Garut, 26 Desember 2025 – Semangat kolaborasi dan keterbukaan dalam dunia pendidikan kembali ditunjukkan oleh seorang Guru Madrasah Kabupaten Garut, Insan Faisal Ibrahim, S.Pd. Di tengah tantangan pendidikan yang terus berkembang seiring pesatnya era digital, Insan menjalin komunikasi aktif dengan salah satu Guru Berprestasi di bidang Sains, Iman Nurzaman, S.Pd., M.Si.P, guru SMAN 19 Garut. Pertemuan lintas jenjang dan lintas naungan kementerian ini menjadi cermin nyata bahwa guru madrasah mampu berbaur, berdialog, dan bertukar gagasan secara setara dengan guru-guru dari satuan pendidikan lainnya.
Pertemuan antara Insan Faisal Ibrahim dan Iman Nurzaman bukan sekadar ajang silaturahmi, tetapi menjadi ruang diskusi yang sarat makna tentang masa depan pendidikan. Keduanya terlibat dalam dialog mendalam terkait pendekatan pembelajaran yang relevan di era digital, di mana peserta didik dituntut tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga kritis, adaptif, serta memiliki literasi sains dan teknologi yang kuat.
Insan Faisal Ibrahim, S.Pd, mengungkapkan bahwa komunikasi lintas jenjang seperti ini sangat penting untuk membuka wawasan dan memperkaya perspektif guru madrasah. “Saya meyakini bahwa pendidikan hari ini tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Guru madrasah harus terbuka, mau belajar, dan mau berdialog dengan siapa pun. Dari pertemuan seperti inilah kita mendapatkan banyak sudut pandang baru untuk menjawab tantangan pendidikan di era digital,” ungkapnya.
Sebagai mantan Instruktur Nasional Bidang Literasi Sains pada program Asesmen Kompetensi Madrasah Indonesia (AKMI), Insan juga menegaskan pentingnya penguatan literasi sains sejak dini. “Literasi sains bukan hanya soal memahami konsep, tetapi bagaimana siswa mampu berpikir kritis, menganalisis fenomena, dan mengaitkannya dengan kehidupan sehari-hari. Ini harus mulai ditanamkan sejak jenjang dasar, termasuk di madrasah,” tambahnya.
Sementara itu, Iman Nurzaman, S.Pd., M.Si.P, turut menyampaikan pandangannya mengenai transformasi pembelajaran di era digital. Menurutnya, guru harus mampu menyesuaikan metode mengajar dengan karakter generasi saat ini. “Era digital menuntut guru untuk lebih kreatif dan adaptif. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk memperkaya pembelajaran, bukan menggantikan peran guru. Justru di sinilah peran guru semakin strategis sebagai pembimbing dan pengarah,” ujar Iman.
Iman juga mengapresiasi semangat guru madrasah dalam membangun kolaborasi lintas jenjang. “Saya melihat guru madrasah memiliki semangat belajar yang luar biasa. Kolaborasi seperti ini sangat positif, karena pada dasarnya tujuan kita sama, yaitu menciptakan pembelajaran yang bermakna dan relevan bagi peserta didik,” tuturnya.
Diskusi antara Insan dan Iman banyak membahas praktik pembelajaran yang menekankan pada riset sederhana, eksperimen, pemanfaatan teknologi digital, serta penguatan karakter. Meski berasal dari jenjang pendidikan yang berbeda, keduanya menemukan kesamaan visi bahwa pendidikan harus membekali siswa dengan kemampuan berpikir kritis, etika digital, dan kesiapan menghadapi perubahan zaman.
Bagi Insan Faisal Ibrahim, pertemuan ini menjadi ruang belajar yang sangat berharga. Ia mengakui bahwa banyak ilmu dan inspirasi yang ia dapatkan dari dialog tersebut. Pengalaman dan praktik baik yang dibagikan oleh Iman akan menjadi bahan refleksi untuk terus mengembangkan pembelajaran di madrasah agar semakin kontekstual dan relevan dengan kebutuhan peserta didik.
Pertemuan lintas jenjang ini sekaligus menegaskan bahwa tidak ada sekat antara guru madrasah dan guru sekolah umum. Kolaborasi, komunikasi aktif, dan semangat saling belajar justru menjadi kunci dalam meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh. Melalui langkah sederhana namun bermakna ini, Insan Faisal Ibrahim dan Iman Nurzaman memberikan teladan bahwa sinergi antarpendidik adalah fondasi kuat dalam membangun pendidikan Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing di era digital.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”







































































