LAMONGAN, 6 Januari 2026 – Perguruan Bela Diri Satria Tunggal, salah satu ikon budaya Lamongan yang berdiri sejak 2 Januari 1970, memasuki usia ke-56 dengan dua kabar penting: penguatan struktur kepemimpinan dan torehan prestasi membanggakan di kancah nasional. Perguruan yang dikenal dengan filosofi “Kucing Hitam”-nya ini menunjukkan geliat regenerasi yang matang, menyinergikan kearifan tradisi dengan semangat pengembangan modern.
Prestasi Terkini: 14 Medali Emas dan Peringkat Nasional
Kabar gembira datang dari gelanggang Kejuaraan Nasional TAPCHA (Tangerang Selatan Pencak Silat Championship) Ke-6 yang digelar 13-15 Desember 2024. Kontingen Satria Tunggal tampil gemilang dengan memboyong pulang 14 medali emas dan berhasil menduduki posisi ke-7 secara keseluruan dari lebih dari 100 kontingen peserta.
“Kami sangat bangga dengan perjuangan dan dedikasi seluruh atlet dan pelatih. Ini adalah bukti nyata kerja keras dan sistem latihan yang kami jalankan,” ujar Arie Setyo Wahyu, Head Coach Satria Tunggal, dalam keterangan tertulisnya. Prestasi ini semakin manis dengan kisah atlet usia dini mereka, Keenan, yang berhasil meraih emas di ajang pertamanya.
Restrukturisasi: Kepemimpinan Baru, Semangat Lama
Menjawab dinamika zaman, Satria Tunggal melakukan penyegaran struktur kepemimpinan. Perguruan kini dipimpin oleh dr. Ahmad Hanan Amrullah, Sp.OT., FICS., seorang dokter spesialis orthopedi yang ditunjuk sebagai Ketua Umum. Latar belakang medisnya diharapkan membawa pendekatan ilmiah dalam pengembangan metode pelatihan dan perawatan atlet.
Operasional harian organisasi dipercayakan kepada Arly Sandra Y.S., Ab. sebagai Ketua Harian, yang akan fokus pada penguatan tata kelola dan administrasi. Sementara itu, untuk menjaga akar dan kemurnian aliran, Dewan Pendekar yang terdiri dari sesepuh H. Mustofa Chamal dan Nunggal akan berperan sebagai penjaga filosofi dan tradisi warisan pendiri, almarhum Bpk. Oedjianto.
Filosofi “Kucing Hitam” yang Tetap Menjadi Jiwa
Di balik semua perkembangan struktural, jiwa Satria Tunggal tetap bertumpu pada filosofi lamanya. Lambang Kucing Hitam yang sarat makna—dengan warna hitam simbol kesabaran, merah simbol keberanian, dan telapak tangan putih simbol perdamaian—terus menjadi pedoman. Motto “Janganlah Hidup di Atas Satria Tunggal, Hidupkanlah Satria Tunggal” menjadi pengingat akan semangat pengabdian dan kebersamaan.
Dengan 13 tingkatan sabuk, perjalanan seorang murid di perguruan ini dirancang tidak hanya untuk mengasah keterampilan fisik bela diri, tetapi lebih utama untuk membentuk karakter dan kepribadian yang utuh.
Menatap Masa Depan: Tradisi yang Tetap Relevan
Kombinasi antara kepemimpinan baru yang progresif, bimbingan dewan pendekar yang arif, dan prestasi atlet yang membanggakan menandai babak baru Satria Tunggal. Di usia yang ke-56 tahun, perguruan ini membuktikan bahwa lembaga tradisional dapat terus berkembang, beradaptasi, dan berkompetisi tanpa harus meninggalkan identitas dan nilai-nilai luhur yang menjadi fondasinya.
Keberhasilan ini tidak hanya menjadi kebanggaan internal, tetapi juga kontribusi nyata bagi pelestarian dan pengembangan pencak silat sebagai warisan budaya bangsa Indonesia.
Kontak untuk Konfirmasi Lebih Lanjut:
Perguruan Bela Diri Satria Tunggal
Lamongan, Jawa Timur
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”






































































