Prestasi ini menjadi bukti bahwa dunia literasi dan kepenulisan pelajar memiliki ruang besar untuk terus berkembang.
Melalui lomba ini, Alif menuangkan gagasan, perasaan, dan nilai kehidupan ke dalam sebuah karya cerpen yang ditulis dengan penuh ketulusan dan makna. Karya tersebut tidak hanya menjadi bentuk ekspresi diri, tetapi juga sarana untuk menyampaikan pesan inspiratif kepada pembaca.
Berikut merupakan cerpen karya Muhammad Alif Syabani yang berhasil meraih Juara 3 Tingkat Nasional.
CIPTA CERPEN
“Berani Menjadi Diriku”
Oleh : Muhammad Alif Syabani
@alif_syabani7
Sejak SD, aku sudah terbiasa meraih peringkat satu di kelas. Setiap kali pembagian rapor, namaku selalu disebut lebih dulu. Semua orang memuji, bahkan guru-guru sering menjadikan aku contoh bagi teman-temanku. Namun, aku tidak pernah benar-benar merasa pintar.
“Aku ini benar-benar pintar, atau hanya beruntung ya?” pikirku sering kali. Ada satu hal yang selalu menjadi kelemahanku: percaya diri. Aku ingat jelas ketika kelas empat SD, aku mengikuti olimpiade individu pertama dalam hidupku. Soal-soalnya sebenarnya bisa kujawab. Aku sudah menghafal, sudah belajar keras, bahkan guru pembimbingku yakin aku akan menang. Tetapi ketika hari lomba tiba, dan aku melihat wajah lawan-lawanku yang tampak percaya diri, aku justru gemetar. Tanganku dingin, pikiranku kosong. Aku tidak bisa menjawab apa-apa. Padahal aku tahu jawabannya.
Kekalahan itu membuat aku trauma. Sejak saat itu, aku memilih aman. Aku tidak pernah lagi ikut lomba individu. Aku hanya ikut lomba beregu, seperti cerdas cermat, supaya ada teman yang bisa menopangku. Aku pikir, itu jalan terbaik.Namun, di lubuk hati kecilku, aku merasa terkurung. Aku sadar, kalau terus begini, aku tidak akan pernah benar-benar berkembang. Dunia luar terasa asing dan menakutkan.
Sampai akhirnya, saat aku kelas sembilan SMP, semester dua, aku mulai memberanikan diri. Ada sesuatu yang mendorongku dari dalam hati: “Aku tidak bisa terus bersembunyi. Aku harus melawan ketakutanku sendiri.”
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku ikut lagi lomba individu. Bedanya, kali ini aku sudah lebih siap, dan yang terpenting, aku lebih berani. Rasa gugup tetap ada, tetapi aku memilih untuk menghadapinya. Perlahan-lahan, hasil pun mulai terlihat. Aku mulai meraih juara dalam berbagai olimpiade nasional.Aku tersenyum puas, tapi aku juga tahu: perjalanan ini tidak boleh berhenti di sini.
Aku bergabung dengan komunitas tingkat nasional, mengikuti program pembentukan karakter, bahkan menjadi runner up putra dalam sebuah ajang. Dari situ, aku makin banyak belajar: bukan hanya soal ilmu, tapi juga soal sikap, percaya diri, dan bagaimana berani menunjukkan siapa diriku sebenarnya.Puncaknya, saat aku masuk kelas sepuluh SMA, hidupku berubah total.
Kalau dulu, setiap kali guru menyuruhku berbicara di depan kelas, jantungku berdetak kencang, tanganku gemetar, dan keringat dingin bercucuran, kini semua itu sudah berbeda. Sekarang, aku justru merasa bersemangat ketika diberi kesempatan berbicara.
Bahkan, aku sering mengajukan diri tanpa disuruh.
“Pak, biar saya saja yang jadi moderator,” kataku suatu hari.
“Bu, izinkan saya yang mempresentasikan materi di depan,” ucapku lain waktu.Teman-temanku sempat heran.
“Kamu kok beda banget sekarang? Dulu kan kamu pemalu banget,” kata salah satu dari mereka.Aku hanya tersenyum. Dalam hati, aku tahu betul jawabannya: karena aku sudah berani keluar dari zona nyaman.
Kini, public speaking yang dulu menjadi momok menakutkan, justru menjadi bagian dari diriku. Aku sering dipercaya menjadi moderator, pemateri, bahkan pembicara dalam berbagai forum. Rasanya menyenangkan ketika berdiri di depan banyak orang, bukan untuk membuktikan bahwa aku sempurna, tapi untuk menunjukkan bahwa aku berani.
Aku tidak lagi takut pada tatapan orang lain. Aku tidak lagi merasa minder. Aku bukan hanya siswa berprestasi di atas kertas, tapi juga pribadi yang tumbuh, berkembang, dan mampu berdiri tegak dengan percaya diri.Ketika mengingat masa lalu, aku tersenyum kecil. Aku ingat betul bagaimana dulu teman-teman sering mengkritikku: “Kok kamu kurang percaya diri, sih?” Kata-kata itu dulu menyakitkan, membuatku ingin bersembunyi. Tapi sekarang, kritikan itu justru menjadi bahan bakar yang menguatkan langkahku.
Aku belajar satu hal penting dalam perjalanan ini: keluar dari zona nyaman bukan berarti kehilangan diriku. Justru dengan berani melangkah keluar, aku akhirnya menemukan siapa aku sebenarnya. Dan hari ini, aku berdiri sebagai diriku yang baru. Bukan lagi anak pemalu yang selalu takut, tetapi seseorang yang siap melangkah ke depan, berbicara lantang, dan membangun personal branding yang membawaku pada lebih banyak kesempatan.
Aku bukan hanya anak yang dulu selalu peringkat satu. Aku kini adalah aku—yang berani menjadi dirinya sendiri.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































