Banyak orang berpendapat bahwa nasi kukus memiliki rasa lebih enak dan aroma lebih wangi dibanding nasi yang dimasak dengan magicom atau rice cooker. Ternyata, pendapat ini bukan sekadar soal selera, tetapi dapat dijelaskan secara ilmiah melalui proses kimia pangan. Dalam pengukusan, panas dan uap air meresap perlahan ke setiap butir beras, membuat proses pemasakan lebih merata. Hal ini memengaruhi struktur kimia pati yang terdapat di dalam beras. Reaksi tersebut menentukan tekstur nasi setelah matang, akan menjadi pulen, lembek, atau keras.
Secara ilmiah, perbedaan utama antara nasi kukus dan nasi magicom terletak pada proses gelatinisasi pati. Ketika nasi dikukus, granula pati menyerap air secara perlahan hingga mengembang sempurna tanpa pecah. Proses ini membuat nasi menjadi pulen dan lembut, dengan tekstur yang tidak terlalu lengket. Sebaliknya, pada nasi magicom, air dan panas bekerja lebih cepat di ruang tertutup. Hal ini menyebabkan sebagian granula pati pecah lebih awal, sehingga amilosa keluar dan membuat nasi terasa lebih lembek dan cepat menggumpal.
Selain memengaruhi tekstur, metode memasak juga berdampak pada aroma nasi. Saat beras dikukus, terbentuk senyawa volatil alami seperti maltol dan furfural dari reaksi Maillard, yaitu interaksi antara asam amino dan gula pereduksi. Reaksi ini menghasilkan aroma harum khas nasi kukus yang sering disebut “wangi alami”. Sedangkan pada magicom, kondisi lembap dan tertutup membuat reaksi ini lebih terbatas. Akibatnya, nasi dari magicom cenderung memiliki aroma netral.
Secara keseluruhan, nasi kukus unggul dalam hal tekstur, aroma, dan rasa alami karena proses kimianya lebih terkendali. Gelatinisasi yang sempurna membuat nasi tetap lembut, sedangkan reaksi Maillard memberikan aroma khas yang menambah kenikmatan. Sebaliknya, nasi magicom yang dimasak cepat dalam sistem tertutup kehilangan sebagian potensi aroma volatil dan mudah mengalami retrogradasi, yaitu pengerasan akibat pendinginan. Dari sudut pandang kimia pangan, perbedaan suhu, tekanan uap, dan kelembapan selama proses memasak sangat berpengaruh terhadap hasil akhir. Maka tidak mengherankan jika nasi kukus dianggap lebih nikmat dan alami.
Berdasarkan penelitian Adi et al. (2021) metode pengukusan menghasilkan kualitas sensoris nasi yang lebih baik dibanding metode perebusan langsung atau penggunaan rice cooker. Panelis menilai nasi kukus memiliki warna lebih cerah, tekstur lebih halus, dan aroma lebih kuat. Tingkat kelembapan dan suhu uap juga memengaruhi pembentukan senyawa aroma dan tekstur nasi secara signifikan. Hasil penelitian ini memperkuat bahwa cara memasak tradisional bukan sekadar warisan budaya, tapi juga memiliki keunggulan ilmiah.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































