Ramadhan kita sambut dengan penuh suka cita. Spanduk marhaban ya Ramadan terbentang dari kota hingga pelosok desa. Jadwal kajian tersebar di berbagai tempat. Masjid kembali hidup dan ramai oleh jamaah.
Namun ada satu pertanyaan mendasar yang jarang kita ajukan secara jujur kepada diri sendiri, apakah Ramadan benar-benar mengubah cara kita memperlakukan orang lain?
Di tengah masyarakat yang majemuk, beragam ras, budaya, organisasi, bahkan perbedaan pandangan keagamaan, sangat mudah bagi kita untuk terpecah dan saling berseberangan. Karena itu, Ramadan seharusnya tidak hadir hanya sebagai bulan ritual ibadah, tetapi sebagai gerakan moral dan sebuah revolusi akhlak yang menata ulang cara kita berpikir, berbicara, dan bersikap.
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga. Ia adalah latihan sunyi untuk mengendalikan ego. Ketika seseorang mampu menahan diri dari sesuatu yang halal demi ketaatan kepada Allah, seharusnya ia lebih mampu lagi menahan diri dari kebencian, amarah, dan prasangka terhadap sesama manusia.
Sulthanul Ulama, Izzuddin bin Abdussalam dalam kitab Maqashid ash-Shaum mengutip sabda Rasulullah ﷺ:
الصيام جُنَّة، فإذا كان يوم صوم أحدكم فلا يرفث يومئذ ولا يسخب
Artinya:
“Puasa itu adalah perisai. Maka apabila salah seorang di antara kalian sedang berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan jangan pula berteriak-teriak (bertengkar).”
Hadis ini mengajarkan bahwa puasa adalah perisai moral. Perisai itu bukan hanya melindungi kita dari dosa fisik, tetapi juga dari ledakan emosi dan kerusakan lisan. Jika saat berpuasa kita masih mudah mencaci, memaki, atau melampiaskan amarah, berarti perisai itu belum benar-benar kita gunakan.
Ironisnya, di bulan yang penuh ampunan ini, media sosial justru kerap dipenuhi ujaran kebencian, saling sindir, fitnah, dan debat tanpa adab. Padahal Rasulullah ﷺ juga mengajarkan bahwa ketika ada orang yang mengajak bertengkar, katakanlah: “Sesungguhnya aku sedang berpuasa.”
Kalimat itu bukan sekadar ucapan, tetapi pengingat bahwa kita sedang melatih diri menjadi pribadi yang lebih matang. Puasa adalah benteng moral, jika benteng itu runtuh oleh ego, maka yang tersisa hanyalah rasa lapar tanpa makna.
Menguatkan umat bukan berarti membangun tembok kebencian terhadap pihak lain. Kekuatan yang dibangun di atas amarah akan rapuh. Sebaliknya, kekuatan yang dibangun di atas akhlak akan kokoh dan tahan lama.
Perbedaan adalah keniscayaan sosial. Masyarakat kita hidup dalam keberagaman. Umat yang kuat adalah umat yang matang secara moral, teguh dalam prinsip, tetapi lembut dalam sikap. Berani menyampaikan kebenaran dengan cara yang santun, tidak mudah terprovokasi, tidak merendahkan, dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan permusuhan. Maka Ramadan harus melahirkan aksi nyata:
1. merajut kembali silaturahmi yang sempat terkoyak
2. berdamai dengan mereka yang pernah berselisih
3. menghidupkan budaya tabayyun, bukan menghakimi dan saling menjatuhkan
4. Merapatkan saf umat, tanpa menebar luka bagi yang tak sependapat
Inilah revolusi sejati Ramadan, perubahan yang tidak gaduh, tetapi berdampak.
Perubahan yang tidak harus viral, tetapi substansial. Kita tidak perlu menunggu banyak pengikut atau panggung besar. Mulailah dari diri sendiri, keluarga, dan dari lingkungan terdekat. (H.A)
Penulis : Hilman Abdullah, S.HUM
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































