Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan terbesar di Indonesia. Kondisi ini terjadi ketika anak memiliki tinggi badan yang jauh di bawah standar usianya akibat kurang gizi yang berlangsung lama. Sayangnya, stunting bukan hanya membuat anak terlihat lebih pendek. Banyak penelitian menunjukkan bahwa stunting juga dapat memengaruhi perkembangan otak dan kemampuan belajar anak.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa stunting biasanya muncul karena kekurangan gizi kronis sejak masa kehamilan hingga dua tahun pertama kehidupan. Pada periode inilah pertumbuhan fisik dan perkembangan otak terjadi sangat cepat. Ketika kebutuhan gizi tidak terpenuhi, dampaknya bisa bersifat permanen.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 menyebutkan bahwa prevalensi stunting nasional berada di angka 21,6%, dan di Maluku mencapai 28,4%. Padahal pemerintah menargetkan penurunan angka stunting menjadi 14% pada 2024. Artinya, masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan.
Faktor Penyebab Stunting dan Perannya pada Pertumbuhan Otak
Kurangnya asupan gizi bukan satu-satunya penyebab stunting. Infeksi berulang dan minimnya stimulasi psikososial juga bisa ikut memperburuk kondisi anak. Kesadaran orang tua terkait gizi pada 1.000 hari pertama kehidupan pun menjadi faktor yang sangat menentukan.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa anak yang tidak mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan memiliki risiko lebih tinggi mengalami stunting. Pengetahuan ibu selama masa kehamilan, termasuk pola makan dan kesehatan ibu, juga berpengaruh besar terhadap kondisi anak setelah lahir.
Lebih jauh lagi, stunting tidak hanya berpengaruh pada tinggi badan, tetapi juga perkembangan kognitif termasuk kemampuan berpikir, memproses informasi, memperhatikan, hingga kreativitas.
Bagaimana Stunting Mempengaruhi Kecerdasan Anak?
Penelitian menunjukkan bahwa stunting dapat menyebabkan perkembangan neuron otak terganggu. Jika kondisi ini terjadi pada masa awal kehidupan, kerusakan yang terjadi bisa bersifat permanen. Anak yang mengalami stunting cenderung mengalami kesulitan belajar, menurunnya kemampuan berpikir, dan nilai akademik yang kurang optimal.
Salah satu penelitian misalnya, menemukan bahwa dari 12 siswa stunting di sebuah sekolah, 11 di antaranya memiliki kemampuan kognitif rendah. Studi lain pada balita juga menunjukkan bahwa anak stunting memiliki kemungkinan lebih dari sepuluh kali lipat mengalami keterlambatan perkembangan kognitif dibandingkan anak yang tidak stunting.
Hal ini menunjukkan bahwa stunting benar-benar memengaruhi masa depan anak, bukan hanya dari sisi fisik tetapi juga kecerdasan dan kemampuan belajar mereka.
Upaya Pencegahan: Fokus pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan
Banyak ahli menekankan bahwa masa 1.000 hari pertama, mulai dari masa kehamilan hingga usia dua tahun, adalah periode yang sangat menentukan. Pada masa ini terjadi pertumbuhan otak dan tubuh secara pesat. Kekurangan gizi pada masa ini dapat menyebabkan dampak jangka panjang.
Dalam sebuah kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh tim dosen dan mahasiswa Biologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), disampaikan bahwa anak usia 6–8 tahun mulai mengembangkan kemampuan berpikir logis dan memproses informasi lebih baik. Karena itu, kondisi gizi sejak dini akan sangat berpengaruh pada kualitas perkembangan tersebut.
Tim tersebut juga melakukan permainan puzzle geometri kepada 112 anak SD di Kupang untuk melihat kemampuan pemecahan masalah mereka. Hasil kegiatan ini kembali menegaskan bahwa kondisi gizi dan stimulasi anak sangat berpengaruh pada kemampuan berpikir mereka.
Stunting, Belajar, dan Masa Depan Anak
Di daerah dengan sumber daya terbatas, stunting sering menjadi hambatan besar dalam proses belajar anak. Mereka cenderung memiliki tingkat kehadiran sekolah yang lebih rendah dan prestasi akademik yang tidak optimal. Kerawanan pangan dan kurangnya dukungan psikososial juga memperburuk situasi.
UNICEF menekankan bahwa kualitas hidup anak sangat dipengaruhi oleh tiga hal utama: nutrisi, kesehatan, dan stimulasi psikososial. Tanpa ketiganya, pertumbuhan anak baik fisik maupun mental akan terhambat.
Penutup
Stunting bukan hanya tentang masalah tinggi badan. Ini adalah persoalan gizi, perkembangan otak, masa depan pendidikan, bahkan kualitas hidup anak di masa depan. Karena itu, pemenuhan gizi, kesehatan ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, hingga stimulasi psikososial perlu mendapatkan perhatian serius.
Dengan peningkatan pengetahuan dan kesadaran masyarakat, serta dukungan berbagai pihak, penurunan angka stunting bukanlah hal yang mustahil.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































