Desa Borimasunggu, 15 Agustus 2025 — Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik Universitas Hasanuddin (Unhas) Gelombang 114 menjalankan program kerja pembuatan peta analisis sebaran curah hujan untuk menentukan titik rawan banjir di Desa Borimasunggu, Kecamatan Maros Baru, Kabupaten Maros. Program ini bertujuan membantu pemerintah desa dan masyarakat memahami pola curah hujan di wilayah mereka, sekaligus memetakan lokasi yang berpotensi mengalami banjir sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih tepat sasaran.
Kegiatan dimulai dengan pengumpulan data curah hujan dari sumber resmi seperti CHIRPS dan Ina-Geoportal, dilanjutkan dengan survei lapangan untuk memverifikasi kondisi sebenarnya di desa. Data tersebut kemudian diolah menggunakan perangkat lunak pemetaan (ArcGIS) sehingga menghasilkan peta sebaran curah hujan yang terbagi ke dalam beberapa kategori intensitas.
Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah Sungguminasa dan Borongkalukua termasuk daerah yang sering mengalami banjir sulit surut. Kondisi ini disebabkan oleh kombinasi curah hujan tinggi dan pengaruh banjir rob yang menghambat aliran air menuju laut. Peta yang dihasilkan menjadi acuan penting untuk menentukan area prioritas penanganan banjir, seperti perbaikan drainase, pembangunan tanggul penahan rob, dan pengelolaan tata ruang desa.
Kepala Desa Borimasunggu, dalam keterangannya, menyampaikan apresiasi atas inisiatif ini. “Peta ini sangat membantu kami untuk mengetahui area yang rawan banjir, sehingga kami bisa merencanakan pembangunan infrastruktur yang lebih tepat sasaran,” ujarnya.
Naufal Aryansyah Erlangga, selaku penanggung jawab program kerja, menjelaskan bahwa pembuatan peta ini merupakan wujud nyata kontribusi mahasiswa terhadap pengelolaan lingkungan desa. “Kami berharap peta ini tidak hanya bermanfaat untuk pemerintah desa, tetapi juga dapat menjadi media edukasi bagi masyarakat agar lebih siap menghadapi musim hujan,” katanya.
Setelah selesai, peta dipasang di Kantor Desa Borimasunggu dan dibagikan dalam bentuk digital agar mudah diakses masyarakat. Program ini menjadi bukti sinergi antara dunia akademik, pemerintah desa, dan masyarakat dalam mendukung pengelolaan risiko bencana secara ilmiah, terbuka, dan berkelanjutan.