Di lantai bursa, dua tahun adalah waktu yang cukup untuk mengubah segalanya. Jika di Januari 2024 WIKA Beton (WTON), Waskita Beton Precast (WSBP), dan PP Presisi (PPRE) tercatat dalam kondisi serupa—terpukul oleh ketidakpastian pada induk usaha BUMN Karya—maka hari ini situasinya telah bermetamorfosis menjadi tiga narasi bisnis yang sama sekali berbeda.
Perbedaan tersebut tidak lagi sekadar soal sentimen pasar, melainkan divergensi fundamental yang nyata. Melalui analisis perbandingan neraca, arus kas, dan prospek bisnis, menjadi jelas mengapa WTON mengambil posisi di garis depan, sementara WSBP masih tertindas oleh beban restrukturisasi dan PPRE berlari di jalur yang lebih spekulatif.
Status Quo Awal: Januari 2024 dan Krisis Kepercayaan Sistemik
Pada kuartal pertama 2024, ketiga emiten beton ini menghadapi turbulensi yang sama namun dengan intensitas berbeda. WSBP, yang sudah lebih dulu terjebak dalam prosedur Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU), adalah pihak terburuk. Sahamnya bergerak di papan pemantauan khusus dengan volatilitas ekstrem, sementara ekuitas mereka tercatat negatif—sebuah kondisi yang menunjukkan liabilitas telah melampaui aset.
PPRE mengalami tekanan dari perspektif leverage dan sentimen pasar terhadap induk usahanya. Meskipun operasi konstruksi mereka berjalan, investor meragukan keberlanjutan model bisnis yang bergantung sepenuhnya pada proyek infrastruktur.
WTON, di sisi lain, menampilkan anomali yang signifikan. Meskipun harganya juga tertekan—berkisar Rp100 per saham—catatan keuangannya menceritakan kisah yang berbeda. Tanpa PKPU dalam sejarah perusahaan, tanpa krisis ekuitas, dan dengan rasio utang terhadap ekuitas (DER) yang terjaga, WTON adalah korban sentimen pasar, bukan korban fundamental bisnis. Data operasionalnya tetap sehat, dengan arus kas dari aktivitas operasi yang positif berkelanjutan.
Tahun 2025: Seleksi Alam dan Divergensi Jelas
Jika 2024 adalah masa ketidakpastian kolektif, maka 2025 adalah tahun ketika pasar memisahkan “pemenang” dari “yang berjuang”. Momentum ini terlihat dengan jelas pada kuartal pertama 2025, ketika WTON mencapai fase titik terendah pada level Rp75–Rp80. Periode ini menjadi peluang pembelian bagi investor institusional yang membaca data dengan cermat.
Fundamental WTON pada saat itu menunjukkan sinyal yang kuat: arus kas operasional positif, proyek Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai mencair pembayarannya, dan kontrak baru terus masuk. Di semester pertama 2025, perusahaan mencatat laba Rp4,35 miliar dengan kontrak baru senilai Rp2,10 triliun. Proyeksi tahun buku 2024 menunjukkan laba bersih mencapai Rp65 miliar dengan pertumbuhan 90,48 persen tahun ke tahun, sementara pendapatan tumbuh 16,48 persen menjadi Rp4,89 triliun.
Sementara itu, WSBP terus berjuang dengan proses homologasi. Hingga September 2025, mereka telah menyelesaikan enam tahap pembayaran Aliran Kas Tersedia untuk Layanan Utang (CFADS) senilai total Rp542 miliar kepada kreditur. Pencapaian mereka dalam konversi utang—91 persen dari Rp1,7 triliun utang vendor telah dikonversi menjadi ekuitas senilai Rp1,5 triliun—menunjukkan manajemen bekerja sesuai jadwal. Namun, data finansial pada kuartal pertama 2025 mengungkapkan ekuitas tetap negatif Rp1,76 triliun dan arus kas operasional bernilai negatif Rp143,7 miliar. Ini berarti setiap aktivitas komersial perusahaan harus disubsidi oleh likuiditas yang telah dikurangi oleh kewajiban restrukturisasi.
PPRE melangkah ke arah yang signifikan berbeda. Strategi diversifikasi ke sektor pertambangan nikel, yang awalnya dianggap sekadar lindung nilai risiko sektor konstruksi, terbukti menghasilkan penciptaan nilai yang nyata. Kontrak baru mereka pada semester pertama 2025 mencapai Rp3,2 triliun, meningkat 60 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Lebih dramatisnya, laba mereka melonjak 332,71 persen dalam periode yang sama. Kontrak dengan PT Antam untuk jasa penambangan nikel senilai Rp150 miliar di Konawe Utara (Oktober 2025) menunjukkan penguatan positioning mereka di sektor tambang.
Namun, pertumbuhan PPRE membawa risiko baru. Dengan DER berada pada level 1,12x, leverage mereka masih lebih tinggi daripada WTON. Lebih penting lagi, eksposur mereka terhadap siklus harga komoditas membuka kerentanan baru. Jika harga nikel atau batubara mengalami koreksi, aliran pendapatan PPRE akan terpengaruh langsung. Ini bukan sekadar risiko operasional—ini adalah risiko struktural yang mengubah profil pengembalian-risiko perusahaan.
