Stop Normalisasi Hijab Pashmina Tanpa Jarum Pentul: Antara Gaya dan Ketaatan
Dalam beberapa tahun terakhir, dunia fashion muslimah diramaikan dengan tren hijab pashmina tanpa jarum pentul. Gaya ini muncul sebagai pilihan praktis bagi perempuan yang ingin tampil modis tanpa repot. Namun, di balik kepopulerannya, muncul suara-suara yang menyerukan untuk “stop menormalisasi hijab pashmina tanpa jarum pentul”, terutama dari kalangan yang menilai tren ini mulai melenceng dari makna hijab yang sesungguhnya dalam syariat Islam.
Hijab Bukan Sekadar Tren
Hijab dalam Islam memiliki makna yang jauh lebih dalam dibandingkan sekadar mode berpakaian. Ia adalah simbol ketaatan, kesopanan, dan identitas muslimah. Dalam Al-Qur’an, perintah berhijab ditujukan agar perempuan menutup auratnya dan menjaga kehormatannya. Karena itu, bentuk dan cara pemakaian hijab seharusnya mencerminkan nilai tersebut.
Namun, tren hijab pashmina tanpa jarum pentul yang banyak beredar di media sosial sering kali menampilkan gaya yang tidak lagi menutup dada dan leher secara sempurna. Banyak model pashmina yang dipakai terlalu longgar, transparan, bahkan memperlihatkan sebagian rambut atau bentuk tubuh. Kondisi ini membuat sebagian umat merasa khawatir bahwa makna hijab mulai bergeser menjadi sekadar fashion statement, bukan lagi bentuk ibadah.
Fenomena ini menjadi lebih kompleks ketika gaya berpakaian tersebut dianggap “biasa” dan mulai dinormalisasi oleh masyarakat. Banyak remaja muslimah meniru gaya dari influencer tanpa mempertimbangkan nilai syariat di baliknya. Padahal, dalam Islam, sesuatu yang tidak sesuai tuntunan tidak seharusnya dinormalisasi, apalagi jika berpotensi menurunkan nilai kesopanan dalam berpakaian.
Normalisasi hijab pashmina tanpa jarum pentul bukan sekadar soal gaya, tetapi juga persoalan penurunan standar aurat yang seharusnya dijaga. Jika terus dibiarkan, bukan tidak mungkin generasi muda akan kehilangan pemahaman tentang tujuan berhijab yang sejati.
Berhijab dengan benar bukan berarti harus ketinggalan zaman. Islam tidak melarang perempuan untuk tampil rapi dan indah, selama tetap dalam koridor yang dibenarkan. Ada banyak cara untuk tetap tampil modern tanpa meninggalkan nilai-nilai kesopanan. Misalnya, menggunakan hijab pashmina dengan inner yang menutup leher dan dada, memilih bahan yang tebal, serta memastikan tidak ada bagian tubuh yang terbuka.
Hijab yang benar bukan yang menarik perhatian, melainkan yang menjaga kehormatan. Karena itu, muslimah perlu bijak dalam mengikuti tren agar tidak terjebak pada gaya yang justru menjauhkan dari makna hijab sebenarnya.
Tren boleh datang dan pergi, tetapi nilai syariat tidak berubah oleh zaman. Hijab bukan sekadar aksesori, melainkan bentuk pengabdian dan ketaatan kepada Allah SWT. Seruan “Stop Normalisasi Hijab Pashmina Tanpa Jarum Pentul” bukan berarti menolak kemajuan mode, tetapi mengingatkan agar gaya tidak mengalahkan iman.
Saatnya para muslimah kembali menegakkan nilai kesopanan dalam berpakaian dan menjadikan hijab sebagai bukti cinta kepada Allah, bukan sekadar pelengkap penampilan. Karena sejatinya, keindahan seorang muslimah terletak bukan pada bentuk hijabnya, melainkan pada niat dan ketaatannya.
Ayu Lestari
Mahasiswa Bimbingan dan Konseling Islam (BKI) Semester 7, IAIN Langsa
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer










































































