Pernah nggak sih saat tubuh terasa kurang enak, kita jadi ragu memilih antara minum obat apotek atau jamu? Obat apotek sering dianggap lebih cepat dan praktis, tetapi sebagian orang khawatir dengan efek sampingnya. Sementara itu, jamu dikenal lebih alami karena berasal dari tumbuhan, namun carapenggunaannya sering kali kurang praktis dan dosisnya tidak selalu jelas. Kondisi ini menunjukkan bahwa hingga saat ini masyarakat masih mencari pengobatan yang efektif, aman, dan mudah digunakan.
Seiring perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kesehatan, obat herbal ternyata tidak ditinggalkan. Justru, minat masyarakat terhadap pengobatan berbahan alami semakin meningkat. Kesadaran akan pentingnya menjaga kesehatan jangka panjang serta keinginan untuk mengurangi konsumsi bahan kimia sintetis menjadi salah satu alasan utama. Namun, penggunaan obat herbal tradisional masih memiliki beberapa keterbatasan, terutama terkait dosis dan keamanan yang belum teruji secara ilmiah.
Berdasarkan kebutuhan tersebut, fitofarmaka hadir sebagai solusi. Fitofarmaka adalah obat yang dibuat dari bahan tumbuhan dan diolah dengan cara yang lebih modern dibandingkan jamu tradisional. Walaupun sama-sama berasal dari tanaman, fitofarmaka tidak diracik secara sederhana atau berdasarkan perkiraan. Proses pembuatannya dilakukan melalui tahapan yang jelas, sehingga kualitas dan keamanannya lebih terjaga.
Dalam pengobatan tradisional, jamu biasanya dibuat dengan cara merebus atau meracik bagian tanaman tertentu, seperti daun, akar, atau rimpang. Cara ini sudah lama digunakan dan dipercaya oleh masyarakat. Namun, hasilnya sering kali tidak sama setiap kali diminum. Perbedaan jumlah bahan atau cara pengolahan dapat memengaruhi kuat atau lemahnya khasiat jamu tersebut.
Berbeda dengan jamu, fitofarmaka dibuat dengan mengambil zat dari tumbuhan yang memang berperan dalam memberikan efek bagi tubuh. Zat tersebut kemudian ditakar dengan jumlah yang tepat. Dengan adanya takaran ini, setiap orang yang mengonsumsi fitofarmaka akanmendapatkan dosis yang sama, sehingga hasilnya bisa lebih konsisten.
Setelah zat dari tumbuhan diambil, bahan tersebut diolah dan dikemas dalam bentuk yang lebih praktis, seperti kapsul, tablet, atau sirup. Bentuk ini memudahkan penggunaan karena tidak memerlukan proses tambahan sebelum dikonsumsi. Pengguna cukup mengikuti aturan pakai yang tertera, sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang memiliki aktivitas padat. Selain dari segi bentuk dan dosis, fitofarmaka juga berbeda dari jamu karena telah melalui proses penelitian dan pengujian. Obat ini tidak hanya dibuat berdasarkan kebiasaan atau pengalaman turun-temurun, tetapi juga melalui tahapan pengujian untuk melihat manfaat dan keamanannya. Dengan begitu, risiko yang tidak diinginkan bisa dikurangi.
Secara sederhana, fitofarmaka dapat dipahami sebagai pengembangan dari jamu tradisional. Bahan yang digunakan tetap berasal dari alam, tetapi cara pembuatannya lebih tertata dan terkontrol. Karena itu, fitofarmaka sering disebut sebagai jamu versi modern yang lebih aman, praktis, dan mudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Setelah membahas apa itu fitofarmaka, biasanya orang jadi bertanya-tanya, contoh obatnya yang seperti apa sih? Sebenarnya, banyak fitofarmaka yang berasal dari tanaman yang sudah lama dikenal di kehidupan sehari-hari.Bedanya, tanaman-tanaman ini tidak lagi digunakan secara tradisional, tetapi diolah dengan cara modern agar lebih aman dan mudah dikonsumsi.
