Masa Adven menjadi momen yang penuh makna bagi umat Katolik. Hal itu pula yang dirasakan para mahasiswa Akademi Keuangan dan Perbankan (AKUB) Grha Arta Khatulistiwa Pontianak saat mengikuti rekoleksi bertema “Kusiapkan Hatiku Tuhan: Mengisi Masa Adven dengan Pertobatan dan Prioritas.” Rekoleksi yang dibawakan Romo Serafikus Suarno tersebut menghadirkan suasana teduh namun penuh energi rohani.
Para mahasiswa mengaku, rekoleksi ini menyadarkan mereka tentang makna sejati Adven: menata hati, melakukan pertobatan, dan menetapkan prioritas hidup dengan benar. Pesan sederhana itu justru menjadi tepat sasaran di tengah kehidupan kampus yang serba cepat.
Salah satu peserta, Alexsa, menyampaikan bahwa ia mendapatkan banyak pengetahuan baru seputar liturgi Adven. Lebih dari itu, ia merasa terdorong untuk menjadi mahasiswa yang beriman dan memprioritaskan hal-hal yang benar dalam hidupnya.
Mahasiswa lain, Margaret, menegaskan bahwa masa Adven adalah waktu untuk kembali kepada Tuhan. Ia terkesan dengan penjelasan Romo bahwa pertobatan bukan ancaman, tetapi kabar sukacita bagi pendosa yang ingin pulang ke rumah Bapa. Dari rekoleksi ini, ia berkomitmen menjadi pribadi yang bijaksana dan dewasa.
Lira, yang baru pertama kali mengikuti rekoleksi Adven, mengaku mendapatkan pencerahan. Penjelasan Romo tentang kedewasaan dan prioritas hidup membuatnya lebih mudah memahami panggilan sebagai mahasiswa Katolik.
Bagi Anas, rekoleksi menjadi pengingat untuk memeriksa hati sebelum merayakan Natal. Ia membawa pulang komitmen untuk bertobat secara lebih sungguh-sungguh. Sementara itu, Susan mengaku rekoleksi ini mengajaknya belajar dari pengalaman rohani dan makin terdorong untuk bertobat.
Erika dan Wipi memberikan tanggapan yang lebih reflektif. Keduanya sepakat bahwa pertobatan tidak hanya soal mengaku dosa, tetapi usaha nyata untuk memperbaiki diri dan menjadikan Tuhan sebagai prioritas utama. Rekoleksi bagi mereka adalah kesempatan untuk memperdalam iman.
Winda menambahkan bahwa rekoleksi membantu dirinya lebih sadar akan pentingnya konsistensi dan kedewasaan rohani. Di sisi lain, Nelly—yang memberikan refleksi terpanjang—menyebut bahwa Adven adalah masa untuk menata hati, meninggalkan dosa, dan memperkuat panggilan misioner sebagai orang Katolik.
Dalam penjelasannya, Nelly menekankan bahwa masa Adven tidak sekadar menunggu Natal, tetapi juga mempersiapkan diri bagi kedatangan Kristus dalam hidup sehari-hari. Ia mengatakan bahwa rekoleksi ini sangat membuka mata dan menginspirasi dirinya untuk semakin dewasa dalam iman.
Peserta lain seperti Stella dan Cindi turut membagikan pengalaman serupa. Mereka menyoroti pentingnya kebiasaan doa, kerendahan hati, serta keteguhan iman di tengah tantangan hidup mahasiswa. Cindi secara khusus mengingatkan pentingnya konsistensi, baik dalam rencana hidup maupun dalam memegang teguh iman.

Dari sisi mahasiswa laki-laki, Marcel dan Vitalus melihat rekoleksi sebagai momentum untuk refleksi diri dan perbaikan sikap. Mereka merasa rekoleksi ini membantu memahami arti pertobatan dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Stefanus dan Aldo menyampaikan hal senada. Keduanya mengaku bahwa rekoleksi memperlihatkan bahwa pertobatan selalu membawa sukacita bagi siapa pun yang ingin berubah menjadi lebih baik.
Edo menyampaikan pesan bahwa menjadi Katolik berarti berani mengakui kesalahan dan memperbaiki diri. Sementara Rizky merasakan kedamaian setelah mengikuti rekoleksi—baginya, pertobatan membawa kelegaan batin.
Olga, peserta terakhir, menutup rangkaian kesan dengan penuh semangat. Ia mengaku rekoleksi ini membuatnya semakin termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan memiliki prinsip hidup yang kuat.
Dari keseluruhan tanggapan, terlihat jelas bahwa rekoleksi Adven di AKUB bukan hanya kegiatan rutin. Rekoleksi ini menjadi ruang refleksi yang menyentuh hati para mahasiswa, mengajak mereka kembali ke sumber sukacita sejati menjelang Natal.
Dengan langkah kecil namun bermakna, para mahasiswa AKUB membuktikan bahwa masa Adven dapat menjadi waktu untuk mengubah diri, menata hati, dan meneguhkan iman di tengah aktivitas akademik yang padat.
Rekoleksi ini bukan sekadar kegiatan kampus—melainkan perjalanan rohani yang mengantar mereka menuju Natal dengan hati yang lebih siap, lebih bersih, dan lebih penuh sukacita.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































