Rangkiang: Penanggung Lapar Hidup Minangkabau
Pada zaman modern sekarang biasanya kita menyimpan bahan makanan seperti beras, roti-rotiyan dan lainnya, pada umumnya di dapur. Namun pada zaman dahulu Masyarakat Minangkabau memiliki tempat yang unik untuk menyimpan bahan-bahan makanan. Rangkiang adalah tempat persediaan makanan utama minangkabau, pada umumnya rangkiang ditemukan di halaman rumah gadang, rangkiang mengikuti bentuk rumah gadang. Dinding rangkiang terbuat dari anyaman bambu, rangkiang tidak memiliki jendela ataupun loteng. Kata “Rangkiang” adalah singkatan dari “Ruang Hyang” (Dewi Sri), Dewi Sri merupakan Dewi Beras, jadi secara keseluruhan Rangkiang dapat diartikan sebagai “room of the rice goddess”. Rangkiang terbagi menurut kegunaannya,
1. Rangkiang Si bayau-bayau, merupakan rangkiang terbesar dari seluruh jenis rangkiang. Si bayau-bayau memiliki minimal 6 kaki, pada istana Pagaruyung, Si bayau-bayau memiliki 12 kaki.
2. Rangkiang Sitinjau lauik (Yang mengeksplorasi lautan), Untuk menyimpan beras hasil panen yang akan dijual. Hasil uang yang dihasilkan dipergunakan untuk membeli apa yang tak bisa dihasilkan.
3. Rangkiang Tangguang Lapa (Yang menanggung kelaparan), untuk menyimpan beras yang akan dipakai saat di masa kelangkaan, yang berarti penyimpan pangan darurat. Si tangguang Lapa memiliki 4 kaki.
4. Rangkiang Kaciak, untuk menyimpan biji-biji padi, rangkiang kacik tidak memiliki atap seperti rangkiang pada umumnya, rangkiang kaciak merupakan bentuk rangkiang yang paling simple.
Rangkiang juga menggambarkan bagaimana keluarga yang memiliki rumah gadang tersebut, semakin banyak jumlah rangkiang di teras rumah gadangnya, maka semakin makmur keluarga tersebut, begitupun sebaliknya.
Secara linguistic, rangkiang berkembang dari kata ruang hyang, yang menjadi simbol keamanan padi dan menjadi sentral dari Minangkabau sejak zaman penjajahan. Selain itu ruang hyang juga menyimbolkan sebagai penghormatan terhadap kesuburan tanah dan hasil panen. Rangkiang banyak representasikan simbol yang menggambarkan masyarakat Minangkabau, Pertama Simbol Kesejahteraan rangkiang yang berada di halaman rumah gadang mencerminkan kemakmuran keluarga sekaligus mencerminkan status sosial keluarga tersebut, Kedua, Simbol bantuan sosial pada rangkiang tertentu seperti Si tangguang Lapa, digunakan untuk membantu tetangga dalam keadaan darurat, sebagai zakat, sedekah dan keperluan adat bersama, ini pun membuat tali silaturahmi lebih erat, Ketiga, Dukungan adat, rangkiang menyimpan ketersediaan padi untuk acara sakral seperti pernikahan, pengangkatan penghulu, dan kenduri dengan tujuan untuk memastikan nilai-nilai adat dan keberlangsungan tradisi tetap jalan seiringnya waktu.
Sejarah penggunaan rangkiang:
Penggunaan rangkiang berakar dari sistem pertanian sawah yang bergantung dengan musim. Rangkiang muncul sebagai sebagian adat matrilineal Minangkabau, dimana keluarga besar menyumbang hasil panen ke lumbung bersama di halaman rumah gadang. Setiap rangkiang dibangun melalui upacara adat untuk memohon berkah, menekankan gotong royong dan dalam pengelolaan stok makanan. Rangkiang mengalami perkembangan seiring teknologi dan budaya berkembang, seperti yang dikeahui rangkiang terbagi menjadi 4, rangkiang-rangkiang ini dikelola oleh bundo kanduang dan menjadi indikator status sosial suatu keluarga. Walau pada zaman sekarang fungsi praktis rangkiang sudah berkurang, rangkiang tetap lestari sebagai warisan budaya. Awalnya rangkiang memiliki fungsi sebagai penyimpan hasil panen, namun sekarang ini banyak rangkiang tidak digunakan lagi, masyarakat beralih ke gudang modern, dan penyimpanan beras komersial. Bahan bangunan tradisional seperti bambu dan kayu mulai tergantikan dengan seng, genteng dan beton. Saat ini rangkai mudah dijumpai di museum, rumah gadang wisata, dan desa adat sebagai ikon arsitektur.
Rangkiang memiliki peran dalam jaringan tolong menolong masyarakat Minangkabau, dengan cara menyediakan padi untuk musim paceklik dan kesulitan. Namun dalam pembagian isi rangkiang ada juga mekanisme tertentu seperti satu untuk sehari-hari, satu untuk dijual, satu untuk sosial, dan bantuan darurat. Ini memastikan keluarga untuk tetap makmur dan siap berbagi kepada sesama. Dampak sosial dari adanya rangkiang dalam kehidupan minangkabau adanya pola hidup hemat dan ingin saling membantu sesama, bukan hanya sebagai kekayaan pribadi tapi merupakan pasokan untuk membantu sesama yang memerlukan.
Dalam pembuatan rangkiang itu sendiri, memiliki rangkaian-rangkaian cara. Secara tradisional, rangkiang dibuat untuk menyimpan padi hasil panen dari hama dan banjir, proses pembuatan rangkiang mengandalkan teknik sambung tanpa paku, dan awet dari gempa.
Bahan utama Rangkiang:
1. Pondasi dan tiang: batu kali pipih untuk pondasi, seperti kayu melati, johar arau surian untuk tiang setinggi rumah gadang.
2. Dinding, anyaman bambu dua lapis, membentuk trapesium terbalik, untuk melindungi dari hujan.
3. Lantai dan atap, balok kayu untuk lantai, bambu untuk rangka gonjong, ijuk atau daun rumbia untuk penutup atap.
4. Pengikat tali rotan, Tali rotan, serat bambu, atau ijuk.
Teknik pembuatan:
Konstruksi dimulai dari pondasi batu, lalu tiang dipasang dengan sambungan pasak dan ikatan rotan agar fleksibel saat gempa. Dinding dibangun anyam bambu tanpa jendela, hanya lubang singkok di atas untuk akses via tangga bambu portabel. Atap gonjong dibentuk dengan reng bambu diikat ijuk, meniru bentuk t
anduk kerbau rumah gadang.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































