Assalamualaikum, halo semuanya, pernah nggak sih kalian lagi asyik berselancar di media sosial, lalu menemukan berita atau postingan tentang penemuan sains terbaru dan ketika kalian buka kolom komentarnya banyak sekali ucapan, “Masya Allah, ini sebenarnya sudah disebutkan dalam Al-Qur’an sejak dahulu.”? atau mungkin, kita pernah membaca sebuah buku atau karya tulis ilmiah yang isinya murni tentang pengetahuan sains, namun di awal bab ataupun di akhir paragraf tiba-tiba ditambahkan satu ayat Al-Qur’an yang sesuai agar terlihat Islami dan disebut sebagai bentuk integrasi ilmu? Fenomena seperti ini mungkin sudah tidak asing lagi bagi kita.
Memang tidak bisa dipungkiri, saat membaca atau menemukan tulisan seperti itu, seketika ada rasa bangga dan senang dalam diri kita saat mengetahui kitab suci kita sejalan dengan sains modern. Kita merasa iman kita bertambah dan menjadi yakin dengan agama islam itu sendiri, karena merasa kebenaran Al-Qur’an terbukti secara ilmiah. Namun, di tengah euforia tersebut, coba deh, kita berhenti sejenak untuk merenungkan kembali perlahan. Apakah ini bentuk integrasi ilmu yang sesungguhnya, atau jangan-jangan ini hanyalah sebuah cocoklogi yang menyandingkan ayat Al-Qur’an dengan teori sains yang sifatnya sementara dan dikatakan sebagai bentuk integrasi ilmu?
Nah, biar makin jelas, mari kita bahas bareng fenomena yang sering disebut sebagai ayatisasi atau tempel ayat ini dengan seksama, agar kita mengetahui di mana sebenarnya letak permasalahannya.
Fenomena yang baru saja kita bicarakan di atas dikenal dengan istilah tempel ayat, ayatisasi, atau cocoklogi. Dalam kajian akademis mengenai hubungan ilmu pengetahuan umum dan agama, praktik ini sebenarnya merupakan sebuah upaya dari umat islam untuk melakukan integrasi antara ilmu pengetahuan umum dan agama. Fenomena ini dilakukan dengan mengambil suatu teori atau penemuan sains, lalu dicari ayat-ayat Al-Qur’an yang sekilas mirip dan semakna. Kemudian seringkali dibuat klaim besar bahwa sains tersebut sudah disebutkan di Al-Qur’an sejak 14 abad yang lalu. Sekilas, cara ini terlihat memukau dan memperlihatkan kehebatan mukjizat Al-Qur’an. Namun, fenomena ini sebenarnya memiliki banyak celah dan kekurangan yang bisa menjadi bumerang untuk umat islam sendiri nantinya.
Ada beberapa faktor yang diduga menjadi alasan maraknya fenomena ini terjadi. Menurut pandangan para akademisi dan cendekiawan, fenomena tempel ayat ini sebenarnya lahir dari mekanisme pertahanan diri umat Islam dalam menghadapi dominasi sains modern, atau yang sering disebut sebagai psikologi apologetik. Hal ini dikarenakan selama beberapa abad terakhir, umat Islam mengalami ketertinggalan dalam dominasi sains dan teknologi dibandingkan peradaban Barat. Kondisi ini memicu lahirnya rasa minder atau inferiority complex di kalangan umat islam. Selain itu, ada juga dorongan kuat dalam diri umat Islam untuk membuktikan bahwa Al-Qur’an itu benar, relevan, dan tidak ketinggalan zaman. Lalu, untuk mewujudkan hal tersebut dilakukanlah fenomena tempel ayat atau ayatisasi ini. Dengan cara ini umat mendapatkan rasa percaya diri dan validasi bahwa meski barat memegang dominasi, tetapi dari islamlah sumber pengetahuan aslinya. Faktor yang kedua, fenomena tempel ayat ini diduga muncul sebagai respons untuk melawan narasi ateisme yang sering menggunakan sains untuk menyerang agama. Dengan menempelkan ayat pada fakta sains, umat Islam ingin membuktikan bahwa islam adalah agama yang rasional dan ilmiah. Adapun faktor lainnya adalah kemudahan akses dan cara instan untuk melakukan integrasi ilmu. Pada dasarnya, melakukan integrasi ilmu yang sesungguhnya itu sangat sulit karena membutuhkan penguasaan banyak disiplin ilmu, baik ilmu agama ataupun ilmu pengetahuan umum. Oleh karena itu, metode tempel ayat ini merupakan jalan pintas melakukan integrasi ilmu yang mudah, cepat, praktis dan bisa dilakukan siapa saja.
Meskipun niat awalnya sangat mulia, yaitu untuk meninggikan Al-Qur’an dan membela agama, kenyataannya fenomena ayatisasi atau tempel ayat ini menuai banyak kritik dari banyak ulama maupun ilmuwan Muslim. Alasan penolakannya, terutama terkait dengan kekhawatiran akan desakralisasi atau merendahkan Al-Qur’an. Hal ini dikarenakan sains itu sendiri bersifat falsifiable, yang berarti kebenaran sains itu relatif, dinamis dan terus berubah seiring waktu. Teori yang dianggap kebenaran mutlak hari ini, bisa saja terbukti salah dan dianggap usang tahun depan, seperti halnya teori geosentris yang dulu dianggap benar, tetapi kini terbukti salah dan tergantikan oleh teori heliosentris. Jika kita terburu-buru menafsirkan ayat Al-Qur’an dengan mengikatnya pada suatu teori sains, lantas apa yang terjadi jika teori itu terbukti salah di masa depan? Apakah ayat Al-Qur’an-nya lantas menjadi salah? Padahal Al-Qur’an adalah Kalamullah yang bersifat mutlak atau absolut kebenarannya. Para kritikus sangat khawatir jika kita menjadikan sains sebagai standar kebenaran ayat, kita justru menempatkan sains di posisi yang lebih tinggi dari wahyu.
