Di tengah maraknya tren makanan viral yang silih berganti, masyarakat seolah berlomba-lomba mencoba hal baru yang sedang populer. Antrean panjang demi minuman manis kekinian atau makanan dengan tampilan menarik menjadi pemandangan yang lumrah. Namun, di balik hiruk-pikuk tersebut, terdapat berbagai inovasi pangan yang sebenarnya hadir di sekitar kita, tetapi justru jarang mendapatkan perhatian. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa inovasi pangan yang bermanfaat sering kali luput dari sorotan?
Menurut saya, salah satu penyebab utama inovasi pangan jarang dilirik adalah rendahnya literasi pangan di masyarakat. Banyak orang masih memaknai inovasi pangan sebatas sesuatu yang unik secara visual atau mengikuti tren media sosial. Padahal, inovasi pangan tidak selalu tentang bentuk yang mencolok, melainkan juga tentang nilai gizi, keberlanjutan, serta manfaat jangka panjang bagi kesehatan dan lingkungan.
Sebagai contoh, berbagai inovasi pangan lokal sebenarnya telah berkembang, seperti pengolahan umbi-umbian sebagai alternatif sumber karbohidrat, produk pangan tinggi serat untuk mendukung kesehatan pencernaan, hingga pemanfaatan limbah pangan menjadi produk bernilai guna. Inovasi-inovasi tersebut hadir sebagai solusi atas masalah ketahanan pangan dan gaya hidup tidak sehat. Sayangnya, inovasi semacam ini sering kalah pamor dibandingkan makanan viral yang tinggi gula, lemak, dan hanya memberikan kepuasan sesaat.
Selain itu, kurangnya edukasi dan promosi yang tepat juga menjadi faktor pendukung. Inovasi pangan yang berorientasi pada kesehatan dan keberlanjutan kerap dikemas secara sederhana dan kurang menarik bagi generasi muda. Akibatnya, masyarakat tidak menyadari bahwa pilihan pangan yang lebih sehat dan inovatif sebenarnya mudah dijangkau. Di sisi lain, media sosial lebih banyak menyoroti aspek sensasional dibandingkan nilai manfaat dari sebuah produk pangan.
Menurut pandangan saya, kondisi ini perlu disikapi secara serius, terutama oleh kalangan akademisi dan mahasiswa. Kampus sebagai pusat ilmu pengetahuan memiliki peran penting dalam menjembatani inovasi pangan dengan masyarakat. Melalui edukasi, riset sederhana, dan penyampaian informasi yang mudah dipahami, inovasi pangan dapat diperkenalkan sebagai sesuatu yang relevan dengan kehidupan sehari-hari, bukan sekadar konsep ilmiah yang jauh dari realitas.
Pada akhirnya, inovasi pangan tidak akan berarti jika hanya berhenti di laboratorium atau laporan penelitian. Diperlukan kesadaran bersama untuk mulai melirik dan menghargai inovasi yang ada di sekitar kita. Dengan meningkatkan literasi pangan dan mengubah cara pandang masyarakat, inovasi pangan dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang lebih sehat, berkelanjutan, dan bermakna, bukan sekadar mengikuti tren sesaat.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”








































































