Ada yang ganjil ketika kita bangga dengan pertumbuhan industri solar panel di Indonesia, sementara di ujung timur negeri ini masih ada anak-anak yang mengerjakan PR di bawah cahaya lilin.
Saya mahasiswa teknik elektronika. Setiap hari saya belajar tentang sel fotovoltaik, p-n junction, efisiensi konversi energi, dan desain sistem PLTS. Tapi ada pertanyaan yang tidak pernah ada di modul kuliah saya : untuk siapa semua ilmu ini bekerja?
Pertanyaan itu makin mengganggu ketika saya membaca data bahwa Indonesia punya potensi energi surya lebih dari 3.300 GWp, salah satu yang terbesar di dunia, tapi jutaan warga di daerah terpencil masih bergantung pada genset diesel yang boros dan mahal. Kita kaya sumber energi, tapi miskin dalam mendistribusikannya. Paradoks ini bukan sekadar masalah teknis. Ini masalah keadilan.
Empat Cermin Pancasila
Listrik bukan kemewahan. Ia adalah syarat untuk hidup yang manusiawi di abad ini. Anak yang belajar tanpa penerangan, ibu hamil yang ditangani tanpa alat medis yang memadai karena puskesmas mati listrik, ini bukan cerita fiksi. Ini terjadi hari ini, di negara yang konstitusinya menjamin kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Sila ke-2 bukan hanya soal sopan santun antarsesama, ia adalah soal apakah kita sungguh-sungguh memandang setiap warga negara sebagai manusia yang bermartabat sama.
Ketimpangan yang terus dibiarkan adalah benih perpecahan. Ketika satu bagian dari republik ini menikmati kemajuan yang pesat sementara bagian lain tertinggal jauh, rasa kebangsaan itu pelan-pelan terkikis. Panel surya yang menerangi desa-desa di pedalaman bukan hanya mengalirkan listrik, ia mengalirkan rasa bahwa mereka juga bagian dari Indonesia yang satu.
Program energi yang bagus bukan program yang dipaksakan dari atas. Saya pernah membaca laporan PLTS di sebuah desa yang rusak dan terbengkalai dua tahun setelah dipasang, karena tidak ada warga yang tahu cara merawatnya, dan tidak ada yang ditanya soal kebutuhannya sejak awal. Teknologi yang tidak melibatkan rakyatnya adalah teknologi yang sia-sia. Sila ke-4 bukan jargon demokrasi belaka, ia adalah prinsip teknis yang harusnya masuk ke dalam desain program.
Ini yang paling telanjang: keadilan sosial berarti listrik yang terjangkau dan andal adalah hak semua orang, bukan hanya yang tinggal dekat gardu PLN. Selama ada warga yang membayar listrik dari genset diesel sepuluh kali lebih mahal dari tetangganya di kota, kita belum benar-benar mengamalkan sila ini. Panel surya, dengan kemampuannya hadir tanpa jaringan transmisi panjang, adalah jawaban teknologi yang paling jujur untuk ketidakadilan ini.
Lalu, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sebagai mahasiswa teknik elektronika, saya tidak bisa hanya berdiam di lab sambil mengerjakan tugas. Ilmu yang kita pelajari punya nilai lebih dari sekadar nilai ujian. Kita bisa berkontribusi, lewat KKN tematik, riset terapan, atau sekadar menyebarkan pemahaman bahwa teknologi energi surya sudah cukup matang dan terjangkau untuk menjangkau seluruh pelosok negeri ini.
Pancasila bukan pajangan di dinding ruang kelas. Ia adalah tantangan : apakah kemajuan teknologi yang kita kejar benar-benar membawa keadilan, atau hanya memperbesar jurang antara yang sudah punya dan yang belum punya? Panel surya, kecil dan diam di atas atap, menyimpan jawaban yang sangat besar.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer





























































