Transformasi Pendidikan Inklusif Menuju Pembangunan Berkelanjutan Global
Pendidikan tidak sekedar mengajarkan belajar membaca dan menulis. Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembangunan masa depan yang adil dan berkelanjutan. Pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang menyediakan lingkungan yang ramah bagi semua, termasuk anak-anak dengan disabilitas, perempuan, dan kelompok minoritas. Pendidikan inklusif dapat mengurangi kesenjangan gender, yang mendukung SDG 5 (Kesenjangan Gender).
Sustainable Development Goals (SDGs) atau Tujuan Pembangunan Berkelanjutan merupakan program yang disepakati oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 25 September tahun 2015 dalam mengatasi tantangan global. Program ini bertujuan untuk mendorong perubahan berdasarkan prinsip hak asasi manusia serta memastikan kesetaraan dalam pembangunan sosial, ekonomi, dan lingkungan. SDGs mencakup 17 tujuan dengan 169 target untuk agenda ketercapaian hingga tahun 2030.
Khususnya SDG 4 menargetkan “ Pendidikan Berkualitas” untuk semua, dengan fokus pada akses universal hingga tahun 2030. Namun, data UNESCO Institute for Statistics (2023), menunjukkan bahwa sekitar 244 juta anak dan remaja masih banyak yang tidak bersekolah, sebagian besar dari keluarga miskin atau daerah terpencil. Ini merupakan salah satu hambatan bagi SDG lainnya.
Pendidikan inklusif sendiri mendorong kesadaran tentang lingkungan pendidikan. Transformasi atau perubahan tidaklah mudah, banyak rintangan besar dihadapi. Contohnya pada masa Pandemi Covid-19 memperburuk ketimpangan digital, menurut UNESCO (2021), 1,6 miliar siswa terdampak dengan anak-anak di daerah pedesaan yang kehilangan akses internet.
Pemerintah telah berkomitmen untuk mendorong transformasi penidikan inklusif melalaui target SDGs. Pada SDGs 4 (Pendidikan Bermutu) memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara, juga mendukung kesempatan belajar seumur hidup bagi semua. Penyelenggara pendidikan inklusif tidak hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan masyarakat hedaknya selalu dilibatkan dalam memajukan pendidikan.
Tahun 2030 pemerintah menargetkan secara subtansial menghilangkan disparitas gender dalam pendidikan dan memastikan akses yang setara terhadap tingkatan pendidikan dan training kejuruan bagi mereka yang rentan, termasuk siswa disabilitas, masyarakat adat, dan anak-anak yang berada dalam situasi rentan. Oleh karena itu, diperlukannya kesadaran masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang inklusif dan saling menghargai perbedaan. (Mustaqim, 2024)
Target lainnya adalah pada tahun 2030, secara subtansial meningkatkan penyediaan guru-guru yang berkualitas, termasuk melalui kerjasama internasional untuk pelatihan guru di negara berkembang, dan memastikan bahwa mereka yang belajar mendapatkan pengetahuan dan keahlian yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Pendidikan inklsuif bukanlah impian yang jauh, melainkan mendidik generasi masa depan dalam memerangi kemiskinan, ketimpangan, dan krisis iklim. Penerapan pendidikan inklusif yang adil dan berkelanjutan, dapat mendorong anak-anak yang berada dalam situasi rentan mendapatkan pendidikan yang relevan. Terus mendorong pemerintah, sekolah, dan komunitas untuk berinvestasi dalam transformasi menuju pembangunan berkelanjutan global.
Oleh : Ririn Septianingrum, Mahasiswa Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang.
Referensi:
Indriyani Rachman, P., & Retnowati, R. (2023). Implementasi SDGs pada pembelajaran pendidikan lingkungan. uwais inspirasi indonesia. https://books.google.co.id/books?id=gK6mEAAAQBAJ&printsec=copyright&hl=id
Mustaqim, R. (2024). Manajemen pendidikan yang mengakomodasi anak berkebutuhan khusus melalui pendekatan holistik. Jurnal Pendidikan Inklusi Citra Bakti, 2(1), 21–31. https://jurnalilmiahcitrabakti.ac.id/jil/index.php/jpicb/article/view/3495
Perserikatan Bangsa-Bangsa. (2023). The Sustainable Development Goals Report 2023. https://indonesia.un.org/id/sdgs
UNESCO Institute for Statistics. (2023). Global Education Monitoring Report 2023. https://unesdoc.unesco.org/ark:/48223/pf0000385723
UNESCO. (2021). Education: From Disruption to Recovery. https://www.unesco.org/en/covid-19/education-response
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































