Murid MAN 1 Yogyakarta Lolos Teknik Kimia UGM, Buah Konsistensi Sejak Kelas X
Di antara ratusan ribu peserta Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) 2026, ada cerita-cerita sunyi tentang proses panjang yang jarang terlihat. Salah satunya datang dari Naufal Stjerne Ma’mun, murid kelas XII G MAN 1 Yogyakarta, yang berhasil menembus Program Studi Teknik Kimia Universitas Gadjah Mada (UGM).
Ia menjadi bagian dari 16 murid MAN 1 Yogyakarta yang lolos ke UGM melalui jalur SNBP tahun ini. Sebuah capaian yang tidak datang secara tiba-tiba, melainkan dibangun sejak awal masa Madrasah Aliyah. Bagi Stjerne, pencarian arah dimulai sejak kelas X. Ia tidak sekadar menjalani sekolah, tetapi mulai mengenali minat dan bakatnya. Ketertarikannya pada bidang sains, khususnya fisika dan kimia, mendorongnya untuk aktif bergabung dalam organisasi dan ekstrakurikuler yang sejalan.
“Sejak awal SMA saya sudah mencoba mencari minat saya. Dari situ saya mulai fokus ke fisika dan kimia, dan itu yang akhirnya mengarahkan saya memilih Teknik Kimia,” ujarnya.
Pilihan terhadap UGM bukan tanpa alasan. Ia melihat kampus tersebut sebagai ruang belajar dengan reputasi yang kuat dan lingkungan akademik yang kompetitif. Namun, sebelum sampai pada keputusan itu, Stjerne mengaku melakukan berbagai pertimbangan.
Ia menelusuri informasi tentang program studi, mempelajari tingkat persaingan, hingga berdiskusi dengan berbagai pihak untuk memastikan pilihannya tepat. “Saya mencoba melihat acceptance rate dan melakukan konsultasi agar bisa mengambil keputusan terbaik,” katanya.
Dalam jalur SNBP yang menitikberatkan pada rekam jejak akademik, Stjerne menyiapkan diri dengan konsisten. Ia tidak hanya menjaga performa nilai sejak kelas X, tetapi juga aktif mengikuti kompetisi sebagai bentuk penguatan portofolio.
Sejumlah prestasi berhasil ia raih, di antaranya Juara 1 Olimpiade Sains Nasional (OSN) Fisika tingkat kota, Juara 3 Olimpiade Kimia dari UIN, serta Juara Harapan 2 Olimpiade Kimia dari ITB. Sertifikat-sertifikat tersebut menjadi bagian dari dokumen yang ia unggah dalam proses seleksi.
Namun, bagi Stjerne, capaian itu bukan semata tentang kompetisi. Ia melihatnya sebagai bagian dari proses belajar yang berkelanjutan. Sejak kelas X, ia menetapkan target pribadi untuk setiap semester, sebuah cara sederhana untuk menjaga konsistensi.
“Yang penting bukan hanya hasil, tapi bagaimana kita menjaga usaha itu tetap berjalan,” katanya.
Di balik upaya tersebut, ada peran lingkungan yang turut menguatkan. Dukungan orang tua dan teman menjadi bagian penting dalam menjaga motivasi. Namun, ia menegaskan, ada satu hal yang tidak pernah ia lepaskan dari prosesnya.
“Yang paling penting adalah melibatkan Allah SWT dalam setiap usaha dan selalu meminta pertolongan-Nya,” ujarnya.
Capaian Stjerne menjadi bagian dari gambaran yang lebih besar, tentang bagaimana murid-murid MAN 1 Yogyakarta menapaki jalan mereka masing-masing menuju perguruan tinggi. Di balik angka 16 murid yang diterima di UGM, ada proses panjang yang beragam, namun berpijak pada satu hal yang sama: kesungguhan.
Kisah ini mengingatkan bahwa pilihan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dijaga konsistensinya. Dari ruang kelas, dari latihan, dari kegagalan yang dilampaui, hingga akhirnya mengantar seseorang pada titik yang selama ini ia tuju.
Dan bagi Stjerne, perjalanan itu baru saja dimulai. (dee)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































