Di tengah derasnya arus informasi hari ini, umat Islam hidup dalam sebuah ironi. Ilmu keislaman tersedia di mana-mana di buku, podcast, saluran YouTube, Tiktok dan bahkan video pendek di media sosial. Namun, pemahaman yang mudah ini tidak menjamin pemahaman yang mengubah akhlak seseorang. Banyak yang fasih berbicara tentang Agama, tetapi lemah dalam menjadikannya sebagai cara atau jalan hidup. Situasi ini mendorong kita untuk melihat kembali ke satu hal mendasar yang perlahan memudar yaitu tradisi ilmiah dalam dunia Islam.
Tradisi ilmu pengetahuan bukanlah sekadar belajar pengetahuan dan produksi pengetahuan. Dalam sejarah Islam, ia merupakan cara hidup, sebuah sistem yang menyatukan ilmu, adab, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial. Ketika tradisi ini kuat, ilmu melahirkan peradaban. Ketika ia terputus, ilmu kehilangan ruhnya. Tulisan ini mencoba menelusuri sejarah tradisi ilmu pengetahuan di kalangan umat Islam dari klasik, menengah, modern hingga kontemporer. Dan menawarkan refleksi kritis tentang tantangan yang dihadapi hari ini.
Tradisi Ilmiah Muslim pada Era Klasik: Ilmu sebagai Jalan Pembentukan Diri
Era klasik Islam, khususnya antara abad ke-8 hingga ke-11, sering dianggap sebagai zaman keemasan peradaban Islam. Namun, keberhasilan ini bukanlah sesuatu yang muncul secara kebetulan. Ini berakar pada tradisi ilmiah di mana pengetahuan merupakan bentuk ibadah dan sarana untuk menyempurnakan diri. Pengetahuan tidak diperoleh untuk tujuan praktis, tetapi sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan untuk mencapai kebaikan yang lebih besar bagi umat manusia.
Institusi seperti Bait al-Hikmah yang terletak di Baghdad menjadi simbol kuat dari tradisi ini. Kegiatan intensif dan orisinal seperti menerjemahkan, meneliti, berdiskusi, dan menulis dilakukan di sana. Cendekiawan Muslim tidak hanya mewarisi pengetahuan dari Yunani, Persia, dan India, tetapi juga mengintegrasikan dan mengembangkannya, serta mengkritiknya dalam kerangka Tauhid. Selama periode ini, dan menurut Toby E. Huff, dunia Muslim adalah peradaban paling maju di dunia, dan menjadi pusat semua ilmu pengetahuan.
Lebih dari itu, era klasik menekankan pentingnya peradaban dan hubungan antara guru dan murid dalam proses transmisi pengetahuan. Pengetahuan diwariskan melalui majelis, dialog, pengulangan(tikrar), dan keteladanan. seorang murid tidak hanya belajar isi kitab, tetapi juga belajar sikap, kesabaran, dan etika berpikir. Karena itulah, lahir tokoh-tokoh seperti al-kindi, al-farabi, ibnu sina, dan al-birun.
Abad Pertengahan: Institusionalisasi Tradisi Ilmiah
Memasuki abad pertengahan, tradisi ilmiah Islam semakin mapan melalui pelembagaan pendidikan. Madrasah-madrasah besar seperti Madrasah Nizamiyah berdiri dan menjadi pusat pengembangan ilmu-ilmu agama maupun rasional. Pada fase ini, sanad keilmuan menjadi penanda penting otoritas ilmu. pengetahuan tidak dianggap sebagai milik individu ilmuwan, tetapi lebih sebagai amanah yang harus diwariskan dengan tanggung jawab.
Dalam konteks ini, ilmu hidup dalam jaringan sosial dan spiritual. Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pembimbing akhlak dan penjaga makna. Menurut Franz Rosenthal ,etika kesarjanaan Muslim pada masa ini dibangun di atas kesadaran bahwa ilmu harus melahirkan tanggung jawab, bukan kesombongan. Tradisi kritik juga berkembang sehat, sebagaimana terlihat dalam perdebatan ilmiah antara tokoh-tokoh besar, tanpa kehilangan adab dan rasa hormat.
