Kita sering mendengar istilah Quarter Life Crisis (QLC), sebuah fase yang kini akrab di telinga generasi muda terutama usia 20 hingga 30 tahun. QLC adalah masa ketika individu merasa cemas, ragu, dan mempertanyakan arah hidup di tengah tekanan tuntutan sosial dan gemerlap media digital. Kami, sebagai konselor dengan perspektif Islami, melihat fenomena ini bukan sekadar krisis psikologis biasa, melainkan sebuah krisis spiritual yang mendalam. Tekanan untuk mencapai “sukses” di usia muda, yang kini diukur dari highlight reel unggahan media sosial, telah membuat jiwa menjadi letih dan tercerabut dari fitrahnya.
Secara psikologis, QLC sering dipicu oleh dua hal: tekanan ekspektasi (dari diri sendiri atau lingkungan) dan Fear of Missing Out (FOMO). Saat kita terus membandingkan behind the scenes kehidupan kita yang penuh perjuangan dengan public image orang lain yang tampak sempurna, kesehatan mental kita terancam. Rasa cemas, iri, dan keputusasaan ini muncul karena kita gagal menemukan pijakan yang stabil yaitu tujuan hidup sejati yang melampaui capaian materi yang fana.
Lalu, bagaimana Islam memandang dan memberikan solusi atas kegelisahan ini? Kunci utama untuk keluar dari labirin QLC adalah Tazkiyatun Nafs (Penyucian Jiwa). Daripada berfokus pada apa yang belum kita capai di mata manusia, marilah kita fokus pada kualitas hati dan amal kita di hadapan Allah SWT. QLC bisa menjadi alarm ilahi yang menyadarkan kita bahwa ada kekosongan di dalam jiwa yang tidak akan pernah bisa diisi oleh gelar, jabatan, atau jumlah pengikut di media sosial. Kekosongan itu hanya dapat terisi dengan kedekatan, ketaatan, dan zikrullah.
Allah SWT telah menjamin ketenangan jiwa bagi hamba-Nya. Dalam Al-Qur’an, disebutkan:
{ َ بوُ ل ُق ْ لٱ نِئ َم ْطَت ُ ل ل ّٱ رْكِذِ ب ِ َ لَ أ ِ }
Artinya: “Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 28).
Ketenangan sejati tidak terletak pada kecepatan kita meraih target duniawi, melainkan pada keikhlasan kita menjalani proses dan memasrahkan hasil pada Sang Pencipta.
Dalam praktik Bimbingan dan Konseling (BK), kita dapat menerapkan Tazkiyatun Nafs melalui dua langkah spiritual-psikologis:
1. Mengaktifkan Self-Control (Kontrol Diri): Kita perlu melatih diri untuk membatasi input negatif dari media sosial yang memicu perbandingan tidak sehat. Kendalikan ghirah (gairah) kita untuk mengejar pengakuan manusia. Ingatlah bahwa dunia adalah ladang amal, dan waktu kita terlalu berharga untuk dihabiskan demi validasi online.
2. Menerapkan Husnudzon (Berprasangka Baik kepada Allah): Kita harus yakin bahwa setiap delay, kegagalan, atau kesulitan yang kita alami adalah bagian dari skenario terbaik yang telah Allah susun. Husnudzon ini adalah fondasi bagi coping mechanism yang positif dan mental yang sehat. Kita diajarkan untuk fokus pada kualitas, bukan kuantitas.
Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah melihat kepada hati dan amal perbuatan kalian.” (HR. Muslim). Saat kita dilanda QLC, ingatlah pesan hadis ini. Nilai kita tidak diukur dari apa yang orang lain lihat tidak diukur dari gaji, merek mobil, atau seberapa jauh kita telah melancong melainkan dari kualitas hati dan konsistensi amal kita.
Mari kita ubah QLC dari krisis menjadi titik balik spiritual momen untuk menyusun ulang prioritas hidup, menjadikan Akhirat sebagai tujuan utama, dan dunia sebagai jembatan yang harus kita lalui dengan penuh integritas. Tugas kita sebagai hamba hanya berjuang (Jihadun Nafs); hasil dan ketenangan adalah milik Allah.
Semoga kita semua diberi kekuatan dan panduan untuk menjalani masa-masa penuh tantangan ini dengan hati yang tenang dan jiwa yang tersucikan. Wallahu a’lam bish-shawab.
Penulis: 1. Muslikah 2. Deviana Pratiwi 3. Lailatun Natza 4. Hilda Fardiana
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































