Dunia yang dihuni oleh Generasi Z atau yang umum dikatakan sebagai Gen-Z adalah dunia yang paradoksal. Gen-Z adalah generasi paling terhubung dalam sejarah, dengan akses tak terbatas pada informasi dan kemampuan untuk menjalin relasi melintasi benua hanya dengan satu ketukan jari. Namun, laporan dari berbagai lembaga kesehatan mental global justru mencatat Gen-Zsebagai generasi yang mengalami tingkat kecemasan, depresi, dan kesepian yang tinggi. Gen-Z tumbuh di tengah krisis iklim yang mengancam, ketidakpastian ekonomi, dan tekanan untuk membangun identitas di atas panggung media sosial yang penuh penghakiman. Dalam lanskap yang penuh gejolak ini, terdapat sebuah sumber kebijakan abadi yang justru menawarkan ketenangan dan ketangguhan: ajaran Islam tentang kesehatan fisik dan jiwa. Islam, yang sering kali hanya dilihat sebagai sistem ritual, sesungguhnya merupakan panduan hidup holistik yang secara menakjubkan relevan dan mampu menjawab kegelisahan eksistensial generasi digital ini.
Tantangan yang dihadapi Gen-Z bukanlah tantangan sederhana. Mereka mengalami beban ganda dari dunia nyata dan dunia virtual. Di satu sisi, tekanan akademis, kompetisi karir, dan masa depan planet yang suram menciptakan apa yang disebut sebagai eco-anxiety—kecemasan kronis akan kerusakan lingkungan. Di sisi lain, kehidupan digital menciptakan arena perbandingan sosial tanpa henti. Media sosial, yang seharusnya menjadi alat penyambung, justru sering kali menjadi panggung yang mempertontonkan kesuksesan yang dikurasi, kebahagiaan yang dipoles, dan kehidupan ideal yang tidak utuh. Hal ini memicu fenomena Fear of Missing Out (FOMO) dan perasaan bahwa diri sendiri tidak pernah cukup. Pola hidup pun terdampak; makanan instan, tidur yang tidak teratur karena screen time, dan tubuh yang kurang bergerak menjadi norma. Sistem kesehatan modern sering kali hanya merespons gejala ini dengan terapi dan farmakologi, yang meski penting, kerap mengabaikan dimensi spiritual dan pencarian makna—dua hal yang justru mendesak bagi generasi yang mempertanyakan tujuan hidup di balik segala kesibukan.
Di sinilah Islam menawarkan perspektif yang integratif dan menyeluruh. Islam memandang manusia sebagai entitas yang utuh, di mana kesehatan jiwa (nafsiyyah) dan kesehatan fisik (jismiyyah) saling terikat dan saling memengaruhi, keduanya merupakan amanah dari Sang Pencipta. Konsep ini sangat personal sekaligus sosial. Bagi jiwa yang gelisah akibat badai informasi dan perbandingan sosial, Islam memperkenalkan konsep qana’ah—rasa cukup atas apa yang telah dianugerahkan. Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Muslim menasihati untuk melihat kepada yang berada di bawah dalam urusan dunia, bukan yang di atas. Ini bukan ajaran untuk berpuas diri secara pasif, melainkan sebuah pelatihan mental yang radikal untuk melawan budaya konsumerisme dan kegelisahan sosial. Dalam konteks digital, qana’ah bisa dimaknai sebagai keberanian untuk melakukan detoks/penawar dari konten yang memicu kecemburuan dan untuk mensyukuri narasi hidup sendiri yang unik.
Lebih jauh, untuk mengatasi kecemasan akan masa depan—entah itu terkait karir, iklim, atau stabilitas hidup—Islam menawarkan konsep tawakal. Sering kali disalahpahami sebagai kepasifan, tawakal justru adalah bentuk ketangguhan aktif. Ia adalah proses berikhtiar semaksimal mungkin dengan segala perencanaan dan usaha, kemudian disusul dengan penyerahan hati yang tenang kepada ketetapan Allah. Dalam bahasa psikologi modern, ini mirip dengan mekanisme coping yang sehat untuk melepaskan beban dari hal-hal yang berada di luar kendali kita. Al-Qur’an dalam Surat Az-Zumar ayat 10 menjanjikan pahala tanpa batas bagi orang-orang yang sabar. Kesabaran dan tawakal ini menjadi penyeimbang bagi budaya hustle culture yang mendewakan produktivitas hingga titik kelelahan total atau biasa kita sebut sebaagai burnout.
