Kepercayaan masyarakat Nusantara terhadap penjaga keseimbangan alam dan kehidupan kembali mengemuka melalui penggambaran enam tokoh spiritual yang dikenal sebagai Eyang Penjaga Nusantara. Keenam sosok ini diyakini memiliki peran penting dalam menjaga harmoni antara manusia, alam, dan dimensi batin yang tidak kasatmata.
Tokoh-tokoh tersebut adalah Eyang Sunan Merapi, penjaga gunung api dan pusat getaran alam; Eyang Sunan Sapujagat, pembersih jagat yang bertugas menata hukum batin agar kehidupan tidak menyimpang; serta Eyang Sapu Angin, pembawa isyarat perubahan halus yang sering hadir melalui tanda-tanda alam dan perasaan manusia. Selain itu, terdapat Eyang Gadung Melati yang menjaga keseimbangan racun dan obat, panas dan dingin dalam kehidupan; Eyang Rama Permadi sebagai penjaga perbatasan antara dunia kasat dan gaib; serta Eyang Wola Wali yang bertugas menjaga titik-titik suci dan amanah kemanusiaan.
Keberadaan para eyang ini diyakini tidak terikat pada satu wilayah tertentu, melainkan menyebar di seluruh Nusantara. Mulai dari gunung, laut, hutan, hingga tempat-tempat yang dianggap sakral oleh masyarakat adat. Mereka dipercaya hadir sebagai penjaga tatanan agar alam tidak murka dan manusia tetap berjalan dalam nilai-nilai kearifan.
Kepercayaan terhadap para Eyang Penjaga Nusantara telah hidup sejak zaman leluhur dan diwariskan secara turun-temurun melalui cerita lisan, simbol, dan ajaran spiritual. Hingga kini, nilai-nilai tersebut masih dijaga oleh sebagian masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Alasan utama keberadaan para eyang ini dipercaya penting adalah untuk menjaga keseimbangan semesta. Dalam pandangan spiritual Nusantara, kerusakan alam, konflik sosial, dan kegelisahan batin manusia kerap dipandang sebagai tanda terganggunya harmoni antara dunia lahir dan batin.
Masing-masing eyang menjalankan tugasnya dengan cara yang berbeda-beda. Eyang Sunan Merapi, misalnya, diyakini menjaga stabilitas energi gunung api agar tidak membawa bencana besar. Eyang Sunan Sapujagat membersihkan kekacauan batin manusia yang menyimpang dari nilai keadilan. Sementara Eyang Sapu Angin menyampaikan peringatan melalui perubahan alam dan firasat. Peran-peran tersebut saling melengkapi demi menjaga keberlangsungan kehidupan di Nusantara.
Penggambaran enam Eyang Penjaga Nusantara ini tidak hanya dimaknai secara mistik, tetapi juga sebagai simbol filosofi hidup masyarakat Indonesia yang menjunjung keseimbangan, tanggung jawab, dan penghormatan terhadap alam serta sesama manusia.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































