Pernahkah kamu mendengar kalimat berikut, “mencari calon istri itu harus yang pintar karena kecerdasanya akan menurun ke anakmu nanti.” Atau, “perempuan itu harus pintar biar nurun ke keturunanmu nanti.”? Pernyataan tersebut kini banyak beredar di masyarakat terutama dalam lingkungan pendidikan, meyakini bahwa perempuan adalah rahim peradaban, dimana pendidikan serta pembentukan karakter generasi berikutnya sangat bergantung pada hasil didikan kedua orang tuanya terutama ibu. Hal inilah yang menjadi salah satu faktor betapa pentingnya untuk menyeleksi calon istri bagi seorang lelaki dan mempersiapkan diri untuk menjadi seorang ibu bagi seorang perempuan. Dilihat dari perspektif biopsikologi, kecerdasan merupakan hasil kerja dari sistem saraf yang kompleks, terutama pada integrasi jaringan otak yang melibatkan area fronto parietal, temporal, dan struktur subkortikal.
Fenomena pernyataan terkait kecerdasan ibu itu menurun ke anaknya memang benar adanya, lebih tepatnya genetika orang tua memengaruhi perkembangan kognitif terhadap sang anak. Namun, genetika ibu lebih besar pengaruhnya daripada genetika ayah terhadap perkembangan kognitif anak. “Menurut ahli genetika dari UMC Nijmegen Netherlands Ben Hamel, pengaruh itu sedemikian besar karena tingkat kecerdasan seseorang terkait dengan kromosom X berasal dari ibu.” ( Herlina & Nurjannah, 2017 )
Genetika ibu juga memiliki keterkaitan yang erat dengan perkembangan kognitif anak, seperti bahasa, memori, dan cara belajar sang anak. Hal ini disebabkan kemampuan kognitif memiliki komponen genetik yang kuat, serta didukung oleh struktur dan konektivitas pada biologis otak. Dengan demikian, genetik yang diwariskan ibu terhadap anaknya berkontribusi pada morfologi dan struktur otak anak, seperti volume pada bagian materi abu- abu atau putih yang berfungsi untuk mengirimkan sinyal dan menghubungkan bagian antar otak, hal ini tentu akan membuat anak memiliki kemampuan kognitif yang baik dalam berpikir dan menerima informasi seperti memori, bahasa, serta belajar.
Ternyata tak hanya genetika ibu saja yang memiliki keterkaitan dengan kemampuan kognitif anak yang berupa memori, bahasa, serta belajar, namun genetika sang ayah juga turut berperan dalam proses ini. Terkait memori, penelitian yang dilakukan oleh Savage et al. (2018) yang menggunakan metode berbasis genome-wide association study (GWAS) menunjukan bahwa genetik yang diwariskan oleh kedua orang berkontribusi terhadap kecerdasan dan fungsi memori anak melalui pengaruhnya pada ekspresi gen di korteks prefrontal dan hippocampus. Sehingga, efektifitas jaringan saraf yang terlibat dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi seperti pengambilan keputusan dan pemecahan masalah pada anak dapat ditentukan oleh varian gen orang tua melalui korteks prefrontal. Selain itu, bagian hippocampus juga memiliki pengaruh signifikan terhadap perkembangan kognitif, yakni sebagai proses pembentukan memori jangka panjang, sehingga anak memiliki kemampuan menyimpan informasi dengan baik dan dapat dengan mudah mengingat kembali ingatan sebelumnya.
Kemudian, keterkaitan genetika terhadap kemampuan bahasa anak dapat dilihat dari beberapa bagian otak yang memiliki kendali pada fungsi bahasa, seperti bagian neural yang berfungsi untuk pemrosesan bahasa, kemudian terdapat juga konektivitas antar neuron, dan mekanisme neurokimia yang mendukung pemahaman bahasa. Variasi genetika dari orang tua memiliki kemungkinan untuk menentukan efisiensi sinaps dan kapasitas neuroplastisitas otak. Sehingga, anak yang memiliki latar genetik orang tua yang bagus cenderung lebih cepat dalam menguasai bahasa, dan memahami kosakata yang baik. Pernyataan ini dibuktikan dengan adanya perbedaan genetik yang dapat memengaruhi kemampuan bahasa dan literasi sejak dini, studi berbasis kembar juga menunjukan bahwa kemampuan bahasa dan literasi termasuk fonologi memiliki kompoben herediter signifikan pada anak usia 6-7 tahun, sekitar 43-62% varians kemampuan bahasa dapat dijelaskan oleh faktor genetik.
Adapun pengaruh genetika terhadap kemampuan belajar anak, penelitian longitudinal oleh Thompson et al. (2024) menunjukan bahwa gen yang diwariskan orang tua membentuk ketebalan kortikal, volume materi abu-abu, serta konektivitas neural yang berkembang ketika masa anak-anak hingga remaja. Hal ini tentu memengaruhi efisiensi otak dalam bagaimana menerima, mengolah informasi baru. Namun, kemampuan belajar anak tidak hanya mutlak disebabkan oleh genetika saja, tetapi juga disebabkan oleh faktor lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak.
Jadi, perkembangan kognitif anak dapat dipengaruhi oleh genetika kedua orang tua terutama genetika dari ibu yang jauh lebih besar pengaruhnya dari genetika ayah. Tak hanya itu, peran lingkungan sosial juga turut mendukung perkembangan kognitif anak.
Referensi
Wulandari, F., Widiyaningrum, N., & Masturoh, U. (2024). Pengaruh Hereditas Terhadap Intelegensi Anak. SELING: Jurnal Program Studi PGRA, 10(1), 95-101. $ https://doi.org/10.29062/seling.v10i1.2171
$
Herlina, N., & Nurjanah, A. (2017). Membentuk Kecerdasan Otak Janin Selama Kehamilan. Jurnal Sehat Masada, 11(2), 157-161. $ https://ejurnal.stikesdhb.ac.id/index.php/Jsm/article/download/42/26
$
Basten, U., Hilger, K., & Fiebach, C. J. (2015). Where smart brains are different: A quantitative meta-analysis of functional and structural brain imaging studies on intelligence. Intelligence, 51, 10–27. $ https://doi.org/10.1016/j.intell.2015.04.009
$
Toga, A. W., & Thompson, P. M. (2005). Genetic of Brain Structure and Intelligence. Annual Reviw of Neuroscience, 28(1), 1-23. $ https://doi.org/10.1146/annurev.neuro.28.061604.135655
$
Savage, J. E., et al. (2018). Genome-wide association meta-analysis identifies new genetic and functional links to intelligence. Nature Genetics, 50(7), 912-919. $ https://doi.org/10.1038/s41588-018-0152-6$
Hohnen, B., & Stevenson, J. (1999). The Structure of Genetic Influence on General Cognitive, Language, Phonological, and Reading Abilities. Developmental Psychology, 35(2), 590-603. $ https://psycnet.apa.org/doi/10.1037/0012-1649.35.2.590$
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































