Apakah anda sering mendengar bahwa anak yang memiliki kemampuan bilingual akan merasa kesulitan dalam memproses Bahasa yang diterima, yang akhirnya anak akan mengalami speech delay? Semua keraguan ini akan dibahas tuntas berdasarkan kacamata Biopsikologi yang akan yang mencakup pembahasan mengenai definisi bilingualisme, cara kerja bilingualisme, dan pengungkapan apakah pernyataan tadi Adalah sebuah mitos atau fakta.
Apa itu Bilingualisme?
Istiah Bilingualisme tidaklah asing di era sekarang, banyak anak-anak generasi milenial hingga alpha sudah terpapar dengan kecanggihan teknologi yang dengan mudah tersebarnya informasi-informasi dan bilingualisme ini juga sudah terjadi bertahun-tahun lalu. Menurut KBBI, bilingual atau kedwibahasaan adalah kondisi dimana anak maupun orang dewasa menggunakan dua bahasa secara bergantian dalam melakukan interaksi sehari-hari. Hal ini tidak hanya berlaku pada Bahasa indonesi dan bahsa daerah, namun ini juga berlaku secara general. Sedangkan Jika dilihat berdasarkan perspektif biopsikologi, kondisi bilingual ini terjadi ketika otak memiliki kemampuan untuk mengelola dua bahasa aktif setiap hari yang menyebabkan perubahan pada elastisitas otak. Sehingga terjadinya peruahan pada otak seperti di bagian prefrontal cortex yang bertugas sebagai pusat kendali pikiran dan caudate nucleus yang bertugas dalam pemilihan kata menjadi lebih kuat dan efisien (Bialystok., et al., 2012).
Otak Bilingual: Bagaimana Cara Kerjanya?
Otak yang dikenal dengan elastisitasnya memiliki mekanisme unik pada cara proses Bahasa di otak bilingual, cara kerjanya sebagai berikut:
1. Korteks Auditori (Primary Auditory Cortex) atau sebuah Pintu Masuk Suara, yang terletak di sisi temporal (belakang telinga). Bagian ini berfungsi untuk menerima perkataan dari telinga.
2. Area Wernicke (Superior Temporal Gyrus/STG) yang terletak di Temporal superior kiri. Area ini berfungsi untuk mengubah suara yang sudah di dapat menjadi bermakna dan anak akan memahami sebuah kalimat itu.
3. Fasciculus Arcuatus yang terletak di antara temporal dan frontal yang difungsikan menjadi suatu jembatan dari bagian Wernicke ke Bronca melalui saraf untuk mengirim informasi.
4. Area Broca (Inferior Frontal Gyrus/LIFC) yang terletak di bagian Frontal inferior kiri untuk merencanakan atau memproduksi kata yang sudah di maknai menjadi sebuah kata, ucapan dan mempertimbangkan artikulasinya.
5. Anterior Cingulate Cortex (ACC) yang terletak di Tengah frontal berfungsi sebagai pemberian sinyal interferensi atau konflik bahwa terdapat dua Bahasa yang “bertabrakan” untuk segera dikendalikan.
6. Dorsolateral Prefrontal Cortex (DLPFC) terletak di depan bagian atas (eksekutif center) berfungsi untuk inhibasi (mematikan Bahasa yang sedang tidak digunakan) seperti switching language untuk memfokuskan otak bilingual dalam penggunaan bahasanya.
7. Struktur Subcortical: Caudate Nucleus & Putamen yang berlokasi di bagian dalam basal ganglia. Pada tahap ini Caudate Nucleus berfungsi sebagai alat pencari kata yang tepat di otak atau meyesuaikan kondisinya. Sedangkan bagian Putamen berfungsi sebagai Penggerak lidah & bibir. Dimana Putamen memberikan sinyal motorik supaya mulut gerak dengan benar sesuai pelafalan bahasa dan artikulasi suara. Bagian ini membuat bilingual menggunakan Bahasa secara efisien dan menjadi lancar dalam berbicara walaupun saat berganti bahasa.
8. Corpus Callosum & White Matter yang terletak di bagian Tengan sebagai jembatan yang menghubungkan jalannya sinyal sinyal saraf. Dimana Corpus Callosum berfungsi untuk terjadinya sinkronisasi informasi di bagian otak kiri (logika & bahasa) dan otak kanan (gambar & emosi). Sedangkan fungsi White Matter yaitu untuk membawa sinyal secara cepat antar area di otak.
Otak Bilingual punya 3 Superpower
1. Task-Switching
Berdasarkan penelitian Morton dan Harper (2007), anak bilingual lebih cepat untuk mengalihkan fokus antar tugas pada tes Simon Task dibandingkan monolingual (satu bahasa). Hal ini bisa membuktikan bahwa anak bilingual yang terbiasa terlatih dalam proses peralihan bahasa juga berdampak pada fokus peralihan tugas.
2. Memori Super
Memori kerja visuospatial dan verbal anak bilingual lebih superior, seperti pada studi Bongers et al. (2015) terhadap anak Turki-Belanda yang unggul secara signifikan.
3. Metalinguistik Tajam
Berdasarkan penelitian Pavlidou dan Antoniou (2022) Anak bilingual lebih peka terhadap struktur bahasa lintas dan bantu belajar bahasa baru dengan cepat.
Tantangan Bilingual Speech Delay, Fakta atau Mitos?
Tantangan bilingual bukanlah speech delay, melainkan code mixing (pergantian bahasa dalam satu kalimat) dikarenakan kosakata yang di dapat belum lengkap. Sehingga untuk menjawab pernyataan di awal, bahwa pernyataan di awal Adalah mitos, dimana bilingual tidak menyebabkan speech delay, namun memang benar terjadi code mixing pada anak dan ini hanya terjadi sementara saja serta merupakan suatu hal normal.
“The limits of my language mean the limits of my world.” – Ludwig Wittgenstein
Referensi:
Bialystok, E., Craik, F. I., & Luk, G. (2012). Bilingualism: consequences for mind and brain. Trends in cognitive sciences, 16(4), 240–250. https://doi.org/10.1016/j.tics.2012.03.001
Morton, J. B., & Harper, S. N. (2007). What did Simon say? Revisiting the bilingual advantage. Developmental Science, 10(6), 719–726. https://doi.org/10.1111/j.1467-7687.2007.00623.x
Bongers, C. M. H., de Jong, N. H., & Verhagen, J. (2015). Do bilingual Turkish-Dutch children show working memory benefits? Bilingualism: Language and Cognition, 18(4), 701–711. https://doi.org/10.1017/S1366728914000454
Pavlidou, A., & Antoniou, M. (2022). Boosting bilingual metalinguistic awareness under dual language activation. Language Learning, 72(3), 681–714. https://doi.org/10.1111/lang.12552
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































