Apotek merupakan salah satu fasilitas pelayanan kesehatan yang memiliki peran penting dalam sistem kesehatan masyarakat, khususnya dalam penyediaan obat dan pelayanan kefarmasian. Artikel ini bertujuan untuk mendeskripsikan pelaksanaan jasa kesehatan di apotek berdasarkan hasil observasi langsung yang dilakukan oleh mahasiswa. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini adalah observasi lapangan dengan pendekatan deskriptif, yaitu mengamati secara langsung proses pelayanan di apotek, peran tenaga kefarmasian, serta interaksi antara petugas dan konsumen. Hasil observasi menunjukkan bahwa jasa kesehatan di apotek tidak hanya terbatas pada kegiatan penjualan obat, tetapi juga mencakup pelayanan konsultasi, pemberian informasi obat, serta edukasi kepada masyarakat terkait penggunaan obat yang rasional dan aman. Meskipun secara umum pelayanan di apotek sudah berjalan dengan cukup baik, masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan, terutama dalam hal penyampaian informasi obat agar lebih dipahami oleh konsumen.
Kata kunci: apotek, jasa kesehatan, pelayanan kefarmasian, observasi mahasiswa
Pendahuluan
Pelayanan kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat yang harus dipenuhi secara berkelanjutan. Salah satu bentuk pelayanan kesehatan yang paling mudah dijangkau oleh masyarakat adalah apotek. Apotek berperan sebagai sarana pelayanan kefarmasian yang menyediakan obat-obatan serta pelayanan terkait penggunaan obat. Dalam praktiknya, apotek tidak hanya berfungsi sebagai tempat pembelian obat, tetapi juga sebagai tempat masyarakat memperoleh informasi dan edukasi kesehatan, khususnya yang berkaitan dengan obat.
Peran apotek dalam pelayanan kesehatan sangat penting karena apotek menjadi penghubung langsung antara tenaga kesehatan dan masyarakat. Banyak masyarakat yang menjadikan apotek sebagai tempat pertama untuk mencari solusi atas keluhan kesehatan ringan sebelum memutuskan untuk berobat ke fasilitas kesehatan lain. Oleh karena itu, kualitas jasa kesehatan di apotek sangat berpengaruh terhadap tingkat kepuasan, keselamatan, dan pemahaman masyarakat dalam menggunakan obat.
Sebagai mahasiswa yang mempelajari bidang kesehatan atau pelayanan jasa, kegiatan observasi lapangan menjadi salah satu cara untuk memahami secara nyata bagaimana teori yang dipelajari di perkuliahan diterapkan dalam praktik. Observasi di apotek dilakukan untuk melihat langsung alur pelayanan, peran tenaga kefarmasian, serta bagaimana komunikasi yang terjalin antara petugas apotek dan konsumen. Melalui observasi ini, mahasiswa diharapkan mampu menganalisis pelaksanaan jasa kesehatan di apotek secara objektif dan kritis.
Pembahasan
Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan di apotek, dapat diketahui bahwa jasa kesehatan di apotek mencakup beberapa aspek penting, yaitu pelayanan obat resep, pelayanan obat nonresep, pelayanan informasi obat, serta sikap dan kualitas pelayanan petugas apotek. Seluruh aspek tersebut saling berkaitan dan berpengaruh terhadap kualitas jasa kesehatan yang diterima oleh konsumen.
Pelayanan obat dengan resep dokter merupakan salah satu bentuk pelayanan utama di apotek. Dalam proses ini, petugas apotek terlebih dahulu melakukan pemeriksaan terhadap resep yang diterima. Pemeriksaan ini meliputi kejelasan identitas pasien, nama obat, dosis, aturan pakai, serta jumlah obat yang harus diberikan. Setelah resep dinyatakan jelas dan sesuai, petugas menyiapkan obat dengan teliti. Dari hasil observasi, terlihat bahwa petugas apotek cukup berhati-hati dalam proses ini untuk menghindari kesalahan pemberian obat. Hal ini menunjukkan bahwa aspek keselamatan pasien menjadi prioritas dalam pelayanan jasa kesehatan di apotek.