Tidak berhenti pada konsep abstrak, Islam juga menyediakan praktik sehari-hari yang berfungsi sebagai self-care spiritual. Dzikir, atau mengingat Allah, disebutkan dalam Al-Qur’an Surat Ar-Ra’d ayat 28 sebagai sumber ketenangan hati. Ritual ini, yang bisa dilakukan kapan saja, adalah bentuk meditasi yang mengakar pada ketuhanan. Doa, baik yang wajib maupun sunnah, menjadi ruang aman bagi seorang hamba untuk mencurahkan segala kegundahan tanpa takut dihakimi. Bagi Generasi Z yang akrab dengan budaya journalinguntuk kesehatan mental, praktik doa dan dzikir adalah journaling yang terhubung dengan Sang Pendengar paripurna. Bahkan ritual ibadah pokok pun memiliki dimensi terapeutik. Shalat, dengan gerakan terukur dan disiplin waktunya, memaksa jeda dari kesibukan, meregangkan otot-otot tubuh, dan melatih fokus serta kekhusyukan. Ia adalah mindful movement yang diwajibkan lima kali sehari.
Pada ranah kesehatan fisik, panduan Islam sangatlah visioner dan selaras dengan temuan ilmu kesehatan modern. Prinsip halal dan thayyib (baik) dalam makanan (QS. Al-Baqarah: 168) bukan hanya tentang legalitas, tetapi tentang kualitas, gizi, dan keetisan. Ini adalah fondasi dari conscious eating. Nabi Muhammad SAW, dalam hadis yang diriwayatkan Tirmidzi, mencontohkan makan secukupnya, memperingatkan untuk tidak menjadikan perut sebagai tempat sampah. Gaya hidup sederhana dan tidak berlebihan ini adalah antitesis dari budaya konsumsi massal. Kebersihan, yang ditegaskan sebagai bagian dari iman, diwujudkan dalam ritual wudhu yang tidak hanya menyucikan secara spiritual tetapi juga membersihkan anggota tubuh dari kotoran dan kuman secara berkala. Nabi SAW juga mencontohkan gaya hidup aktif—berjalan, berkuda, mengurus rumah tangga—dan pola tidur yang teratur, jauh sebelum dunia kedokteran menyebutnya sebagai pilar kesehatan.
Yang paling menarik bagi Gen-Z yang peduli lingkungan adalah bahwa kesehatan holistik dalam Islam bersifat ekologis. Konsep manusia sebagai khalifah(pemelihara) di bumi (QS. Al-Baqarah: 30) menempatkan tanggung jawab merawat planet ini sebagai bagian dari ibadah. Larangan berbuat kerusakan (QS. Al-A’raf: 56) dan ajaran untuk hidup seimbang melampaui diri pribadi, mencakup kelestarian sistem alam. Dengan demikian, aksi mengurangi sampah, menghemat energi, dan memilih gaya hidup ramah lingkungan bukan hanya sekedar tren di tengah banyaknya isu tnetang lingkungan akhir-akhir ini, tetapi merupakan realisasi dari identitas kehambaan. Ini memberikan makna yang dalam dan mengubah eco-anxiety menjadi eco-action yang bernilai ibadah.
Pada akhirnya, di tengah gemuruh dunia digital dan ketidakpastian zaman, Islam menawarkan sebuah oasis ketenangan. Ia bukan sekadar agama yang mengatur hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi sistem yang merawat manusia secara utuh: jiwa, raga, dan interaksinya dengan sesama serta alam semesta. Bagi Generasi Z, merengkuh pandangan holistik ini berarti membekali diri dengan fondasi mental yang tangguh, pola hidup fisik yang berkelanjutan, dan yang paling penting sebuah makna yang dalam yang mampu menahan terpaan segala badai. Kesehatan sejati, dalam perspektif Islam, adalah persiapan untuk kehidupan dunia yang bermartabat sekaligus bekal untuk kehidupan akhirat yang kekal. Inilah relevansi abadi yang ditawarkan kepada generasi yang paling membutuhkannya.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































