Jakarta, 28 Maret 2026 – Indonesia merupakan salah satu negara penghasil pisang terbesar di dunia dengan produksi mencapai sekitar 8–9 juta ton per tahun. Namun tingginya produksi tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan sistem penyimpanan dan distribusi yang efisien. Pisang termasuk buah yang sangat mudah rusak sehingga sering mengalami pembusukan selama proses penyimpanan di gudang distributor maupun pedagang. Kondisi ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit bagi petani dan pelaku usaha hortikultura.
Berangkat dari permasalahan tersebut, sekelompok siswa-siswi SMA ABBS (Al-Abidin Bilingual Boarding School) mulai mencari solusi nyata di lapangan. Tim yang terdiri dari Kanaya Surya, Azizah Naura, dan Gahrald Firmansyah ini kemudian mengembangkan sebuah inovasi teknologi bernama KAVRA, yaitu perangkat pemantauan kualitas udara berbasis sensor gas dan Internet of Things (IoT) yang dirancang untuk mendeteksi potensi pembusukan pisang secara lebih dini di ruang penyimpanan.
KAVRA bekerja dengan memanfaatkan sensor gas yang mampu membaca perubahan komposisi udara yang terjadi selama proses pematangan dan pembusukan buah. Ketika buah mulai mengalami penurunan kualitas, akan terjadi peningkatan gas tertentu di dalam ruang penyimpanan. Sensor pada perangkat KAVRA akan mendeteksi perubahan tersebut, kemudian data diproses oleh mikrokontroler dan dikirimkan secara otomatis melalui jaringan internet. Sistem ini juga dilengkapi indikator visual dan peringatan suara pada perangkat, serta notifikasi real-time melalui bot Telegram yang dapat diakses langsung dari ponsel pengguna.
Dengan sistem tersebut, pengguna dapat mengetahui kondisi ruang penyimpanan kapan saja dan dari mana saja tanpa harus melakukan pemeriksaan manual. Ketika terdeteksi potensi pembusukan, sistem akan memberikan peringatan sehingga pengguna dapat segera mengambil tindakan seperti meningkatkan ventilasi ruang penyimpanan, melakukan pemilahan buah, atau mempercepat distribusi sebelum kerusakan menyebar.
Yang menarik, inovasi ini tidak hanya berhenti pada tahap konsep, tetapi telah diwujudkan dalam bentuk prototype perangkat yang telah diuji secara langsung. Tim pengembang KAVRA bahkan telah melakukan uji coba lapangan bekerja sama dengan petani pisang, sehingga sistem dapat diuji pada kondisi penyimpanan yang sebenarnya. Melalui kerja sama ini, para siswa dapat memahami secara langsung tantangan yang dihadapi petani dan distributor dalam menjaga kualitas buah selama proses penyimpanan.
Menurut tim pengembang, salah satu keunggulan utama KAVRA adalah pendekatan teknologinya yang sederhana, ekonomis, namun tetap berbasis data dan digital. Berbeda dengan teknologi penyimpanan industri yang membutuhkan biaya tinggi dan infrastruktur kompleks, KAVRA dirancang agar dapat digunakan oleh gudang penyimpanan skala kecil hingga menengah, yang selama ini masih mengandalkan pemeriksaan manual.
Melalui inovasi ini, para siswa SMA ABBS berharap teknologi KAVRA dapat membantu mengurangi potensi kerugian akibat pembusukan buah, sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi sederhana dalam meningkatkan efisiensi distribusi hasil hortikultura. Ke depan, pengembangan KAVRA diharapkan dapat terus disempurnakan agar dapat diterapkan secara lebih luas dan memberikan kontribusi nyata dalam mendukung ketahanan pangan serta pengurangan kehilangan pascapanen di Indonesia.
Inovasi ini juga menjadi bukti bahwa kreativitas dan kepedulian generasi muda terhadap permasalahan nyata di masyarakat dapat melahirkan solusi teknologi yang aplikatif. Dengan pendekatan yang tepat guna dan berbasis kebutuhan lapangan, KAVRA berpotensi menjadi salah satu inovasi yang mendukung modernisasi sistem penyimpanan hasil pertanian di Indonesia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






























