Selain pelayanan resep, apotek juga melayani konsumen yang datang tanpa membawa resep dokter. Pada pelayanan ini, petugas apotek biasanya menanyakan keluhan yang dialami oleh konsumen sebelum memberikan rekomendasi obat. Proses tanya jawab ini merupakan bentuk pelayanan konsultasi yang bertujuan agar obat yang diberikan sesuai dengan kondisi konsumen. Berdasarkan hasil observasi, peran petugas apotek dalam pelayanan ini sangat penting karena mereka harus mampu memberikan informasi yang tepat dengan bahasa yang mudah dipahami oleh masyarakat.
Pelayanan informasi obat merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari jasa kesehatan di apotek. Informasi yang diberikan meliputi cara penggunaan obat, dosis, waktu konsumsi, lama penggunaan, serta kemungkinan efek samping yang dapat terjadi. Dari hasil pengamatan, sebagian besar petugas apotek sudah memberikan informasi obat dengan cukup jelas. Namun, masih ditemukan beberapa konsumen yang kurang memperhatikan penjelasan tersebut, baik karena terburu-buru maupun merasa sudah terbiasa menggunakan obat tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi apotek dalam memastikan bahwa informasi obat benar-benar dipahami oleh konsumen.
Dari segi sikap pelayanan, petugas apotek umumnya bersikap ramah, sopan, dan responsif terhadap kebutuhan konsumen. Sikap ini memberikan rasa nyaman dan meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap pelayanan yang diberikan. Selain itu, kondisi lingkungan apotek yang bersih, tertata rapi, dan memiliki fasilitas pendukung yang memadai juga memberikan kesan profesional serta mendukung kualitas jasa kesehatan di apotek.
Secara keseluruhan, hasil observasi menunjukkan bahwa jasa kesehatan di apotek telah berjalan dengan cukup baik. Namun, masih diperlukan upaya peningkatan, terutama dalam hal edukasi kepada konsumen agar lebih memahami pentingnya penggunaan obat yang benar dan rasional.
Penutup
Kesimpulan
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa apotek memiliki peran yang sangat penting dalam sistem pelayanan kesehatan masyarakat. Jasa kesehatan di apotek tidak hanya terbatas pada penjualan obat, tetapi juga mencakup pelayanan konsultasi dan pemberian informasi obat kepada konsumen.
Pelayanan yang diberikan oleh petugas apotek secara umum sudah cukup baik, terutama dalam hal ketelitian pemberian obat dan sikap pelayanan kepada konsumen. Meskipun demikian, masih terdapat beberapa hal yang perlu ditingkatkan, khususnya dalam penyampaian informasi obat agar lebih efektif dan mudah dipahami oleh masyarakat.
Melalui kegiatan observasi ini, mahasiswa dapat memperoleh pengalaman langsung mengenai praktik jasa kesehatan di apotek serta mengaitkannya dengan teori yang diperoleh di perkuliahan. Diharapkan hasil observasi ini dapat menjadi bahan pembelajaran dan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pelayanan jasa kesehatan di apotek di masa yang akan datang.
Daftar Pustaka
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. (2009). Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 51 Tahun 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian. Jakarta: Depkes RI.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2016). Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Kemenkes RI.
Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management. Pearson Education.
Notoatmodjo, S. (2012). Promosi Kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Supardi, S., & Raharni. (2014). Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Jakarta: Lembaga Penerbitan.
JASA KESEHATAN APOTIK
Nilna Goyatal Muna, Maida Salma, Elok Satriani Mulyawati, Nurhalisyah
Universitas Islam Negeri Siber Syekh Nurjati Cirebon
Jl.Perjuangan, Sunyaragi , Kec.Kesambi, Kota Cirebon, Jawa Barat
maidasalma204@gmail.com
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































