Malam di Kota Tua terasa berbeda. Biasanya, Taman Fatahillah dipenuhi wisatawan yang berpose di depan bangunan khas kolonial atau ramai oleh lalu-lalang sepeda ontel. Namun pada Selasa malam, 25 November 2025, sorotan perhatian bukan pada kamera atau bangunan tua, melainkan pada satu panggung besar yang berdiri gagah di tengah kerumunan. Tidak ada pidato, tidak ada dialog, hanya ruang kosong yang membiarkan tubuh manusia berbicara.
Jakarta Pantomime Festival 2025 malam itu menghadirkan puluhan peserta dari berbagai daerah, termasuk komunitas seni dari luar Jakarta. Mereka tampil secara bergiliran, membawa gaya, humor, dan emosi visual masing-masing. Di panggung ini, kata-kata digantikan oleh gerak, suara digantikan oleh ekspresi, dan keheningan justru menjadi bahasa yang berbicara lebih nyaring daripada suara manusia. Meski tanpa suara, setiap gerakan mereka dapat dibaca, seolah tubuh dijadikan kanvas untuk bercerita.
Satu per satu pantomimer tampil di atas panggung. Ada yang berperan sebagai musisi imaginatif, ada yang bertengkar dengan karakter tak terlihat, dan ada yang menampilkan kehidupan sehari-hari dalam komedi fisik yang sederhana namun mengena. Pada awalnya, penonton hanya berhenti sejenak, mengangkat kamera ponsel, tertawa, lalu melanjutkan langkah.

Namun lama kelamaan, penonton mulai merapat. Banyak yang akhirnya duduk bersila di atas paving Taman Fatahillah yang dingin untuk menonton lebih dekat. Interaksi pun semakin hidup ketika pantomimer cilik dengan wajah yang dicat putih dan garis hitam di mata, serta kaos bergaris hitam-putih khas pantomim, mendatangi barisan penonton sambil mengendarai motor “khayalan”. Mereka memutar gas imajiner, tubuh mereka miring seperti menaklukkan tikungan, dan penonton tertawa.
Interaksi antara pemain dan penonton ternyata lebih intim dari yang diduga. Pantomimer lain dengan setelan warna-warni seperti Teletubbies mengajak penonton menirukan gestur tangan, melentikkan jari, berlenggak-lenggok ringan, hingga mengecilkan gerak seperti menyentuh dinding tak terlihat. Penonton ikut mencoba, beberapa ada yang kikuk, beberapa lagi percaya diri menunjukkan kebolehannya. Sentuhan kaki pada paving yang dingin, gesekan tangan ke udara, semuanya menjadi bagian dari pertunjukan.
Namun momen yang benar-benar mengubah suasana adalah ketika nama Septian Dwi Cahyo disebutkan. Maestro pantomim Indonesia itu melangkah maju, pelan dan santai, sambil sesekali melambaikan tangan kepada penonton di kanan-kiri. Ada yang melambaikan tangan kembali, ada yang mengangkat kamera ponsel, dan ada yang hanya diam sambil mencondongkan kepala sedikit ke depan. Tepuk tangan terus bergema sampai lampu panggung perlahan diredupkan.

Di atas panggung, tangan kurus Septian mulai meliuk halus, membentuk garis-garis imajiner di udara. Langkahnya kecil namun penuh ketegasan. Dalam satu momen, ia sudah menjadi Charlie Chaplin, dengan topi khayalan dan lutut yang sedikit naik dalam langkah-langkah jenaka. Di momen berikutnya gestur tubuhnya berubah pelan. Bahunya turun, geraknya melembut, ekspresinya lebih sendu, mengantar penonton pada suasana mengenang, seakan menghadirkan kembali sosok Didi Kempot dan figur-figur musik lainnya yang pernah hidup di panggung ingatan bersama. Transisi antar karakter itu terjadi tanpa suara, hanya tubuh yang berubah bahasa.
Penampilan Septian malam itu tidak hanya mengundang tawa, tetapi juga membawa nuansa penghormatan. Jika peserta lain mengajak penonton tertawa, Septian mengajak penonton mengenang.
Jika peserta lain menampilkan aksi lucu, Septian menghadirkan penghormatan dalam bentuk gerak.
Saat ia berpura-pura memegang tongkat chaplin, penonton ikut tersenyum. Saat ia menundukkan kepala dalam gestur mengenang, penonton ikut terdiam, yang terdengar saat itu hanyalah semilir angin malam.
Ketika pertunjukan usai, tepuk tangan bergema. Beberapa penonton bersorak, sementara yang lain hanya memberi tepukan kecil. Para pantomimer muda tampak menyimak penuh minat, seolah sedang belajar bukan dari guru, tetapi dari sejarah hidup seni pantomim itu sendiri.
Malam itu, pantomim bukan hanya ditonton oleh komunitas seni atau mereka yang paham sejarah gerak tubuh. Semua orang ikut menikmati, bahkan yang awalnya hanya lewat pun akhirnya berhenti dan ikut menonton. Mereka tertawa bersama, bertepuk tangan, dan merespon setiap gerakan di panggung.
Hal ini menunjukkan bahwa ruang publik bisa menjadi tempat berkumpulnya orang-orang untuk berbagi rasa senang secara sederhana. Kota Tua berubah dari sekadar destinasi wisata menjadi ruang interaksi yang hidup, di mana masyarakat benar-benar terlibat dalam menikmati seni.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