Berikut beberapa contoh fitofarmaka yang cukup sering digunakan.
a. Fitofarmaka Berbahan Temulawak
Temulawak termasuk tanaman herbal yang sudah sangat akrab di masyarakat Indonesia. Sejak dulu, temulawak sering dikonsumsi untuk membantu menjaga pencernaan dan kesehatan hati. Namun, jika dulu temulawak harus direbus atau diramu sendiri, kini khasiatnya bisa diperoleh dalam bentuk kapsul atau tablet. Dalam fitofarmaka, zat aktif temulawak diambil dan ditakar dengan jumlah tertentu. Dengan begitu, setiap kali dikonsumsi, kandungannya relatif sama. Hal ini berbeda dengan jamu temulawak buatan rumah yang kekuatannya bisa berubah-ubah, tergantung carapengolahan dan jumlah bahan yang digunakan.
b. Fitofarmaka dari Daun Insulin
Daun insulin dikenal sebagai tanaman yang membantu menjaga kestabilan kadar gula darah. Karena manfaat tersebut, ekstrak daun insulin kemudian dikembangkan menjadi fitofarmaka yang lebih praktis digunakan. Pengolahan daun insulin menjadi fitofarmaka membuat konsumsinya lebih terkontrol. Dosisnya sudah ditentukan, sehingga pengguna tidak perlu memperkirakan takaran sendiri seperti saat menggunakan tanaman segar.
c. Fitofarmaka Berbahan Ginkgo biloba
Ginkgo biloba merupakan tanaman herbal yang cukup dikenal, terutama untuk membantu melancarkan peredaran darah dan mendukung daya ingat. Dalam bentuk fitofarmaka, ekstrak Ginkgo biloba dikemas dengan kandungan yang sudah distandarkan. Dengan kandungan yang lebih terukur, manfaat yang diperoleh menjadi lebih konsisten. Pengguna juga tidak perlu repot mengolah bahan mentah atau khawatir soal takaran.
d. Fitofarmaka dari Pegagan
Pegagan sering dimanfaatkan untuk membantu proses penyembuhan luka dan menjaga kesehatan kulit. Tanaman ini juga sudah lama digunakan secara tradisional. Namun, tidak semua orang terbiasa mengolah pegagan sendiri. Karena itu, pegagan kemudian diolah menjadi fitofarmaka dalam bentuk kapsul atau tablet. Bentuk ini membuat penggunaannya lebih sederhana dan cocok untuk dikonsumsi sehari-hari.
e. Fitofarmaka Berbahan Sambiloto
Sambiloto dikenal memiliki rasa yang sangat pahit, tetapi sering dimanfaatkan untuk membantu menjaga daya tahan tubuh. Rasa pahit inilah yang membuat sebagian orang enggan mengonsumsinya secara tradisional. Dalam fitofarmaka, sambiloto diolah sehingga lebih mudah diminum dan tidak perlu dirasakan pahitnya secara langsung. Selain itu, dosisnya juga sudah ditentukan, sehingga penggunaannya lebih aman dan nyaman.
f. Fitofarmaka dari Daun Katuk
Daun katuk dikenal luas sebagai tanaman yang membantu meningkatkan produksi ASI pada ibu menyusui. Biasanya, daun katuk diolah menjadi sayur atau ramuan tertentu. Melalui fitofarmaka, daun katuk dikemas dalam bentuk yang lebih praktis. Ibu menyusui bisa mengonsumsinya dengan lebih mudah tanpa harus mengolahnya terlebih dahulu, dengan dosis yang sudah disesuaikan.
Beberapa contoh tersebut, memperlihatkan bahwa fitofarmaka sebenarnya dekat dengan kehidupan masyarakat. Bahan dasarnya berasal dari tanaman yang sudah lama dikenal, hanya saja pengolahannya dibuat lebih modern. Dengan bentuk yang praktis dan dosis yang jelas, fitofarmaka menjadi pilihan bagi orang yang ingin memanfaatkan khasiat herbal tanpa cara yang rumit.
Setelah mengetahui beberapa contoh fitofarmaka, langkah selanjutnya adalah memahami cara mengenali obat tersebut saat membelinya.
Salah satu cara paling gampang untuk mengetahui apakah suatu obat termasuk fitofarmaka atau bukan adalah dengan melihat kemasannya. Di Indonesia, obat herbal yang beredar secara resmi, termasuk fitofarmaka, harus berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Obat yang termasuk fitofarmaka memiliki logo khusus dari BPOM yang berbeda dengan logo jamu atau obat herbal terstandar (OBT). Logo ini biasanya dicantumkan pada bagian depan atau belakang kemasan. Adanya logo tersebut menandakan bahwa produk telah melalui proses penilaian, baik dari sisi keamanan maupun manfaatnya.
Secara umum, logo fitofarmaka berbentuk lingkaran dengan simbol daun di dalamnya. Logo ini menjadi penanda bahwa obat herbal tersebut tidak hanya dibuat berdasarkan kebiasaan atau pengalaman turun-temurun, tetapi juga sudah melalui pengujian secara ilmiah. Selain logo, kemasan fitofarmaka juga dilengkapi dengan nomor izin edar BPOM. Nomor ini menunjukkan bahwa produk tersebut telah terdaftar secara resmi dan boleh dipasarkan di Indonesia. Jika ingin lebih yakin, konsumen bisa mengecek nomor izin edar tersebut melalui situs resmi BPOM.