Situasi Januari 2026: Konvergensi ke Tiga Model Bisnis Berbeda
Kini, menjelang akhir kuartal pertama 2026, ketiga emiten ini tidak lagi sebanding. Masing-masing telah memposisikan diri ke dalam tiga kategori investor yang berbeda.
WTON sebagai kepemilikan inti untuk investor fundamental. Dengan harga yang stabil di atas Rp100, perusahaan ini mencerminkan fundamental yang solid dan prospek jangka panjang yang terjaga. Pada pertengahan 2025, WTON mendapat persetujuan pemegang saham untuk membagikan dividen tunai Rp0,75 per saham untuk tahun buku 2024—sebuah keputusan yang memvalidasi kemampuan untuk menghasilkan kas yang cukup bagi pengembalian kepada pemegang saham. DER yang terkendali, arus kas positif berkelanjutan, dan dominasi di sektor beton pracetak—segmen yang pasti akan diminati ketika pemerintah menggenjot investasi infrastruktur pada 2026—membuat WTON menjadi pilihan investor yang mencari stabilitas dan pertumbuhan terukur.
Bagian penting dari narasi ini adalah fokus bisnis. WTON tetap murni dalam beton pracetak. Ini bukan keterbatasan—ini adalah kejelasan positioning. Ketika pemerintah mengeluarkan stimulus infrastruktur, WTON adalah penerima manfaat langsung tanpa reduksi oleh eksposur ke sektor lain.
WSBP sebagai kesempatan pemulihan dengan risiko tinggi dan imbalan tinggi. Meskipun operasi terus berjalan dan kontrak baru terus masuk (Rp1,36 triliun hingga November 2025), perusahaan ini tetap berada pada fase pemulihan yang panjang dan penuh ketidakpastian. Ekuitas yang masih negatif, arus kas operasional yang negatif, dan kewajiban pembayaran homologasi yang masih berlanjut menunjukkan WSBP masih jauh dari kondisi normal. Saham ini relevan hanya untuk pedagang yang nyaman dengan volatilitas tinggi dan untuk investor yang percaya pada penyelesaian pemulihan yang cepat—sebuah pertaruhan yang bersifat spekulatif.
PPRE sebagai kesempatan terikat komoditas dengan pertumbuhan mengesankan. Diversifikasi mereka ke pertambangan telah mentransformasi profil pengembalian-risiko mereka. Laba yang tumbuh lebih cepat daripada rekan sejawat mereka menarik, namun harus dievaluasi dalam konteks eksposur mereka terhadap siklus harga komoditas. Investor yang memilih PPRE harus menyadari bahwa mereka tidak lagi membeli saham beton—mereka membeli eksposur ke sektor pertambangan dengan kemampuan operasional dari sektor beton.
Analisis Perbandingan: Tiga Dimensi Keputusan Investasi
Ketika membandingkan ketiga emiten ini, ada tiga variabel yang dominan menentukan daya tarik untuk investor dengan profil risiko yang berbeda.
Dimensi pertama: Kesehatan keuangan. Skor tertinggi kepada WTON dengan DER terkendali, ekuitas positif dan berkembang, serta arus kas operasional positif berkelanjutan. PPRE berada pada tingkat dua dengan leverage yang lebih tinggi namun masih berkelanjutan dan ditunjang oleh operasi yang menguntungkan. WSBP berada pada posisi terendah dengan ekuitas negatif dan pembakaran kas dari operasional—kondisi yang memerlukan dukungan eksternal untuk bertahan.
Dimensi kedua: Fokus bisnis dan eksposur pasar. WTON mendapat premium untuk eksposur murni ke beton pracetak dalam konteks ledakan infrastruktur. PPRE mendapat premium untuk partisipasi dalam potensi naik komoditas, namun dengan volatilitas yang lebih tinggi. WSBP mendapat diskon karena hilangnya pangsa pasar dan fokus yang ambigu selama pemulihan krisis.
Dimensi ketiga: Kemampuan pengembalian modal. WTON adalah satu-satunya yang telah membuktikan kemampuan untuk membagikan dividen. PPRE masih belum. WSBP tidak memiliki kemampuan untuk dividen, dan kas harus dialokasikan untuk pelayanan utang.
Perspektif Ke Depan: 2026 dan Implikasi bagi Investor
Memasuki 2026, investor dihadapkan pada tiga pilihan dengan nilai fundamental yang jelas berbeda. WTON menawarkan kombinasi stabilitas, pertumbuhan, dan pengembalian yang terukur—ideal untuk investor yang mencari positioning “membosankan namun menguntungkan”. PPRE menawarkan eksposur terhadap pertumbuhan yang lebih agresif dengan risiko siklus komoditas—ideal untuk positioning taktis atau portofolio dengan toleransi risiko yang lebih tinggi. WSBP menawarkan peluang spekulatif—relevan hanya jika investor memiliki tesis yang jelas tentang waktu pemulihan dan kemampuan untuk menanggung volatilitas lebih lanjut.
Bagi investor jangka panjang yang tidak tertarik dengan spekulasi, pilihan yang solid secara analitis hanya ada satu: WTON. Perusahaan ini memiliki model bisnis yang jelas, fundamental yang solid, dan prospek yang terjaga tanpa reduksi oleh eksposur terhadap variabel yang sulit diprediksi.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































