SLEMAN, YOGYAKARTA – Bermula dari sebuah kanal TikTok yang fokus mendokumentasikan khazanah pencak silat Pagar Nusa, Trisula Institut kini resmi mengukuhkan perannya sebagai lembaga pemerhati budaya yang diperhitungkan di Daerah Istimewa Yogyakarta. Gerakan yang lahir dari bumi Sleman ini telah melampaui batas-batas konten digital dan merambah ke aksi nyata di dunia luring.
Transisi ini menandai babak baru bagi Trisula Institut dalam menjaga marwah tradisi di tengah arus modernisasi. Di bawah kepemimpinan Maharesi, S.Sn., S.Hum., lembaga ini tidak lagi hanya sekadar pembuat konten (content creator), melainkan telah bertransformasi menjadi wadah kajian ilmiah dan advokasi kebudayaan.
Sinergi Akademis dan Tradisi
Kehadiran Maharesi sebagai representasi Trisula Institut membawa warna baru dalam diskursus budaya di media sosial. Dengan latar belakang pendidikan seni dan humaniora, ia berhasil menyelaraskan antara ketajaman analisis akademis dengan nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh para leluhur.
“Kami tidak ingin budaya hanya berhenti sebagai tontonan di layar gadget. Trisula Institut berkomitmen membawa diskursus itu ke ruang publik nyata, menjadikannya landasan berpikir bagi generasi muda,” ujar Maharesi, S.Sn., S.Hum. dalam sebuah kesempatan.
Bergerak di Luar Algoritma
Meski besar dari algoritma TikTok, Trisula Institut kini aktif melakukan berbagai kegiatan yang berdampak langsung pada pelestarian budaya, di antaranya:
Kajian Literasi Sejarah: Membedah naskah dan filosofi Jawa melalui perspektif humaniora yang relevan dengan zaman sekarang.
Pengawalan Isu Budaya: Menjadi jembatan antara komunitas akar rumput dengan pemangku kebijakan dalam upaya pelestarian tradisi.
Kolaborasi Lintas Disiplin: Menggabungkan elemen seni pertunjukan dengan kajian sejarah untuk melahirkan narasi budaya yang segar.
Menjaga Marwah dari Sleman
Keberhasilan Trisula Institut merupakan bukti bahwa media sosial dapat menjadi pintu masuk yang efektif untuk gerakan intelektual yang lebih besar. Dari sekadar membahas teknik dan sejarah Pagar Nusa, mereka kini menjadi benteng bagi keberlangsungan budaya Nusantara secara luas.
Dengan semangat nguri-uri kabudayan, Trisula Institut yang berpusat di Sleman ini membuktikan bahwa anak muda mampu menjadi garda terdepan dalam merawat identitas bangsa, asalkan memiliki dasar ilmu dan keberanian untuk bergerak di luar zona nyaman digital. (yn)
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