Gambar 1. Logo Fitofarmaka
Sumber: Trisula.ID
Dengan memperhatikan logo dan nomor izin edar, masyarakat bisa lebih mudah membedakan mana obat fitofarmaka, mana jamu, dan mana obat herbal terstandar. Cara ini memang sederhana, tetapi cukup penting agar tidak salah memilih produk herbal yang akan dikonsumsi.
Selain melihat logo pada kemasan, cara lain yang bisa dilakukan untuk mengetahui apakah suatu obat termasuk fitofarmaka adalah dengan memperhatikan kandungan yang tercantum pada label obat. Informasi ini biasanya dapat ditemukan pada bagian belakang atau samping kemasan.
Pada obat fitofarmaka, keterangan kandungan ditulis dengan cukup jelas. Umumnya, tertera namatanaman yang digunakan, dan sering kali disertai dengan nama ilmiahnya. Sebagai contoh, temulawak biasanya ditulis sebagai Curcuma xanthorrhiza.Penulisan nama ilmiah ini membantu memastikan bahwa tanaman yang digunakan benar dan sesuai. Selain itu, kemasan fitofarmaka juga mencantumkan kadar atau jumlah ekstrak dalam setiap kapsul, tablet, atau takaran minum. Dengan adanya informasi ini, konsumen dapat mengetahui perkiraan jumlah zat aktif yang dikonsumsi. Hal ini menjadi pembeda dengan jamu tradisional yang umumnya tidak mencantumkan takaran secara rinci. Pada beberapa produk fitofarmaka, juga dijelaskan zat aktif utama yang berperan dalam memberikan efek. Misalnya, pada fitofarmaka berbahan temulawak, sering disebutkan kandungan kurkumin. Informasi seperti ini membantu pembaca memahami fungsi obat secara sederhana tanpa harus memahami istilah yang terlalu teknis.
Sebagai tambahan, masyarakat perlu berhati-hati terhadap produk herbal yang menjanjikan hasil instan.Karena berasal dari bahan alami, fitofarmaka umumnya bekerja secara bertahap dan membutuhkan waktu untuk menunjukkan hasilnya. Oleh karena itu, klaim manfaat yang terlalu cepat sebaiknya diwaspadai.
Dengan memperhatikan kandungan yang tertulis pada kemasan, konsumen dapat lebih yakin bahwa obat yang dipilih termasuk fitofarmaka dan digunakan dengan cara yang tepat. Cara ini dapat melengkapi pengecekan logo BPOM, sehingga pemilihan obat herbal menjadi lebih aman.
Meskipun sama-sama berasal dari bahan alami, obat fitofarmaka, jamu, dan obat herbal terstandar (OBT) memiliki perbedaan yang cukup jelas. Perbedaan ini terutama terlihat dari proses pengujian, dasar penggunaannya, serta tingkat pembuktian manfaatnya.
Sebelum sampai ke tahap uji klinis, fitofarmaka juga melewati uji pra klinik. Pada tahap ini, penelitian dilakukan di laboratorium dan biasanya melibatkan pengujian pada hewan. Tujuannya adalah untuk melihat keamanan awal, potensi khasiat, serta mengetahui dosis yang aman sebelum digunakan oleh manusia. Uji pra klinik ini penting untuk meminimalkan risiko yang mungkin terjadi saat obat dikonsumsi. Dengan adanya tahap ini, pengembangan fitofarmaka menjadi lebih terarah dan aman. Pada jamu tradisional, uji pra klinik umumnya tidak dilakukan secara formal. OBT sudah melalui uji pra klinik tertentu, tetapi standar dan kedalaman pengujiannya masih berbeda-beda, tergantung pada produsennya.
