Garut, 31 Desember 2025 – Berawal dari ruang-ruang kelas sederhana di madrasah yang berada di bawah naungan Kementerian Agama Kabupaten Garut, sebuah karya literasi lahir dengan penuh ketulusan dan kejujuran rasa. Buku berjudul Celoteh, karya Insan Faisal Ibrahim, S.Pd, seorang Guru Madrasah, kini telah “terbang bebas” melintasi batas geografis dan budaya hingga ke Negeri Formosa, Taiwan. Sebuah capaian yang tidak hanya membanggakan secara personal, tetapi juga menjadi simbol bahwa gagasan, nilai, dan suara guru madrasah Indonesia mampu menembus dunia internasional.
Buku Celoteh sampai ke Taiwan melalui tangan Willy Wiryawan, A.Md.T., seorang pemuda berprestasi asal Indonesia yang saat ini tengah menempuh pendidikan berkat beasiswa di Universitas Cheng Shiu (Cheng Shiu University/CSU) yang terletak di Distrik Niaosong, Kota Kaohsiung, Taiwan. Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa internasional, Willy membawa serta buku tersebut bukan sekadar sebagai bacaan, melainkan sebagai penguat diri dan pengobat rindu akan tanah air tercinta.
Willy mengungkapkan bahwa kehadiran buku Celoteh memberikan makna tersendiri bagi dirinya dan mahasiswa Indonesia lainnya di Taiwan. “Buku ini seperti teman bicara. Tulisan-tulisannya sederhana, jujur, dan sangat dekat dengan realitas kehidupan. Saat rindu Indonesia, membaca Celoteh seolah membawa pulang ingatan tentang rumah, tentang nilai-nilai yang membentuk kami,” ujar Willy. Willy juga menambahkan bahwa isi buku tersebut ternyata menarik perhatian mahasiswa Indonesia lainnya, bahkan memicu diskusi kecil dan keinginan untuk mengkaji lebih dalam gagasan yang disampaikan penulis.

Lebih jauh, Willy menyampaikan bahwa banyak mahasiswa merasa tulisan dalam buku Celoteh sarat dengan refleksi kehidupan, semangat belajar, keikhlasan dalam mengabdi, serta pesan-pesan moral yang relevan bagi generasi muda yang sedang berjuang menuntut ilmu di negeri orang. “Bukan hanya saya, teman-teman mahasiswa Indonesia di sini juga tertarik. Mereka penasaran dengan sudut pandang penulis, terutama karena buku ini ditulis oleh seorang guru madrasah yang kesehariannya dekat dengan dunia pendidikan dan nilai-nilai karakter,” tuturnya.
Bagi Insan Faisal Ibrahim, S.Pd, kabar bahwa bukunya kini berada dan dibaca di luar negeri merupakan sesuatu yang sangat membanggakan sekaligus mengharukan. Ia mengaku tidak pernah membayangkan bahwa karya yang ditulis dengan niat sederhana dan penuh keterbatasan tersebut dapat menyeberangi batas negara. “Jujur, ini di luar dugaan saya. Bahkan bisa dikatakan mustahil. Saya menulis Celoteh tanpa target besar, hanya ingin menuangkan pikiran, perasaan, dan pengalaman hidup. Ketika tahu buku ini sampai ke Taiwan dan dibaca oleh mahasiswa Indonesia di sana, rasanya campur aduk antara syukur, haru, dan bangga,” ungkap Insan.

Insan menambahkan bahwa pencapaian ini menjadi motivasi besar bagi dirinya dan rekan-rekan guru lainnya, khususnya guru madrasah, untuk terus berkarya dan menulis. Menurutnya, keterbatasan bukanlah penghalang untuk melahirkan karya yang bermanfaat. “Siapa sangka, tulisan guru madrasah dari Garut bisa menemani anak-anak bangsa di luar negeri. Ini menjadi pengingat bahwa karya tulis memiliki daya jelajah yang luar biasa, selama ditulis dengan kejujuran dan niat baik,” katanya.
Kisah Celoteh yang kini hadir di Taiwan menjadi bukti nyata bahwa literasi adalah jembatan yang mampu menghubungkan hati, pikiran, dan identitas bangsa, meskipun terpisah oleh ribuan kilometer. Lebih dari sekadar buku, Celoteh menjelma menjadi penguat jati diri, pengikat rasa kebangsaan, serta sumber inspirasi bagi mahasiswa Indonesia di perantauan.
Perjalanan buku ini juga menjadi pesan kuat bagi para pendidik dan generasi muda di tanah air bahwa menulis adalah bentuk pengabdian yang abadi. Dari madrasah di Garut hingga kampus internasional di Kaohsiung, karya seorang guru telah membuktikan bahwa mimpi besar dapat berawal dari langkah kecil. Sebuah kisah yang menginspirasi banyak orang untuk terus berkarya, berbagi, dan percaya bahwa setiap tulisan memiliki kemungkinan untuk terbang bebas, sejauh niat dan ketulusan penulisnya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