Pada akhir zaman pertengahan, dinamika politik dan kemunduran lembaga mulai mempengaruhi tradisi ilmu pengetahuan Islam secara negatif. Meski demikian, ruh tradisi berupa penghormatan terhadap ilmu dan guru masih bertahan dalam berbagai bentuk lokal, termasuk di pesantren-pesantren tradisional
Era Modern: Fragmentasi Ilmu Dan Tantangan Modernitas
Era Modern telah membawa perubahan besar bagi Dunia Islam. Kolonialisme, Modernisasi, dan pengenalan sistem pendidikan Barat secara perlahan telah menggeser tradisi ilmiah Islam. Ilmu pengetahuan mulai terpisah dari dimensi spiritualnya, dan direduksi menjadi sarana untuk meraih gelar, status sosial, atau pekerjaan.
Dalam sistem pendidikan modern, hubungan guru dan murid telah menjadi formal dan administratif. Waktu kontemplatif telah digantikan oleh target kurikulum dan ukuran evaluasi berbasis angka. Akibatnya, pengetahuan telah kehilangan fungsi transformatifnya. Sebagaimana dikritik oleh Syed Muhammad Naquib al-Attas, krisis utama pendidikan Islam modern bukan terletak pada ketiadaan informasi, tetapi pada hilangnya adab dalam berilmu.
Modernitas zaman ini memang telah membawa kemajuan dalam teknologi dan metodologi. Namun, tanpa dasar tradisi, pengetahuan menjadi terfragmentasi. Ia secara teknis canggih, namun miskin dalam orientasi makna. di sinilah mulai terlihat jurang antara pengetahuan dan kebijaksanaan.
Era Kontemporer: Ilmu di Tengah Digitalisasi dan Otoritas Algoritmik
Di era kontemporer, tantangan tradisi ilmiah Muslim semakin kompleks. Digitalisasi telah mengubah cara manusia belajar dan beragama. Ilmu agama kini hadir dalam bentuk konten singkat, viral, dan sering kali terlepas dari konteks keilmuan yang utuh. Otoritas tidak lagi ditentukan oleh kedalaman ilmu dan sanad, tetapi oleh popularitas dan jumlah pengikut.
Fenomena ini melahirkan apa yang disebut otoritas algoritmik, otoritas yang ditentukan oleh mesin dari pada proses akademis yang panjang. Akibatnya, banyak siswa Muslim saat ini merasa terdidik, tetapi tidak memperoleh pendidikan. Mereka mengonsumsi pengetahuan tetapi tidak memiliki ruang untuk merenungkan makna. Kritik terhadap para ulama dan tradisi sering disampaikan tanpa adab. seolah ilmu bisa berdiri di atas tanpa fondasi etika.
Padahal, sebagaimana ditegaskan oleh para pemikir Muslim klasik, ilmu yang tidak dibingkai oleh tradisi akan mudah berubah menjadi alat pembenaran ego. Ilmu semacam ini tidak menumbuhkan jiwa, justru berpotensi menjauhkannya dari kebenaran.
Merawat kembali tradisi sebuah ikhtiar keilmuan.
Menghidupkan kembali tradisi ilmiah Islam bukan berarti menolak moderitas atau kembali sepenuhnya ke masa lalu. yang di butuhkan kembali ialah menata ulang. Tradisi harus dipahami sebagai kerangka hidup yang memastikan pengetahuan tetap terhubung dengan makna, etika, dan tujuan transenden
Titik awalnya adalah membangkitkan pemahaman tentang pengetahuan sebagai sesuatu yang tidak netral. Itu membentuk kemanusiaan. Oleh karena itu, pendidikan Islam harus menemukan keseimbangan antara memperoleh pengetahuan dan membentuk akhlak seseorang. Hubungan guru-murid harus dihidupkan kembali sebagai pembimbing, bukan sekadar transfer materi. Tradisi pengulangan, refleksi, dan pendalaman perlu di beri ruang di tengah budaya yang serba cepat.
Jika dahulu tradisi ilmiah Islam mampu melahirkan peradaban besar, maka hari ini tradisi yang sama dengan bentuk yang kontekstual masih relevan untuk menjawab krisis makna. Di tengah dunia yang sibuk memproduksi informasi, umat islam membutuhkan ilmu yang menghidupkan ,bukan sekadar menerangkan.
Oleh Sakinah Mahasiswi UIN Sultanah Nahrasyiah Lhokseumawe
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