Perbedaan yang paling jelas antara fitofarmaka, jamu, dan OBT bisa dilihat dari uji klinisnya. Fitofarmaka sudah melalui uji klinis pada manusia untuk membuktikan khasiat dan keamanannya. Artinya, obat ini tidak hanya dipercaya karena pengalaman, tetapi juga karena sudah diteliti secara langsung pada manusia dengan metode yang terkontrol. Uji klinis dilakukan untuk melihat seberapa efektif obat bekerja, dosis yang paling tepat, serta kemungkinan efek samping yang bisa muncul. Karena sudah melewati tahap ini, fitofarmaka memiliki tingkat kepercayaan yang lebih tinggi dan manfaatnya bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Sementara itu, jamu umumnya tidak melalui uji klinis formal. Khasiatnya lebih banyak didasarkan pada pengalaman penggunaan dari waktu ke waktu. OBT sudah memiliki dasar penelitian tertentu, tetapi belum sampai pada uji klinis lengkap seperti fitofarmaka. Sebelum ada penelitian modern, masyarakat sudah mengenal jamu sebagai pengobatan alami yang diwariskan dari generasi ke generasi. Setiap keluarga punya resep sendiri, dan takaran atau cara pakainya bisa berbeda-beda. Fitofarmaka memanfaatkan pengetahuan tradisional ini, tetapi dengan pendekatan ilmiah. Tanaman yang sudah lama dipercaya khasiatnya diteliti lebih dalam, dosis ditentukan dengan tepat, dan keamanannya diuji.Dengan begitu, hasilnya lebih konsisten dan dapat dipertanggungjawabkan. OBT berada di tengah-tengah. Bahan yang digunakan tetap berasal dari tanaman yang dikenal secara turun-temurun, namun proses pembuatannya sudah lebih terstandar. Meski demikian, bukti ilmiahnya belum sekuat fitofarmaka.
Memilih antara fitofarmaka, jamu, atau OBT sebenarnya tergantung pada kebutuhan dan tujuan masing-masing. Setiap jenis obat herbal punya kelebihan sendiri, dan perbedaannya bisa dilihat dari beberapa sisi.
Berdasarkan bukti ilmiah, fitofarmaka biasanya lebih diunggulkan. Obat ini telah melewati uji pra-klinik dan uji klinis pada manusia, sehingga manfaatnya bisa dibuktikan secara jelas dan aman. OBT juga memiliki dasar penelitian, tapi uji klinisnya tidak sekomprehensif fitofarmaka. Jamu, di sisi lain, lebih mengandalkan pengalaman turun-temurun. Khasiatnya dipercaya berdasarkan penggunaan yang konsisten oleh masyarakat, tetapi hasilnya bisa berbeda-beda antara satu orang dengan yang lain.
Keamanan dan standarisasi menjadi salah satu keunggulan fitofarmaka. Dosis dan kandungan zat aktifnya sudah terukur, sehingga lebih aman diminum. Obat ini dikemas dalam bentuk kapsul, tablet, atau sirup yang memudahkan penggunaan dan kontrol dosis. OBT juga aman, tapi standar pengolahan dan kandungannya bisa berbeda tergantung produsennya. Sedangkan jamu tradisional, karena dibuat secara manual dan takarannya bisa bervariasi, kadang hasilnya tidak konsisten dan berisiko jika dikonsumsi berlebihan.
Setiap jenis obat herbal cocok untuk tujuan berbeda. Jamu cocok bagi mereka yang menyukai caratradisional dan ingin merasakan pengalaman alami yang diwariskan nenek moyang. Fitofarmaka cocok untuk orang yang ingin mendapatkan khasiat herbal tapi tetap praktis dan modern. Sementara OBT bisa menjadi pilihan bagi mereka yang ingin obat herbal dengan standar tertentu, tapi tidak seformal fitofarmaka.
Soal harga dan ketersediaan, jamu biasanya paling hemat dan mudah dibuat di rumah. Fitofarmaka cenderung lebih mahal karena sudah diproses secara modern dan melalui penelitian, sementara OBT berada di antara keduanya, baik dari segi harga maupun kemudahan mendapatkannya.
Fitofarmaka hadir sebagai jawaban modern dari obat herbal tradisional. Dengan menggabungkan pengalaman turun-temurun dan penelitian ilmiah, obat ini menawarkan khasiat yang jelas, dosis yang konsisten, dan penggunaan yang praktis.
Memilih obat herbal sekarang jadi lebih mudah. Cukup perhatikan logo BPOM, nomor registrasi, dan kandungan yang tercantum di kemasan. Jamu tetap menjadi pilihan bagi yang menyukai cara tradisional, sementara OBT memberi alternatif lebih terstandar namun tetap berbahan alami.
Tidak ada satu obat herbal yang paling cocok untuk semua orang.Pilihan terbaik tergantung kebutuhan dan gaya hidup masing-masing. Dengan memahami perbedaan ini, kita bisa menjaga kesehatan secara aman, praktis, dan tetap memanfaatkan khasiat alam praktis dan tetap efektif.
Oleh: Diva Berliana Salsabila, Fradika Yuza Syahbana, Grace Allesya Sagugurat, Refki Setia Putra, Teguh Setioso.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































