Padang- Perubahan pola cuaca dalam beberapa tahun terakhir membuat petani semakin bergantung pada informasi prakiraan cuaca. Namun di wilayah dengan keterbatasan akses internet, teknologi tersebut tidak selalu diakses melalui gawai. Di sejumlah desa, informasi cuaca dari aplikasi digital justru dicetak dan ditempel sebagai panduan menentukan musim tanam.
Informasi prakiraan cuaca ini biasanya diunduh oleh perangkat desa atau penyuluh pertanian saat jaringan tersedia. Data tersebut kemudian dicetak dan dibagikan kepada kelompok tani, atau dipasang di balai desa agar dapat diakses bersama.
“Kalau mengandalkan internet, tidak tentu bisa dibuka. Jadi kami cetak saja supaya semua petani bisa melihat,” ujar seorang ketua kelompok tani di wilayah pedesaan yang belum memiliki koneksi internet stabil.
Praktik ini muncul sebagai bentuk adaptasi atas meningkatnya risiko gagal panen akibat ketidakpastian cuaca. Perubahan iklim membuat pola musim sulit diprediksi hanya dengan perhitungan tradisional yang selama ini digunakan petani.
Penyuluh pertanian setempat menjelaskan bahwa informasi yang dicetak biasanya berasal dari aplikasi atau situs prakiraan cuaca resmi. Data tersebut mencakup perkiraan curah hujan, suhu, serta potensi cuaca ekstrem untuk periode mingguan hingga bulanan. Pembaruan dilakukan setiap dua hingga tiga minggu, menyesuaikan ketersediaan jaringan.
“Petani tidak perlu memahami aplikasinya. Mereka cukup membaca ringkasan informasi yang sudah disederhanakan,” kata dia.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyatakan bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem yang berdampak langsung pada sektor pertanian. Namun, pemanfaatan informasi cuaca berbasis digital masih menghadapi tantangan infrastruktur, terutama di wilayah pedesaan dan terpencil.
Kondisi ini menunjukkan adanya jarak antara inovasi teknologi dan realitas lapangan. Banyak aplikasi pertanian dirancang dengan asumsi akses internet yang stabil, sementara sebagian petani masih menghadapi keterbatasan jaringan dan perangkat.
Pengamat pertanian menilai penggunaan informasi cuaca secara offline sebagai bentuk “penerjemahan teknologi” agar sesuai dengan kondisi pengguna. Menurutnya, keberhasilan digitalisasi pertanian tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan sistem, tetapi oleh sejauh mana teknologi tersebut dapat diadaptasi.
“Di lapangan, teknologi sering diubah bentuknya agar bisa digunakan. Dicetak, diringkas, bahkan dibagikan secara manual. Ini realitas yang jarang dibicarakan,” ujarnya.
Bagi petani, informasi cuaca cetak dinilai membantu mengurangi risiko kesalahan waktu tanam. Meski tidak selalu akurat, pendekatan ini dianggap lebih baik dibanding mengandalkan perkiraan tradisional semata di tengah perubahan iklim yang semakin sulit diprediksi.
Sejumlah kelompok tani berharap ke depan ada dukungan teknologi yang secara khusus dirancang untuk kondisi tanpa internet. Tanpa pendekatan semacam itu, transformasi digital pertanian dikhawatirkan hanya menjangkau petani dengan akses infrastruktur memadai.
Ditulis Oleh:
Muhammad Haikal Yasin
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer































































