Belakangan ini, istilah deep learning makin sering muncul di dunia pendidikan. Sayangnya, bagi sebagian orang, istilah ini masih terdengar seperti jargon elit—keren di dokumen, tapi asing di ruang kelas. Padahal, deep learning bukan soal teknologi canggih atau konsep rumit. Intinya sederhana: siswa benar-benar paham, bukan sekadar hafal.
Kurikulum Merdeka menjadikan deep learning sebagai ruh pembelajaran. Tapi pertanyaannya, apakah pendekatan ini benar-benar dijalankan, atau hanya berhenti sebagai tulisan di modul ajar?
Pengalaman pembelajaran Ekonomi di SMA Negeri 3 Padang memberi jawaban yang cukup optimis. Deep learning ternyata bukan konsep utopis. Ia bisa hidup di kelas—meski jalannya tidak selalu mulus.
Belajar Ekonomi: Dari “Tahu” ke “Paham”
Dalam pembelajaran konvensional, belajar sering diukur dari satu hal: materi selesai. Tapi deep learning mengubah logika itu. Yang lebih penting bukan seberapa cepat bab dituntaskan, melainkan seberapa dalam siswa memahaminya.
Di mata siswa, Ekonomi sering dianggap mata pelajaran penuh grafik dan istilah. Padahal, Ekonomi justru paling dekat dengan kehidupan mereka: kenapa harga naik, kenapa harus memilih, kenapa uang jajan cepat habis.
Di SMA Negeri 3 Padang, pembelajaran Ekonomi dirancang untuk menjembatani teori dan realitas. Diskusi kelas menjadi ruang utama. Siswa diajak mengaitkan konsep permintaan dan penawaran dengan harga di pasar sekitar, atau fenomena ekonomi yang mereka temui sehari-hari.
Di titik ini, deep learning bekerja. Siswa tidak hanya tahu rumusnya, tetapi mengerti alasan di baliknya. Mereka belajar bertanya, bukan sekadar menjawab.
Guru Bukan “Penceramah”, Tapi Game Master Pembelajaran
Deep learning otomatis mengubah peran guru. Guru bukan lagi pusat informasi, melainkan fasilitator proses berpikir. Di SMA Negeri 3 Padang, kesiapan guru terlihat dari cara mereka membuka ruang diskusi dan perbedaan pendapat.
Siswa diberi kesempatan untuk berargumen, menyanggah, bahkan berbeda pandangan. Proses ini penting, karena pemahaman mendalam tidak lahir dari jawaban tunggal, tetapi dari proses berpikir yang berlapis.
Tentu saja, tantangannya nyata. Tidak semua siswa langsung aktif atau berani bicara. Mengelola diskusi yang bermakna membutuhkan kesabaran dan konsistensi. Guru tidak hanya mengajar materi, tetapi juga membangun budaya berpikir kritis—sesuatu yang tidak bisa instan.
Teknologi: Bukan Sekadar Bikin Kelas “Seru”
Quizizz, Canva, dan berbagai platform digital digunakan dalam pembelajaran Ekonomi. Tapi di sini, teknologi tidak dijadikan tujuan akhir. Ia hanya alat.
Kuis interaktif bukan sekadar adu cepat benar, tapi pemantik diskusi. Media visual bukan sekadar estetik, tapi membantu siswa memahami konsep abstrak secara konkret. Ketika teknologi dipakai untuk menstimulasi analisis dan refleksi, deep learning menemukan momentumnya.
Sebaliknya, tanpa desain pembelajaran yang tepat, teknologi hanya akan jadi hiburan. Dan pembelajaran pun tetap dangkal.
Tantangan: Deep Learning Itu Capek, Tapi Worth It
Pembelajaran berbasis deep learning memang menantang. Diskusi yang terlalu dominan bisa membuat sebagian siswa pasif. Padahal, pembelajaran mendalam menuntut variasi: proyek, studi kasus, simulasi, hingga refleksi personal.
Motivasi belajar siswa yang beragam juga menjadi tantangan tersendiri. Deep learning menuntut keterlibatan aktif, dan itu tidak bisa dipaksakan. Dibutuhkan proses, pembiasaan, dan dukungan berkelanjutan dari sekolah.
Namun satu hal pasti: hasilnya sepadan.
Kurikulum Merdeka dan Pilihan untuk Berani Berubah
Pengalaman di SMA Negeri 3 Padang menunjukkan bahwa deep learning tidak akan hidup hanya karena kurikulumnya berganti. Ia hidup karena guru berani mengubah cara mengajar, dan siswa diberi ruang untuk berpikir lebih dalam.
Kurikulum Merdeka memberi kebebasan, tapi juga tanggung jawab besar. Ketika deep learning dijalankan secara konsisten, sekolah tidak hanya mencetak siswa yang jago menjawab soal, tetapi generasi yang mampu berpikir kritis, mengambil keputusan rasional, dan memahami realitas di sekitarnya.
Pada akhirnya, deep learning adalah tentang keberanian untuk memperlambat proses belajar demi pemahaman yang lebih dalam. Dan di situlah, pendidikan benar-benar punya makna.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































