Saat ini, kita hidup di zaman serba terbuka. Melalui ponsel di genggaman, kita bisa menyaksikan gaya berpakaian, berbicara, hingga bergaulnya orang luar negeri. Sebagai negara berlandaskan Pancasila, Indonesia menghadapi tantangan besar: pengaruh budaya asing masuk begitu cepat. Pertanyaannya, apakah kita masih memegang teguh jati diri bangsa, atau justru pelan-pelan kehilangan arah karena sibuk meniru budaya lain?
Dari perspektif sila pertama, budaya asing sering membawa paham materialistis yang mendewakan harta. Akibatnya, kita mulai melupakan nilai ketuhanan dan spiritual sebagai akar bangsa. Padahal, jati diri Indonesia adalah bangsa beriman dengan etika moral kuat. Sila kedua dan ketiga pun terancam oleh individualisme serta sikap acuh tak acuh terhadap sesama, bertolak belakang dengan kemanusiaan beradab dan persatuan melalui gotong royong serta tegur sapa.
Sila keempat terganggu oleh budaya “debat kursi” dan saling serang di ruang digital, diadopsi dari tren luar yang tidak sehat. Kita kehilangan kesantunan berpendapat karena ikut gaya komunikasi bebas tanpa aturan. Terakhir, sila kelima dirusak gaya hidup mewah impor yang mendorong konsumsi berlebih. Kita lebih bangga pakai merek asing ketimbang karya pengrajin lokal, padahal Pancasila menuntut keadilan ekonomi agar rakyat merasakan kemakmuran bersama.
Namun, kemajuan zaman juga membawa hal positif, seperti disiplin kerja, efisiensi, dan teknologi canggih. Pancasila tidak melarang kemajuan, asal kita punya “penyaring” kuat: ambil yang baik, buang yang buruk. Tantangan sesungguhnya bukan pengaruh luar, melainkan seberapa kuat kita memahami dan mengamalkan Pancasila.
Kesimpulannya, Indonesia harus pegang teguh Pancasila di tengah arus globalisasi. Jangan benci budaya luar, tapi jangan sampai hilang jati diri. Dengan tetap sopan, peduli sesama, dan bangga pada identitas sendiri, pengaruh asing sekuat apa pun takkan merusak bangsa. Persatuan dan keadilan tetap prioritas utama. Menjadi modern itu baik, tapi menjadi Indonesia jauh lebih penting. Jadikan Pancasila gaya hidup nyata, bukan sekadar hafalan ujian. Masa depan bangsa ada di generasi cerdas yang menyerap ilmu luar tapi berhati Indonesia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