Kritik selanjutnya menyoroti betapa dangkalnya pendekatan ini. Metode tempel ayat seringkali mengabaikan konteks ayat, kaidah tata bahasa Arab, dan berbagai tafsiran para ulama terdahulu. Metode tempel ayat seringkali hanya terpaku pada terjemahan kata dalam suatu ayat, kemudian langsung dikaitkan dengan teori atau fakta sains, padahal konteks ayatnya mungkin tidak berkaitan dengan teori atau fakta sains tersebut. Pelaku metode ini cenderung hanya mengambil data sains yang mendukung ayat dan mengabaikan data yang tidak cocok. Akibatnya, pemahaman terhadap sainsnya menjadi setengah-setengah, dan pemahaman agamanya pun menjadi dangkal. Selain itu, fenomena ini juga berpotensi menumbuhkan kemalasan berpikir bagi umat islam. Pola pikir yang menganggap bahwa semua jawaban sains sudah tertera di kitab suci beresiko membuat umat Islam merasa tidak perlu melakukan riset dan penelitian yang nyata. Pada akhirnya, kita hanya berakhir sebagai konsumen sains dan teknologi temuan bangsa lain, bukan sebagai produsen yang aktif yang memajukan sains dan teknologi itu sendiri.
Namun, sebagai insan yang objektif, kita juga perlu melihat sisi lain dan mendengarkan pendapat yang pro terhadap fenomena ini. Tidak semua upaya menghubungkan ayat dan sains itu buruk. Bagi sebagian kalangan, terutama generasi muda yang sangat rasional, pendekatan dogmatis tradisional seringkali kurang menarik dan menyentuh hati. Oleh karena itu, fakta-fakta sains yang disandingkan dengan ayat mampu memantik kekaguman dan rasa cinta kembali kepada Al-Qur’an.
Di sisi lain, Al-Qur’an memang memuat banyak ayat kauniyah atau ayat tentang alam semesta. Pihak yang pro berpendapat bahwa Allah SWT. tidak mungkin menurunkan ayat-ayat ini tanpa tujuan, sehingga meneliti kesesuaiannya dengan sains adalah bentuk Tadabbur Alam yang dianjurkan. Menurut mereka karena wahyu dan alam semesta berasal dari Pencipta yang sama, maka tidak mungkin ada pertentangan di antara keduanya. Jika ditemukan ada kontradiksi, kemungkinan besar masalahnya ada pada keterbatasan kemampuan manusia dalam menginterpretasikannya. Oleh karena itu, upaya mencocokkan ini dilihat sebagai usaha membuktikan harmoni tersebut.
Lalu, bagaimana cara terbaik menyikapi dua pandangan ini? Sebenarnya, fenomena menghubungkan ayat dengan sains ini boleh-boleh saja dilakukan sebagai upaya manusia untuk memahami isyarat-isyarat alam dalam Al-Qur’an, asalkan tetap mematuhi prinsip-prinsip yang ketat. Prinsip pertama yang harus dipegang teguh adalah menghindari klaim kebenaran mutlak. Kita tidak boleh sombong dengan mengatakan “Ayat ini pasti maksudnya Teori Big Bang”, melainkan harus menggunakan bahasa probabilitas atau kemungkinan, seperti “Ayat ini mungkin memberikan isyarat yang sejalan dengan penemuan ini”. Dengan begitu, interpretasi kita tetap terbuka untuk dikoreksi tanpa menyalahkan Al-Qur’an. Kedua, sains harus diposisikan sebagai alat bantu untuk memperkaya wawasan tafsir, bukan sebagai validator penentu kebenaran ayat. Oleh karena itu, integrasi sains dan ayat harus diletakkan pada porsi yang tepat. Al-Quran memiliki kebenaran mutlak, sedangkan tafsir dengan sains bersifat spekulatif. Tujuan menghubungkan keduanya bukanlah untuk memvalidasi Al-Quran, melainkan sebagai sarana tadabbur dan motivasi.
Meskipun metode tempel ayat dapat dikategorikan sebagai salah satu bentuk penerapan integrasi ilmu, pendekatan ini dianggap berada di tingkatan yang paling rendah dan dangkal. Integrasi yang ideal seharusnya menjadikan Islam sebagai motivasi dan fondasi etika, sedangkan sains sebagai sarana untuk mencapai kemaslahatan umum dan membawa manfaat bagi orang banyak. Upaya ini harus dimulai dengan kesungguhan dalam mempelajari sains dan Islam secara mendalam. Perlu diketahui, sikap kritis terhadap fenomena ini bukanlah karena kebencian ataupun anti sains, tetapi bentuk proteksi terhadap kesucian Al-Qur’an. Oleh karena itu, mari kita sikapi hal ini dengan bijak, hargai niat baik dan semangatnya, serta terus memperbaiki metodenya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































