Energi listrik saat ini telah menjadi kebutuhan utama dalam kehidupan modern. Hampir seluruh aktivitas manusia, mulai dari bidang pendidikan, ekonomi, hingga layanan kesehatan, sangat bergantung pada ketersediaan listrik yang stabil dan terjangkau. Di Indonesia, sistem energi nasional masih didominasi oleh batu bara karena dinilai lebih ekonomis. Namun, di balik efisiensi tersebut, penggunaan batu bara menimbulkan berbagai dampak serius, seperti pencemaran lingkungan, peningkatan emisi karbon, serta risiko terhadap kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, transisi menuju energi bersih tidak lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan yang mendesak demi keberlanjutan dan keadilan sosial.
Pancasila sebagai ideologi negara sering kali dipahami sebagai nilai-nilai moral yang bersifat konseptual. Padahal, dalam menghadapi tantangan seperti krisis energi dan perubahan iklim, nilai-nilai tersebut perlu diwujudkan dalam bentuk nyata, salah satunya melalui kemandirian teknologi. Gagasan “energi bersih dan berkeadilan” mencerminkan nilai dari Sila Kedua dan Sila Kelima. Saat ini, Indonesia berada pada fase penting dalam proses transisi energi, di mana ketergantungan terhadap batu bara perlu dikurangi secara bertahap. Dalam konteks ini, bidang Teknik Elektronika, khususnya elektronika daya, memiliki peran strategis dalam mendukung terciptanya sistem energi yang tidak hanya maju secara teknologi, tetapi juga adil dan berorientasi pada kemanusiaan.
Konsep energi bersih dapat dipahami sebagai bentuk penerapan Sila Kedua, karena berkaitan dengan hak setiap individu untuk hidup di lingkungan yang sehat. Selama ini, manfaat ekonomi dari batu bara sering kali diiringi dengan dampak lingkungan yang merugikan. Sementara itu, energi berkeadilan mencerminkan nilai Sila Kelima, yaitu ketika akses terhadap energi tidak hanya dinikmati oleh masyarakat perkotaan, tetapi juga dapat dirasakan secara merata hingga ke daerah terpencil tanpa adanya kesenjangan.
Tantangan utama dalam mewujudkan hal tersebut bukan terletak pada ketersediaan sumber energi, melainkan pada teknologi pengolahannya yang masih relatif mahal. Komponen penting seperti inverter dan power converter sebagian besar masih bergantung pada produk impor, sehingga berdampak pada tingginya biaya. Kondisi ini menunjukkan bahwa kemandirian teknologi masih perlu ditingkatkan. Oleh karena itu, pengembangan elektronika daya di dalam negeri menjadi langkah penting. Teknologi ini berfungsi sebagai penghubung yang mampu mengubah energi dari sumber yang bersifat fluktuatif menjadi listrik yang stabil dan siap digunakan. Melalui pengembangan sistem yang lebih efisien dan terjangkau, akses terhadap energi bersih dapat diperluas secara lebih merata.

Inovasi dalam desain rangkaian dan sistem kendali juga berperan dalam menekan biaya produksi energi terbarukan. Hal ini membuka peluang untuk pengembangan sistem listrik skala kecil, seperti microgrid, di wilayah yang belum terjangkau jaringan utama. Dengan demikian, teknologi tidak hanya berfokus pada kemajuan, tetapi juga harus memberikan manfaat yang inklusif. Ketika masyarakat di daerah terpencil telah memperoleh akses listrik yang memadai, maka pemerataan pembangunan dapat terwujud secara lebih luas.
Pada akhirnya, kemandirian energi pasca batu bara hanya dapat dicapai melalui penguatan teknologi dalam negeri yang berlandaskan nilai-nilai Pancasila. Menjadi bagian dari bidang elektronika tidak hanya berkaitan dengan penguasaan teknologi, tetapi juga tanggung jawab untuk menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat secara luas. Dengan mengintegrasikan keahlian teknis dan semangat keadilan sosial, Indonesia memiliki peluang besar untuk beralih menuju sistem energi yang lebih bersih, berkelanjutan, dan merata.
Energi bukan sekedar listrik dan infrastruktur, melainkan juga tentang bagaimana negara bisa hadir untuk menjamin kesejahteraan masyarakatnya. Transisi energi yang berhasil adalah yang bisa menjangkau semua lapisan masyarakat tanpa terkecuali. Dengan demikian, upaya menuju energi bersih dan berkeadilan tidak hanya menjadi langkah menuju kemajuan teknologi, tetapi juga merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
(Ditulis Oleh: Jannada Mumtaza, Universitas Negeri Yogyakarta)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer
























































