dan lilin aromaterapi dari minyak jelantah di Dusun Randegan, Kec. Pacet, Kab. Mojokerto. 10/01/2026.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































