(Rabu, 7 Januari 2026) IHSG kembali mencetak rekor. Angka-angka hijau dipajang di layar televisi, media ekonomi berlomba-lomba memberi judul optimis, dan para analis berbicara dengan nada yang sangat lega. Seolah satu grafik naik sudah cukup untuk menutup semua keresahan yang hidup di luar lantai bursa. Kabar ini dirayakan seperti kabar baik universal, padahal bagi sebagian besar rakyat, rekor IHSG tak lebih dari angka yang hanya numpang lewat di dalam layar ponsel, tak pernah mampir ke dompet.
Grafik memang naik. Tapi grafik itu tidak membayar sewa rumah, tidak menutup cicilan motor, dan jelas tidak menurunkan harga beras. Ia tidak tahu rasanya gaji yang habis sebelum tanggal muda, atau UMKM yang omset pendapatannya stagnan sementara biaya operasional terus menerus naik. Namun entah mengapa, grafik itu terus diperlakukan seolah ia representasi paling sah dari kondisi ekonomi nasional.
Pasar modal itu sejatinya, adalah ruang yang eksklusif. Ia bergerak cepat, sensitif terhadap sentimen global, dan sangat bersahabat bagi mereka yang sudah punya modal, literasi, dan bantalan risiko. Sementara itu, mayoritas masyarakat Indonesia hidup di ekonomi yang ritmenya jauh lebih lambat dan jauh lebih berat. Ketika inflasi naik, yang pertama kali terpukul bukanlah investor dengan portofolio terdiversifikasi, melainkan buruh harian, pedagang kecil, dan kelas menengah yang perlahan kehilangan ruang untuk bernapas.
Di titik inilah ironi mulai terasa pahit. Ketika harga kebutuhan pokok naik, jawabannya adalah “fundamental ekonomi masih kuat kok.” Ketika daya beli melemah, yang ditunjukkan justru pergerakan IHSG. Seolah rasa lapar bisa dinegosiasikan dengan nilai indeks, dan keresahan sosial bisa diredam dengan candle hijau di grafik harian.
Masalah utamanya bukan pada pasar modal itu sendiri. Pasar saham memang tidak pernah diciptakan untuk mengukur kesejahteraan sosial. Masalahnya adalah kebiasaan pemerintah dan “elite” kebijakan yang selalu menjadikan IHSG sebagai alat pembuktian stabilitas. Jika indeks hijau, maka ekonomi dianggap baik-baik saja. Jika ekonomi dianggap baik-baik saja, maka kritik dianggap berlebihan. Pemikiran ini rapi, efisien, dan sayangnya sangat nyaman bagi mereka yang hidupnya memang tidak pernah bergantung pada harga cabai.
IHSG pun akhirnya berubah fungsi. Dari indikator pasar, lalu naik pangkat menjadi tameng politik. Setiap keluhan tentang lapangan kerja, upah, atau mahalnya hidup dijawab dengan statistik makro dan indeks saham. “Lihat, bursa kita kuat kan?” Ya, kuat untuk siapa? Untuk rakyat yang bahkan tidak tahu cara membuka rekening efek, atau untuk mereka yang sehari-hari tidak punya sisa uang untuk dipikirkan sebagai investasi?
Lebih lucu lagi, optimisme pasar sering kali dijual sebagai optimisme nasional. Seolah jika investor percaya, maka rakyat otomatis sejahtera. Padahal kepercayaan pasar tidak selalu sejalan dengan kenyamanan hidup warga. Pasar bisa optimistis di tengah PHK. Bursa bisa di beli di tengah-tengah ekonomi yang merosot. Itu bukan anomali, itu karakter dasar sistemnya.
Pertanyaannya sederhana, tapi seolah-olah sering dihindari, jika kesejahteraan hanya diukur dari sudut pandang bursa, maka rakyat memang tidak pernah dianggap sebagai indikator yang penting. Selama grafik naik, dapur yang mengecil masih bisa ditoleransi. Selama indeks hijau, keresahan sangat bisa ditunda.
Dan mungkin di situlah masalahnya. Kita terlalu sering merayakan ekonomi yang terlihat sehat di layar, sambil mengabaikan ekonomi yang terasa sakit di kehidupan sehari-hari. IHSG boleh mencetak rekor, tapi selama kesejahteraan rakyat hanya menjadi catatan kaki, rekor itu lebih mirip ilusi, indah dilihat, kosong dirasakan.
Syarat dan Ketentuan Penulisan di Siaran-Berita.com :
Setiap penulis setuju untuk bertanggung jawab atas berita, artikel, opini atau tulisan apa pun yang mereka publikasikan di siaran-berita.com dan klaim apa pun yang timbul dari publikasi tersebut, termasuk, namun tidak terbatas pada, klaim pencemaran nama baik, pelanggaran privasi, pelanggaran hak cipta, merek dagang, nama dagang atau pelanggaran paten, berita palsu, atau klaim lain apa pun yang didasarkan pada perbuatan melawan hukum atau kontrak, atau berdasarkan undang-undang negara Republik Indonesia
Selain itu, setiap penulis setuju, untuk membebaskan siaran-berita.com dari semua klaim (baik yang sah maupun tidak sah), tuntutan hukum, putusan, kewajiban, ganti rugi, kerugian, biaya, dan pengeluaran apa pun (termasuk penilaian biaya pengacara yang wajar) yang timbul dari atau disebabkan oleh publikasi berita apa pun yang dipublikasikan oleh penulis.”









































































