Makan bajamba adalah tradisi kuliner kolektif masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat, di mana hidangan bajamba—terbuat dari ikan atau daging ayam yang dimasak dengan santan kelapa, cabai, dan rempah-rempah seperti kunyit, jahe, serta lengkuas—disantap bersama dalam kelompok besar. Tradisi ini bukan sekadar aktivitas makan, melainkan ritual sosial yang melibatkan berbagi makanan dari wadah bersama, sering kali tanpa alat makan pribadi, untuk menekankan solidaritas. Bajamba sendiri adalah hidangan gurih dan pedas yang menjadi ikon kuliner Minangkabau, dengan variasi seperti bajamba gulai (lebih cair) atau bajamba lado (lebih pedas). Menurut sumber dari Dinas Kebudayaan Sumatera Barat, tradisi ini mencerminkan nilai gotong royong dan keramahan, di mana makanan menjadi sarana komunikasi antarindividu.
Sejarah
Bajamba berasal dari tradisi kuliner Minangkabau yang berkembang sejak abad ke-16, dipengaruhi oleh budaya Melayu, India, dan Arab melalui jalur perdagangan rempah di Nusantara. Awalnya, hidangan ini muncul di daerah pesisir dan pedalaman Sumatera Barat sebagai makanan sehari-hari nelayan dan petani, menggunakan bahan lokal seperti ikan sungai atau laut. Dalam konteks sejarah, bajamba terkait erat dengan upacara adat Minangkabau, seperti kenduri atau pesta pernikahan, yang menjadi ajang pertemuan komunitas. Sumber terpercaya seperti buku “Sejarah Kuliner Indonesia” oleh penulis akademik (2015) dan artikel dari Kompas.com (2022) menjelaskan bahwa tradisi makan kolektif ini bertahan selama kolonialisme Belanda dan era modern, meskipun mengalami adaptasi. Pada abad ke-20, bajamba menjadi simbol identitas budaya Minangkabau di tengah migrasi penduduk ke kota-kota besar.
Makna
Makan bajamba memiliki makna mendalam sebagai simbol persatuan dan kelestarian budaya. Hidangan ini mewakili falsafah Minangkabau “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah”, di mana makan bersama mencerminkan harmoni antara adat dan agama Islam. Secara filosofis, bajamba melambangkan “kebersamaan dalam keberagaman”, karena semua orang, dari anak hingga tua, berbagi rasa dan ruang yang sama. Menurut penelitian dari Universitas Andalas dalam jurnal Antropologi Budaya Indonesia (Vol. 15, 2019), tradisi ini juga bermakna sebagai bentuk syukur atas hasil panen atau peristiwa penting, di mana makanan menjadi “jembatan” untuk menyatukan jiwa komunitas. Dalam era globalisasi, makna ini membantu menjaga identitas Minangkabau di tengah pengaruh budaya luar.
Nilai Sosial
Tradisi makan bajamba meneguhkan nilai-nilai sosial seperti gotong royong, solidaritas, dan inklusivitas. Dalam masyarakat Minangkabau yang matrilineal, makan bersama memperkuat ikatan keluarga besar (saparuik) dan komunitas, mengurangi kesenjangan sosial. Nilai keramahan tercermin dalam undangan terbuka kepada tamu, sementara kesederhanaan ditunjukkan melalui penggunaan bahan sederhana namun bermakna. Penelitian dari Pusat Penelitian Kebudayaan LIPI (2020) menunjukkan bahwa tradisi ini mendorong empati dan resolusi konflik, karena diskusi santai saat makan sering menyelesaikan perbedaan pendapat. Di tingkat sosial yang lebih luas, bajamba membantu membangun jaringan sosial yang kuat, mencegah isolasi di masyarakat urban.
Proses Pelaksanaan
Jamba berarti dulang berisi nasi dan lauk-pauk yang tersusun. Jamba ditutup dengan tudung saji yang dianyam dari daun enau, lalu di atasnya dilampiri dengan dalamak, kain bersulam benang emas. Makan bajamba dilangsungkan dalam suatu ruangan atau tempat yang telah ditentukan, dan umumnya diikuti oleh lebih dari puluhan hingga ribuan orang yang kemudian dibagi dalam beberapa kelompok. Suatu kelompok biasanya terdiri dari 3 sampai 7 orang yang duduk melingkar, dan di setiap kelompok telah tersedia satu dulang yang di dalamnya terdapat sejumlah piring yang ditumpuk berisikan nasi dan berbagai macam lauk. Meski ѕеmuаnуа sama-sama duduk tegap dаn melingkar dі lаntаі, tеtарі аdа ѕеdіkіt реrbеdааn dі antara peserta lаkі-lаkі dаn реrеmрuаn. Peserta lаkі-lаkі dіhаrарkаn duduk baselo atau bеrѕіlа. Sеdаngkаn раrа perempuan duduk dеngаn саrа bаѕіmрuаh аtаu bеrѕіmрuh. makan bajamba biasanya dibuka dengan berbagai kesenian Minang, dilanjutkan dengan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, hingga acara berbalas pantun.
Contoh Penerapannya
Salah satu contoh penerapan tradisi makan bajamba adalah dalam kenduri kelahiran (baralek) di Nagari Sungai Puar, Sumatera Barat. Di sana, keluarga besar mengumpulkan puluhan orang untuk makan bajamba ikan bersama, memperkuat ikatan keluarga setelah kelahiran anak. Contoh lain adalah di acara “mamak” (pertemuan keluarga besar) di rumah gadang, di mana bajamba ayam disajikan untuk menyambut tamu dari luar daerah, menunjukkan inklusivitas. Di era modern, tradisi ini diterapkan dalam festival kuliner seperti “Festival Bajamba” di Padang, yang diorganisir oleh pemerintah daerah sejak 2018, melibatkan ribuan peserta untuk mempromosikan kebersamaan. Penelitian kasus dari Universitas Negeri Padang (2021) menunjukkan bahwa penerapan ini berhasil meningkatkan solidaritas komunitas, bahkan di kalangan diaspora Minangkabau di Jakarta.
Makan bajamba adalah tradisi yang kaya akan nilai-nilai sosial, memperkuat kebersamaan masyarakat Minangkabau melalui ritual makan kolektif. Dengan memahami aspek-aspeknya, kita dapat menghargai warisan budaya ini dan berkontribusi pada pelestariannya di tengah tantangan modern.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































