Seperti yang diketahui, filsafat Islam merupakan cabang ilmu yang berupaya memahami hakikat realitas berdasarkan prinsip-prinsip keimanan kepada Allah SWT. Salah satu aspek fundamental dalam filsafat Islam adalah ontologi, yaitu kajian tentang hakikat keberadaan (al-wujūd) dan hubungan antara Tuhan, alam, dan manusia. Dalam konteks keislaman, ontologi tidak hanya membahas “apa yang ada”, tetapi juga “mengapa sesuatu ada” dan “dari siapa keberadaan itu berasal.” Kajian ini berakar pada pandangan bahwa segala wujud bersumber dari Allah SWT sebagai wājib al-wujūd, Wujud yang Mutlak. Adapun makhluk hanyalah wujud yang bergantung kepada Sang Pencipta, sedangkan manusia bersifat mumkin al-wujūd, yakni boleh ada dan boleh tidak ada, semuanya atas kehendak Allah SWT.
Sebagaimana ditegaskan oleh M. Quraish Shihab dalam buku Membumikan al-Qur’an, terdapat realitas lain yang tidak dapat dijangkau oleh pancaindra sehingga tidak bisa dijadikan objek observasi atau eksperimen. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT dalam Q.S. al-Haqqah (69): ayat 38–39, yang artinya: “Maka aku bersumpah dengan apa-apa yang kamu lihat, dan dengan apa yang tidak kamu lihat.” “Apa-apa” tersebut sebenarnya ada dan merupakan satu realitas, tetapi tidak ada dalam dunia empiris.
Sejatinya, artikel-artikel terdahulu sudah banyak membahas permasalahan mengenai ontologi filsafat Islam yang memahami hakikat realitas berdasarkan wahyu. Pemahaman ini sangat berbeda dengan filsafat Barat. Dalam filsafat Barat, “ada” dipahami melalui penyelidikan rasional terhadap pertanyaan mengenai hakikat ilmu. Maka, sesuatu yang tidak dapat dilihat atau diukur dianggap tidak ilmiah atau tidak dapat dijadikan pedoman untuk memahami realitas. Mereka terlalu mengutamakan akal sebagai alat utama mencapai kebenaran dan keberadaan.
Namun Islam memandang bahwa akal memang digunakan untuk memperoleh pemahaman, tetapi pengetahuan yang hakiki tetap bersumber dari wahyu. Wahyu merupakan petunjuk untuk memahami pengetahuan yang lain. Jika diibaratkan, wahyu adalah matahari, sedangkan akal adalah mata penglihatan manusia. Apabila seseorang hanya bergantung pada akal, maka ia seperti memiliki penglihatan yang bagus tetapi berada di tengah kegelapan tanpa arah dan tujuan. Sebab akal bisa salah dan keliru, serta memiliki keterbatasan dalam memahami hal-hal metafisika yang berada di luar jangkauan kemampuan manusia. Karena itu, wahyu menjadi pedoman utama agar manusia tidak terjerumus ke dalam kegelapan pemikiran.
Banyak para ahli filosofi Islam telah menguraikan konsep ontologi, seperti Ibn Sina yang menjelaskan tentang wājib al-wujūd (yang niscaya ada) dan mumkin al-wujūd (yang mungkin ada). Selain itu, para filosof Muslim seperti Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Rushd juga menafsirkan kembali konsep-konsep metafisika Aristoteles dan Plato melalui kerangka tauhid.
Dengan demikian, ontologi dalam Islam bukan hanya menjelaskan eksistensi, tetapi juga relasi manusia dengan Tuhannya, atau aspek spiritualitas. Islam memandang bahwa konsep “ada” atau wujud memiliki makna yang mendalam, karena yang wajib al-wujūd hanyalah Allah SWT, dan semua makhluk bergantung kepada-Nya. Maka, memahami ontologi filsafat Islam membantu kita menyadari bahwa segala sesuatu itu ada karena kehendak Allah dan berasal dari Allah termasuk alam semesta dan ilmu yang kita peroleh. Kesadaran ini membimbing kita untuk memahami keterhubungan segala sesuatu dengan Sang Pencipta agar memperoleh ridha-Nya.
Menurut saya, memperoleh pengetahuan memang sangat penting. Namun kita harus ingat bahwa semua pengetahuan itu berasal dari Sang Pencipta. Maka dari itu, kita juga perlu tetap bersifat sebagai manusia spiritual. Tanpa kehendak Sang Pencipta, keberadaan dan kemampuan kita tidak memiliki arti apa pun. Dalam Islam, mencari hakikat “ada” baik melalui ilmu pengetahuan, alam semesta, dan hal-hal yang tidak dapat dilihat oleh pancaindra, seperti halnya mengenal Allah sebenarnya sudah dijelaskan dalam Al-Qur’an. Hanya saja, bagi sebagian orang yang awam, hal tersebut sering dianggap kurang masuk akal. Padahal bukan wahyunya yang tidak masuk akal, melainkan pengetahuan kita yang terbatas. Semua yang telah Allah ciptakan bertujuan agar kita dapat mempelajarinya, memanfaatkanya dengan baik dan belajar memahami betapa besar kekuasaan-Nya, sehingga kita menjadi lebih dekat kepada-Nya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































