“Beli produk Indonesia” telah menjadi frasa umum dalam iklan kendaraan nasional. Tapi dalam kehidupan nyata, orang tidak hanya membuat pilihan berdasarkan ajakan bertindak. Ada proses logis yang sedang berjalan. Kualitas, pengalaman pengguna sebelumnya, dan bahkan jaminan perawatan purna jual semuanya adalah variabel penting.
Menurut teori psikologi konsumen, ada tiga hal yang memengaruhi keputusan seseorang untuk membeli sesuatu: apa yang mereka ketahui (kognitif), bagaimana perasaan mereka (afektif), dan apa yang mereka anggap benar (normatif). Prosedur penilaian jauh lebih rumit dan memakan waktu lebih lama, terutama untuk barang-barang mahal seperti mobil.
Menarik bahwa masyarakat Indonesia memiliki dua pandangan berbeda tentang sesuatu. Kami memakai batik ke kantor dengan bangga dan menyanyikan Indonesia Raya dengan semangat di stadion. Tapi bagaimana dengan membeli mobil? Anda bisa memilih dari Toyota, Honda, atau Mitsubishi. Bukan berarti mereka tidak mencintai negara, masalah mendasarnya adalah kepercayaan belum terbangun.
Inilah yang dikenal sebagai defisit kepercayaan dimana kurangnya kepercayaan yang timbul dari mendengar cerita buruk, memiliki pengalaman tidak menyenangkan di masa lalu, dan tidak mengetahui seberapa baik produk tersebut. Kisah tentang mobil nasional yang sulit dicari suku cadangnya, mudah rusak, dan kehilangan nilai segera setelah keluar dari dealer telah menjadi legenda urban yang diceritakan orang kepada satu sama lain. karena sebagian besar orang yang menceritakan kisah-kisah itu sebenarnya tidak mengalaminya sendiri.
Mereka hanya mendengarnya dari teman, keluarga, atau bahkan hanya membacanya di forum online.Studi tentang cara orang membeli barang menunjukkan bahwa risiko yang dirasakan, atau risiko yang menurut orang mereka ambil, memiliki pengaruh besar pada apa yang mereka beli. Ini menunjukkan bahwa bukan hanya tentang harga atau fitur, tetapi juga tentang “apa yang bisa salah nanti.” Bahaya hipotetis ini memiliki tiga sisi untuk mobil nasional.
Wajah pertama adalah risiko fungsional: apakah mobil akan bertahan lama? Wajah kedua adalah risiko finansial: apakah uang yang Anda keluarkan sepadan dengan apa yang Anda peroleh, terutama jika Anda ingin menjualnya nanti? Wajah ketiga adalah risiko sosial: apa yang akan dipikirkan tetangga, rekan kerja, atau keluarga besar Anda tentang pilihan ini? Ketiga ancaman ini membentuk tembok mental yang sangat tinggi. Dinding ini akan tetap kuat meskipun produknya bagus karena didasarkan pada persepsi, bukan kenyataan.
Alih-alih menggunakan semangat dan nasionalisme untuk membuat orang memilih, ternyata membiarkan mereka mengalami sendiri lebih efektif. Alasannya sederhana akses terhadap informasi yang komprehensif dan pengalaman praktis mengurangi ketidakpastian. Penelitian pemasaran pengalaman menunjukkan bahwa memiliki pengalaman langsung adalah cara yang bagus untuk membangun kepercayaan.
Data menunjukkan bahwa orang yang dapat mencoba produk dalam konteks kehidupan nyata, bukan hanya uji coba singkat dan formal, memiliki kepercayaan diri yang jauh lebih tinggi terhadap produk tersebut. Ini menunjukkan bahwa konsumen Indonesia sedang mengubah cara berpikir mereka. Dulu kita mengandalkan stereotip dan asumsi (pemikiran heuristik), tetapi hari ini kita bergerak menuju cara berpikir yang lebih berbasis data dan fakta (pemikiran yang terinformasi).
Pikirkan skema di mana orang yang mungkin membeli mobil dapat menyewanya selama dua hari penuh untuk digunakan menjemput dan mengantar anak-anak, berbelanja bahan makanan, atau melakukan perjalanan akhir pekan. Tidak ada penjual di sekitar, jadi tidak perlu khawatir. Pertemuan semacam ini membuat orang lebih saling percaya dan mengubah pandangan negatif mereka terhadap orang lain.
Orang tidak membuat keputusan tentang apa yang akan dibeli dalam kekosongan. Kebijakan pemerintah, ketersediaan infrastruktur, dan narasi nasional secara keseluruhan adalah semua elemen eksternal penting yang mempengaruhinya. Pemerintah telah memilih tahun 2027 sebagai tahun kunci bagi industri otomotif, terutama untuk mobil listrik.
Ada potongan pajak besar-besaran, rencana untuk membangun ribuan stasiun pengisian daya, dan aturan yang mewajibkan penggunaan suku cadang lokal. Konsumen dapat membuat pilihan yang baik ketika aturan jelas dan infrastruktur tersedia.
Kebijakan yang jelas dan konsisten, seperti standar kualitas tinggi dan ketersediaan suku cadang yang terjamin, benar-benar merupakan alat untuk pengambilan keputusan. Di sisi lain, kebijakan yang setengah-setengah membuat pelanggan lebih sulit untuk mendapatkan informasi dan memeriksa klaim, meskipun tidak semua orang bisa melakukannya.
Misalnya, garansi 10 tahun bukan hanya trik pemasaran itu adalah pernyataan bahwa pembuatnya percaya pada produknya. Hal ini sangat mengurangi tingkat stres konsumen. Sederhana saja jika pabrikan bersedia mengambil risiko selama itu, itu menunjukkan mereka yakin produk mereka akan tahan lama. Menarik bahwa orang-orang di sini tidak hanya menerima kebijakan dan iklan secara pasif. Mereka juga berperan aktif dalam menentukan ke mana industri akan berkembang.
Ketika pelanggan menolak suatu produk karena klaimnya salah, atau ketika mereka menyukainya karena jelas, hal itu mengirimkan pesan yang kuat kepada produsen dan pembuat undang-undang. Jadi, apakah Anda membeli sesuatu atau tidak itu seperti memilih. Anda membantu memperbaiki praktik perusahaan yang buruk dan mendorong kebijakan yang lebih baik.
Memang benar bahwa mobil nasional adalah hasil kemajuan teknologi, tetapi pilihan untuk membelinya tidak hanya didasarkan pada teknologi. Pilihan ini berkaitan dengan hal-hal mental, finansial, dan bahkan politik sekaligus. Konsumen di Indonesia semakin cerdas. Mereka tidak mudah tergoda oleh kata-kata manis, tetapi mereka merespons dengan baik terhadap kejujuran dan keterbukaan.
Untuk mencapai target tahun 2027, subsidi dan kampanye patriotisme saja tidak akan cukup. Lebih penting lagi, ini tentang membangun dasar kepercayaan yang kuat. Ini berarti aturan yang jelas, komunikasi yang jujur, produk berkualitas tinggi, dan memberikan informasi yang cukup kepada konsumen untuk membuat keputusan yang baik. Masa depan sektor otomotif nasional akan ditentukan pada titik ini, ketika keputusan masyarakat dan kebijakan pemerintah bertemu.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”










































































