Di tengah arus modernisasi yang kian deras, Desa Tanjung di Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Provinsi Jambi, justru menghadirkan pemandangan yang tak lazim ribuan warga berjalan serempak dalam satu irama doa, menyusuri jejak para leluhur. Inilah pawai ziarah kubur, tradisi sakral yang menjadi satu-satunya di Provinsi Jambi, sekaligus penanda kuat identitas spiritual masyarakat yang tetap hidup dan berdenyut hingga hari ini.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, pawai ini menjelma menjadi panggung sejarah yang bergerak. Kepala Desa Tanjung, Irwan Akili, menegaskan bahwa tradisi ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga cara masyarakat menjaga ingatan kolektif terhadap para tokoh yang telah membangun fondasi keislaman desa. “Ini bukan sekadar berjalan menuju makam, tetapi perjalanan batin untuk mengenang, mendoakan, dan melanjutkan nilai-nilai yang diwariskan,” ujarnya dengan penuh penekanan.
Jika di banyak tempat ziarah kubur dilakukan dalam lingkup keluarga, Desa Tanjung justru melampaui batas itu. Lebih dari 1.000 warga tumpah ruah, menyatu dalam barisan panjang yang khidmat. Tidak ada sekat status, usia, maupun latar belakang semuanya larut dalam satu tujuan: menghormati leluhur dan menghidupkan tradisi yang telah berusia ratusan tahun.
Prosesi dimulai dengan lantunan doa yang menggema, dipimpin oleh Imam Masjid Muawanah Desa Tanjung, H. Muhammad Hasbi, S.Pd.I. Suara doa yang mengalun pelan namun dalam seolah menjadi jembatan antara dunia yang fana dan jejak-jejak sejarah yang tak lekang oleh waktu. Setiap langkah yang diayunkan bukan sekadar gerak, melainkan simbol ketundukan dan pengharapan.
Akar dari tradisi ini menelusuri jejak panjang sejarah, bermula dari sosok Khatib Ali dari Minangkabau yang pada tahun 1770 M menjadi pembawa ajaran Islam pertama di Desa Tanjung. Dari tangannya, cahaya Islam mulai menyinari wilayah ini, membentuk karakter masyarakat yang religius dan menjunjung tinggi nilai-nilai spiritual hingga kini.
Jejak itu kemudian diteruskan oleh tokoh-tokoh besar lainnya. Tengku Zainudin yang mendirikan masjid pertama di Bathin VIII, Tengku Sa’id sebagai pelopor pesantren di Desa Tanjung, hingga Tengku Capuk atau H. Mahmud yang menghidupkan pendidikan Al-Qur’an. Tak kalah penting, Tengku Abdullah dikenal sebagai hakim pertama di Desa Tanjung yang menegakkan nilai keadilan dalam kehidupan masyarakat.
Deretan nama itu berlanjut dengan H. Abbas sebagai pendiri pesantren, serta Puyang Gung seorang donatur dan cendekiawan yang rela mengorbankan emas sebanyak satu gong demi membiayai generasi muda menuntut ilmu ke luar daerah. Sementara itu, KH. Usman dikenang sebagai ulama termasyhur yang mendirikan Madrasah Ibtidaiyah Nurul Ihsan, sebagaimana disampaikan oleh tokoh masyarakat, M. Saman, M.Pd.I, yang menyebut bahwa seluruh tokoh tersebut adalah pilar utama berdirinya peradaban keagamaan di Desa Tanjung.
Kini, pawai ziarah kubur bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang masa depan. Ia menjadi ruang di mana sejarah, spiritualitas, dan kebersamaan berpadu tanpa batas. Desa Tanjung telah membuktikan bahwa tradisi bukan sekadar untuk dikenang, tetapi untuk dijalani hidup, bergerak, dan diwariskan. Sebuah tradisi yang bukan hanya unik, tetapi benar-benar tiada duanya di Provinsi Jambi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer




































































