Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Proses belajar yang dahulu terbatas pada ruang kelas kini berkembang menjadi pembelajaran hybrid, daring, dan berbasis teknologi. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber informasi, sementara peserta didik memiliki akses luas terhadap pengetahuan melalui internet. Kondisi ini membuka peluang baru dalam pembelajaran, namun di sisi lain menghadirkan berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh pendidik dan sekolah.
Beberapa permasalahan yang muncul dalam proses belajar pada era digital antara lain:
1. Keterampilan digital guru yang belum merata, sehingga penggunaan teknologi dalam pembelajaran belum optimal.
2. Siswa cenderung pasif, hanya menerima materi dari aplikasi tanpa keterlibatan aktif dalam proses belajar.
3. Distraksi digital, seperti media sosial dan game, sering mengganggu fokus siswa.
4. Kesenjangan fasilitas dan akses internet, membuat pembelajaran berbasis teknologi tidak dapat diterima merata.
5. Kurangnya integrasi teknologi dengan pedagogi, sehingga pembelajaran hanya memindahkan materi ke layar tanpa perubahan strategi mengajar.
Permasalahan ini menunjukkan bahwa penggunaan teknologi saja tidak otomatis meningkatkan kualitas pembelajaran.
1. TPACK (Technological Pedagogical and Content Knowledge)
Pembelajaran berbasis teknologi harus menggabungkan teknologi, pedagogi, dan materi ajar secara seimbang.
2. Teori Konstruktivisme
Siswa membangun pengetahuan melalui pengalaman, namun penggunaan teknologi yang pasif sering menghambat proses konstruksi makna.
3. Teori Behavioristik (Skinner)
Banyak aplikasi digital menggunakan prinsip reward, namun jika tidak seimbang dapat mengurangi motivasi intrinsik siswa.
4. Teori Konektivisme (Siemens)
Di era digital, siswa perlu mampu menghubungkan dan memfilter berbagai informasi yang tersebar di internet.
Melihat berbagai permasalahan tersebut, ditambah dengan pemahaman teori-teori belajar yang relevan, maka diperlukan langkah-langkah konkret untuk memastikan bahwa teknologi benar-benar menjadi alat yang memperkuat proses pembelajaran, bukan sekadar pelengkap. Oleh karena itu, diperlukan rekomendasi strategis yang dapat diterapkan guru dan sekolah dalam konteks pembelajaran digital.
1. Peningkatan kompetensi digital guru
Pelatihan yang berkelanjutan diperlukan agar guru memahami cara mengintegrasikan teknologi dengan metode pembelajaran yang efektif.
2. Pembelajaran yang melibatkan siswa secara aktif
Gunakan metode seperti project-based learning, problem-based learning, diskusi daring, dan kolaborasi digital untuk meningkatkan peran aktif peserta didik.
3. Penguatan literasi digital
Siswa perlu diajarkan cara mencari informasi yang kredibel, berpikir kritis, serta menggunakan teknologi secara sehat dan bertanggung jawab.
4. Pemanfaatan teknologi sebagai alat, bukan tujuan
Teknologi harus digunakan untuk mendukung pedagogi. Misalnya, teknologi untuk simulasi, eksplorasi data, atau kolaborasi, bukan sekadar sebagai media presentasi.
5. Penyediaan akses dan fasilitas yang lebih merata
Sekolah dan pemerintah harus memastikan ketersediaan jaringan internet, perangkat, serta platform pembelajaran yang dapat diakses oleh semua siswa.
6. Mengelola distraksi digital
Guru dapat menetapkan aturan peggunaan perangkat, membuat jadwal belajar yang terstruktur, dan mengintegrasikan aktivitas yang mendorong fokus.
Era digital menawarkan peluang besar bagi dunia pendidikan, namun juga menuntut kemampuan adaptasi yang kuat. Dengan memahami permasalahan, mengaitkannya dengan teori belajar, serta menerapkan rekomendasi yang tepat, sekolah dapat menciptakan proses pembelajaran yang lebih efektif, inklusif, dan relevan. Transformasi pembelajaran tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi pada bagaimana pendidik menggunakannya untuk memperkuat interaksi, motivasi, dan pengalaman belajar siswa.
Oleh: Ninies Aulia Rachma, Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































