“Barangsiapa tidak berani, dia tidak akan menang, itulah semboyanku! Maju! Semua harus dimulai dengan berani!” – RA Kartini
Saat Medan Perang Berpindah ke Layar
Srikandi bukan hanya tokoh dalam cerita lama, melainkan simbol keberanian perempuan yang melintasi zaman. Jika dahulu ia mengangkat busur di medan perang, maka hari ini Srikandi hadir di ruang digital, membela, bersuara, dan menciptakan ruang aman dari kekerasan berbasis gender online.
Kini, “perang” itu tidak lagi terdengar sebagai senjata dentuman. Ia hadir dalam bentuk komentar yang membahas, ancaman di pesan pribadi, hingga penyebaran konten tanpa izin. Sunyi, tapi melukai.
Apa itu Kekerasan Berbasis Gender Online?
Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) adalah segala bentuk kekerasan yang difasilitasi teknologi digital dengan tujuan menyerang seseorang berdasarkan gender atau seksualitasnya. Bentuknya beragam, mulai dari ancaman penyebaran konten intim, pengambilan foto/video tanpa izin, penyebaran dan penyebaran seksual, penyebaran data pribadi (doxing), manipulasi foto ke konten pornografi, pemerasan seksual online, hingga peniruan akun.
masalahnya? Ini bukan kasus kecil. Data SAFEnet (2025) menunjukkan terdapat 2.382 kasus KBGO pada tahun 2025 yang meningkat 25,23% dari tahun sebelumnya dengan 1.902 kasus. Korban didominasi perempuan yaitu sebanyak 1.531 kasus dibandingkan laki-laki sebanyak 778 kasus dengan mayoritas pada rentang usia 18-35 tahun sebanyak 1.372 kasus, diikuti usia di bawah 18 tahun sebanyak 584 kasus.
Angka ini bukan sekadar statistik belaka, tetapi angka ini menunjukkan bawah ruang digital kita belum sepenuhnya aman dan siapa pun bisa menjadi korban.
Dampak yang Tak Terlihat, Tapi Nyata
KBGO bukan sekedar “masalah online”. Dampaknya nyata dan serius. Korban KBGO dapat mengalami tekanan psikologis, seperti ketakutan, kecemasan, hingga depresi. Mereka juga rentan mengalami keterasingan sosial, menarik diri dari lingkungan, kehilangan rasa aman, bahkan mambatasi aktivitas sehari-hari. Dalam beberapa kasus, dampaknya meluas hingga gangguan kesehatan fisik dan munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.
Mengapa ini Terjadi?
Salah satu akar permasalahannya adalah rendahnya kesadaran masyarakat terhadap isu kekerasan berbasis gender di ruang digital. Hal ini diperparah oleh budaya menyalahkan korban serta kurangnya literasi digital berbasis empati dan penghargaan terhadap sesama. Akibatnya, perempuan masih menjadi kelompok yang paling rentan mengalami KBGO.
Solusi: Tri-Srikandi Digital Nusantara
Kita tidak kekurangan pahlawan perempuan. Yang kita perlukan adalah menghidupkan kembali semangat mereka dalam bentuk yang relevan dengan zaman ini. Dari lahirnya konsep ‘Tri-Srikandi Digital Nusantara”, yaitu tiga peran sederhana yang kuat dan bisa dilakukan oleh siapa saja.
1. Pembela (The Defender): “Berani berdiri saat melihat ketidakadilan”
Hal ini dapat dilakukan dengan tidak ikut menyebarkan konten yang merugikan korban, menegur komentar yang melecehkan, serta memberikan dukungan kepada korban. Pada kenyataannya, diam juga bisa menjadi bentuk pembiaran.
2. Pelapor (The Truth Teller): “Berani bersuara dan melaporkan”
Hal ini dapat dilakukan dengan melaporkan akun pelaku ke platform digital, mendokumentasikan bukti kekerasan, serta membantu korban mengakses bantuan hukum atau layanan psikologis. Keadilan tidak akan hadir jika semua memilih diam.
3. Pembuat Ruang Aman: “Menciptakan ruang digital yang sehat dan inklusif”
Hal ini dapat dilakukan dengan menyebarkan konten positif, membangun komunitas yang suportif, serta menjadi individu yang aman dan tidak menghakimi bagi korban untuk bercerita. Dunia digital seharusnya menjadi tempat bertumbuh, bukan tempat terluka.
Siapa yang Harus Bergerak?
Perubahan tidak bisa dilakukan sendiri. Ini adalah gerakan bersama. Keluarga berperan dalam membangun komunikasi terbuka serta menanamkan empati dan batasan sejak dini. Sekolah memiliki tanggung jawab untuk memberikan edukasi literasi digital berbasis gender. Pemerintah perlu memperkuat regulasi dan memastikan perlindungan serta penegakan hukum berjalan efektif. Pada akhirnya, kita semua memiliki peran untuk memilih peduli dan tidak diam.
Dulu, perempuan berjuang untuk mendengarkan. Hari ini, mereka berjuang untuk tidak disakiti di ruang yang tak terlihat. Jika kita masih diam, maka kekerasan akan terus menemukan ruangnya. Namun, jika kita bergerak bersama, kita bisa mengubahnya. Saatnya menjadi Srikandi Digital: bukan hanya untuk bertahan, tetapi untuk membela, bersuara, dan menciptakan ruang aman bagi semua.
Kegiatan webinar bertema “Menulis untuk Membangun Solidaritas: Hentikan KBGO, Mulai Perubahan!” Percakapan oleh Jaringan Gender Indonesia berkolaborasi dengan Program Studi Jender dan Pembangunan Universitas Hasanuddin, Komunitas Blogger Anging Mammiri, Komunitas Emak Blogger, Yayasan Melatis, Kohati Badko Sulsel dan Pelakita.ID
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com - Syarat dan Ketentuan - Kebijakan Privasi - Panduan Komunitas - Disclaimer








































































