Promosi jabatan merupakan hal yang lazim dalam dunia kerja. Persoalannya, promosi tersebut tidak selalu diiringi dengan kesiapan kepemimpinan yang memadai, sehingga memunculkan tantangan baru dalam pengelolaan sumber daya manusia.
Dalam praktik manajemen sumber daya manusia di Indonesia, sering kali organisasi memberikan jabatan kepemimpinan sebelum keterampilan memimpin benar-benar terbentuk. Seseorang dengan masa kerja panjang, kedekatan struktural, atau kemampuan teknis yang baik bisa saja langsung diangkat sebagai supervisor atau manajer. Proses seperti ini tampak lumrah dan bahkan dipandang sebagai bentuk apresiasi. Namun, ketika kesiapan memimpin tidak disiapkan secara sistematis, konsekuensinya bisa jauh lebih besar daripada yang kita sadari.
Kepemimpinan Bukan Sekadar Posisi Formal
Seringkali, jabatan struktural disalahpahami sebagai bukti kemampuan memimpin. Padahal, kepemimpinan sejatinya adalah kemampuan untuk memengaruhi, mengarahkan, dan mengembangkan insan yang dipimpinnya. Jika pengertian ini tidak dipahami secara tepat, jabatan formal mudah menjadi “sekadar status”, bukan “fungsi yang bermakna”.
Dalam organisasi yang dinamis, terutama di tengah perubahan teknologi dan struktur kerja yang semakin cepat, gaya kepemimpinan yang hanya bergantung pada instruksi dan pengawasan menjadi kurang relevan. Organisasi idealnya dipimpin oleh mereka yang mampu membaca dinamika tim, merangkul perbedaan, serta memberi arahan yang jelas dan adil.
Akar Masalah Muncul dari Promosi yang Tidak Strategis
Dari perspektif MSDM (manajemen sumber daya manusia), persoalan ini bermula dari kesalahan dalam sistem promosi. Jabatan sering dipandang sebagai bentuk penghargaan atas prestasi teknis semata, bukan sebagai amanah strategis yang membutuhkan kompetensi baru.
Pendekatan seperti ini membuat organisasi mengasumsikan bahwa karyawan yang unggul dalam tugas teknis otomatis juga unggul dalam tugas memimpin. Ini tidak selalu benar. Kepemimpinan adalah kumpulan keterampilan yang berbeda dari sekadar kemampuan teknis, dan perlu dikembangkan melalui pelatihan, pemodelan perilaku, dan pengalaman yang terstruktur.
Lalu, Apa Dampaknya pada Organisasi dan Individu?
Tanpa pembekalan yang tepat, banyak pemimpin baru justru mengandalkan gaya yang paling mudah seperti mengontrol, menuntut kepatuhan, atau berfokus pada target jangka pendek. Sekilas, pendekatan ini terlihat “aman”, tetapi dalam praktiknya mampu menimbulkan sejumlah masalah:
Konflik internal meningkat karena arahan yang tidak jelas
Keterlibatan karyawan menurun karena gaya kepemimpinan yang kurang inklusif
Pertumbuhan SDM terhambat karena kurangnya dukungan pengembangan individu
Lebih jauh, rendahnya kualitas kepemimpinan juga memiliki dampak luas pada produktivitas nasional. Berbagai data dan laporan menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan negara lain di kawasan. Seringkali, fokus diskusi tentang produktivitas menitikberatkan pada teknologi atau insentif fiskal. Namun, peran kepemimpinan dalam menciptakan iklim kerja yang sehat dan produktif juga patut diperhitungkan.
Pergantian Karyawan Menjadi Isyarat Masalah Kepemimpinan
Fenomena tingginya turnover, khususnya di kelompok pekerja muda, memberi sinyal bahwa masalah ini tidak bisa dianggap remeh. Banyak pekerja memilih mundur atau menarik diri secara psikologis, bukan karena tekanan kerja semata, tetapi karena pengalaman dipimpin oleh atasan yang belum siap memimpin. Citra “bos yang cuek” atau “atasan yang tidak memberi arah” kerap muncul dalam survei kepuasan kerja, dan itu berdampak nyata terhadap komitmen kerja.
Kritik terhadap fenomena ini bukanlah tudingan terhadap individu yang menjabat sebagai pemimpin. Dalam banyak kasus, pemimpin yang tampil belum matang adalah produk dari sistem yang belum menyiapkan mereka. Sistem tersebut hanya mengukur kinerja teknis, bukan kesiapan memimpin.
Untuk itu, organisasi perlu memperbaiki kerangka manajemen sumber daya manusianya secara menyeluruh. Promosi jabatan tidak boleh lagi dipandang semata sebagai reward atas kerja keras teknis. Sebaliknya, promosi harus dipandang sebagai penugasan strategis yang memerlukan sejumlah kompetensi kepemimpinan.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan organisasi untuk meminimalkan problematika ini antara lain:
Membedakan jalur karier teknis dan kepemimpinan. Tidak semua karyawan yang unggul teknis harus diarahkan menjadi pemimpin struktural.
Memberi pelatihan kepemimpinan sejak dini. Organisasi yang serius mengembangkan SDM sebaiknya memfasilitasi pelatihan kepemimpinan baik sebelum maupun sesudah promosi.
Menerapkan evaluasi berkelanjutan. Kinerja teknis dan kemampuan memimpin harus dinilai secara berbeda namun seimbang.
Kesimpulannya…
Ketika jabatan terus didahulukan, sementara kepemimpinan tidak disiapkan secara matang, organisasi akan terus menghadapi paradoks. Jabatan banyak terisi, tetapi kualitas kepemimpinan tetap terbatas. Ini bukan hanya masalah operasional organisasi, tetapi juga masalah etis dalam pengelolaan sumber daya manusia. Terakhir sebagai penutup, jika kepemimpinan adalah faktor penentu produktivitas dan kualitas kerja, kapan organisasi mulai menyiapkan pemimpin yang benar-benar siap memimpin sebelum memberikan jabatan?
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”











































































