Pendidikan karakter memainkan peran krusial dalam membentuk generasi unggul yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga bermoral tinggi dan bertanggung jawab di tengah tantangan era digital. Di Indonesia, 68% remaja alami degradasi moral akibat medsos (Yuliana & Sari, 2024), pendidikan ini menjadi fondasi untuk menangkal degradasi moral remaja, seperti bullying dan pengaruh media sosial negatif, melalui integrasi nilai-nilai seperti Pancasila dalam kurikulum. Pendekatan ini menekankan pembiasaan, keteladanan guru, dan kolaborasi sekolah, keluarga, masyarakat untuk menanamkan karakter sejak dini.
Pendidikan karakter membentuk kepribadian siswa yang holistik, mencegah masalah sosial seperti kenakalan remaja, dan mendukung prestasi akademik melalui disiplin diri. Strategi seperti proyek berbasis nilai (gotong royong, integritas) dalam Kurikulum Merdeka efektif membangun tanggung jawab dan kerjasama pada siswa SD hingga SMA. Selain itu, pendidikan ini memberi bekal hidup bermasyarakat yang adaptif terhadap perubahan sosial, dengan landasan ideologis Pancasila dan yuridis undang-undang nasional. Dan ada pula contohnya seperti Program PPK di SD Negeri Jogja turunkan kenakalan 35% (2023-2024) Dan Proyek gotong royong Kurikulum Merdeka tingkatkan kerjasama siswa 42%.
Tantangan utama meliputi disparitas sumber daya sekolah, kurangnya pelatihan guru, dan pengaruh media sosial yang melemahkan nilai tradisional. Di sekolah negeri, implementasi mengikuti Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), sementara sekolah swasta berbasis Islam menambahkan akhlakul karimah, meski kesulitan muncul saat pembelajaran virtual. Kolaborasi pemerintah, sekolah, dan masyarakat diperlukan untuk mengatasi hambatan ini. Dan ada pula solusi yang bisa di terapkan yaitu dengan mengalokasikan 5% APBN pendidikan untuk pelatihan guru karakter tahunan dan bisa melalui Integrasi asesmen karakter dalam kurikulum nasional.
Pendidikan karakter esensial untuk menciptakan generasi berkarakter unggul yang mandiri, bermoral, dan berkontribusi positif bagi bangsa, dengan implementasi berkelanjutan melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Pemerintah wajib integrasi asesmen karakter ke UN mulai 2026 demi generasi emas 2045.
DAFTAR PUSTAKA.
Nurhayati, S. (2023). Pentingnya pendidikan karakter dalam membangun generasi unggul. Jurnal Pendidikan Karakter, 5(2), 45-58. https://ejournal.aripi.or.id/index.php/jupendir/article/view/288
Sembilanpemuda. (2025). Strategies and challenges of character education at the elementary school level in Indonesia. Jurnal SWSE, 2(1), Article 1198, 1-12. https://ejournal.sembilanpemuda.id/index.php/jswse/article/view/1198
Suarningsih, N. M. (2024). Pendidikan karakter di Indonesia dalam berbagai perspektif (Definisi, tujuan, landasan dan prakteknya). Jurnal JOCER, 1(2), Article 100, 1-15. https://journal.tirtapustaka.com/index.php/jocer/article/view/100
Susilo. (2022). Character education trend in Indonesia. EduLearn, 16(2), Article 20411, 1-10. https://doi.org/10.11591/edulearn.v16i2.20411
Yuliana, E., & Sari, D. P. (2024). Pentingnya pendidikan karakter dalam dunia pendidikan. Jurnal Basicedu, 7(3), Article 7355, 1-10. https://jbasic.org/index.php/basicedu/article/view/7355
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































