Stunting masih menjadi masalah serius yang menghantui masa depan anak-anak di Indonesia, dengan dampak yang tidak hanya terlihat dari tinggi badan, tetapi juga dari penurunan kapasitas kognitif yang bersifat permanen. Jumlah anak terkena stunting di Indonesia mencapai 19,8% yang menunjukan upaya penurunan stunting membutuhkan kerja keras dan kolaborasi yang lebih erat. Fokus utamanya adalah enam provinsi dengan jumlah balita stunting terbesar, yaitu Jawa Barat (638.000), Jawa Tengah (485.893), Jawa Timur (430.780), Sumatera Utara (316.456), Nusa Tenggara Timur (214.143), dan Banten (209.600). Pemberian protein hewani menjadi salah satu kunci dalam penanganan stunting. Contoh makanan seperti telur, daging, dan ikan menyediakan nutrisi lengkap yang esensial untuk tumbuh kembang anak.
Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita yang disebabkan oleh kombinasi kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, dan kurangnya stimulasi psikososial. Akibatnya, pertumbuhan fisik anak terhambat dan menjadi lebih pendek dari anak seusianya. Salah satu penyebab utama stunting adalah kurangnya asupan zat gizi, khususnya energi, protein, dan zinc. Kebutuhan protein pada balita sangat tinggi, jika asupan protein tidak mencukupi produksi Insulin-like Growth Factor (IGF-1) yang berperan penting dalam pertumbuhan tulang akan terganggu. Hal ini secara langsung menghambat laju pertumbuhan anak, yang kemudian menyebabkan stunting. Kurangnya asupan protein dapat menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan kematangan tulang. Hal ini terjadi karena protein berperan vital dalam membangun, menjaga, dan memperbaiki jaringan tubuh. Protein hewani memiliki kualiatas yang lebih unggul karena protein hewani dapat meningkatkan kadar IGF-1 dan mengandung mikronutrien penting seperti zat besi, seng, dan vitamin B12, sehingga lebih efektif dalam mengatasi stunting dibandingkan protein nabati.
Upaya menjaga pasokan protein hewani yang stabil harus dimulai dengan memberdayakan peternak kecil. Pemerintah dapat meluncurkan program yang berfokus pada bantuan bibit dan subsidi pakan. Penyediaan pakan berkualitas dari bahan lokal dengan harga terjangkau sangat penting untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan keuntungan peternak. Pelatihan rutin mengenai manajemen kesehatan ternak, sanitasi, dan biosekuriti akan membantu peternak mengurangi risiko penyakit dan meningkatkan efisiensi, sehingga produksi bisa lebih optimal dan berkelanjutan. Upaya pemerintah untuk memastikan gizi sampai kesasaran dengan adanya program khusus seperti “Gerakan Telur Sehat untuk Balita” di Posyandu dan “Program Makan Geratis” di Sekolah sebaiknya menggambil produk protein hewani dari peternak lokal atau daerah setempat sehingga dapat membantu mendistribusikan produk protein hewani dari peternak lokal kepada keluarga berisiko stunting atau kepada anak anak secara gratis dan melakukan edukasi kepada orang tua tentang pentingnya memberikan protein hewani kepada anak.
Keberhasilan program ini tidak bisa hanya ditanggung oleh satu pihak. Dibutuhkan kolaborasi sinergis dari berbagai pihak. Pemerintah, baik pusat maupun daerah, harus menjadi inisiator dan fasilitator dengan menyediakan anggaran, membuat kebijakan yang pro-peternak, dan mengawasi pelaksanaannya. Peternak harus berperan aktif dengan menerapkan standar produksi yang baik dan bergabung dalam kelompok atau koperasi. Strategi berbasis peternakan lokal adalah jawaban holistik untuk masalah stunting. Pemberdayaan peternak dan mengoptimalkan rantai nilai dari produksi hingga distribusi, kita tidak hanya menjamin ketersediaan protein hewani yang berkualitas, tetapi juga menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih kuat di tingkat pedesaan. Stabilnya ketersediaan produk protein hewani maka anakanak dapat tercukupi gizinya untuk mencegah tingginya ancaman stunting pada anak di usia dini dan diharapkan dapat mencapai penurunan angka stunting yaitu 08,8% di tahun 2025. Investasi pada sektor peternakan lokal bukan sekadar investasi bisnis, melainkan investasi terbesar untuk membangun generasi bangsa yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing di masa depan.
Referensi
Haryani, V. M., D. Putriana, dan R. W. Hidayati. (2023). Asupan Protein Hewani Berhubungan dengan Stunting pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Minggir. J. Amerta Nutrition. 7 (2): 139–146. DOI: 10.20473/amnt.v7i2SP.2023.13 9-146.
Kementrian Sekretariat Negara RI Sekretariat Wakil Presiden. (2025, 28 Mei). Prevalensi Stunting Indonesia Turun Ke 19,8%. stunting.go.id. Diakses pada 12 Agustus 2025, dari https://stunting.go.id/prevalensi-stunting-indonesia-turun-ke-198/.
Ramses, M. (2025, 26 Mei). Angka Stunting di Indonesia Turun dari 21,5% ke 19,8%, Jabar Paling Signifikan. Ntvnews.id. Diakses pada 12 Agustus 2025, dari https://www.ntvnews.id/news/0148976/angka-stunting-di-indonesia-turun-dari-215ke-198-jabar-paling-signifikan.
Pemerintah Kota Cimahi. (2024, 25 Januari). Rencana Pemerintah dalam Penanganan Stunting di Indonesia Tahun 2025. cimahikota.go.id. Diakses pada 12 Agustus 2025, dari https://cimahikota.go.id/artikel/detail/1576-ini-rencana-pemerintah-dalampenanganan-stunting-di-indonesia-tahun-2025.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer






































































